
Vanno mempercepat langkahnya agar sejajar dengan langkah Queen, dan sekali lagi memanggil gadis itu.
"Hei!". Sapa Vanno sambil menepuk pundak Queen, membuat gadis itu terperanjat.
"Apa?". Tanya Queen tanpa membalas sapaan dari Vanno.
Gadis ini sungguh dingin! Hem menarik!. Gumam Vanno dalam hati.
"Hei!". Queen melambaikan tangannya didepan wajah Vanno yang mematung.
Seketika Vanno tersadar.
"Ah ya! Apa aku boleh meminta nomor ponselmu?". Tanya Vanno langsung pada niatnya.
Queen mengangkat sebelah alisnya.
"Untuk apa?". Tanyanya.
"Itu... Untuk berteman! Ya berteman, bolehkah?"
"Berteman?". Tanya Queen tidak percaya.
"Tentu saja! Memangnya apalagi! Cepat berikan!". Titah Vanno dengan memaksa, karena dia juga tidak ingin ada yang melihat mereka berdua.
Dasar pemaksa! Untung tampan, jika tidak sudah ku hajar kau!. Gerutu Queen dalam hati.
Dengan terpaksa dia memberikan nomor ponselnya, supaya tidak dipaksa lagi. Sungguh jengkel dengan sifat Vanno yang seenaknya saja itu.
Vanno mencatat apa yang disebutkan oleh Queen, setelah kemudian menyimpan kembali didalam saku celana nya.
"Terima kasih!". Ucap Vanno dan berlalu pergi begitu saja.
"Cih. Pria es! Kuharap memberi nomorku, tidak akan terjadi masalah! Aku tidak mau terlibat dengannya!".
Queen melanjutkan niatnya untuk masuk kedalam kelas. Kedua sahabat Queen terbengong melihat Queen datang lebih awal dari biasanya, saat gadis itu masuk akan masuk kelas.
"Apakah itu teman kita?". Tanya Jessie pada Jasmine.
"Tentu saja! Tapi kali ini beda!". Jawab Jasmine.
"Kali ini dia menjadi siswi tertib!". Timpal Jessie sambil tertawa.
Queen melihat tingkah kedua temannya pun jadi bingung.
"Apa yang kalian tertawakan?". Tanyanya.
Jessie dan Jasmine berhenti tertawa.
"Kau sehabis minum apa Queen?". Tanya Jessie.
"Aku?". Tanya Queen balik, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kau! Tumben sekali kau datang lebih awal kali ini?"
"Yaa... Aku tadi bangun lebih awal, jadi tentu saja datang cepat kesini!". Jawab Queen.
Jessie dan Jasmine hanya berohria saja.
"Apa tugas kalian sudah selesai?". Tanya Queen yang baru saja duduk.
"Tentu saja sudah Queen! Dan kau Jasmine?". Tanya Jessie kepada Jasmine.
"Aku juga sudah selesai!". Jawab Jasmine.
"Bagus lah! Sepulang dari sini kalian temani aku pergi kesuatu tempat!". Titah Queen.
"Kemana?". Tanya Jessie.
"Rahasia! Kalian tinggal ikuti saja kemana aku pergi!". Ucap Queen.
Queen sengaja tidak memberi tau mereka, supaya tidak ada penolakan terutama pada Jasmine.
°°°°°
Di kantin, Vanno merenungi ponselnya yang ia letak diatas meja sambil melipat kedua tangannya diatas perut. Terlihat ada raut kebingungan diwajah tampan Vanno, melihat benda pipih itu.
Vanno duduk seorang diri disalah satu meja, kedua sahabatnya entah kemana sejak mereka usai kelas.
Apa harus sekarang? Tapi rasanya canggung sekali! Ya tuhan! Aku lebih baik mendapat masalah lain dari pada harus berurusan dengan wanita.
Tidak hentinya Vanno merutuki dirinya yang tidak berani terhadap seorang gadis, namun ia juga tidak punya pilihan lain.
Akhirnya setelah sekian lama merenung dan berfikir matang, Vanno memutuskan untuk mengetik sesuatu disana.
~Vanno~
Ada dimana?
Ternyata pesan itu ia tulis untuk temannya, bukan untuk Queen.
Ting... Satu pesan masuk.
~Nathan~
Ditaman belakang! Sebaiknya kau segera kemari!
~Vanno~
Tanpa bartanya lagi, Vanno segera beranjak dari duduknya menemui Nathan.
Diperjalanan semua mahasiswi menatap kagum kepada Vanno, ada juga yang mengklaim bahwa Vanno adalah kekasihnya.
Tibalah Vanno ditempat dimana Nathan berada. Disana Nathan tidak sendirian, dia bersama Jimmy dan ada tiga orang gadis disana. Siapa mereka?
Dikarenakan posisi Vanno arah dari belakang mereka, jadi dia hanya bisa menebak bahwa mereka itu adalah penggemar berat Nathan dan Jimmy.
Vanno sudah berada dibelakang mereka, lebih tepatnya dibelakang salah seorang gadis dengan tampilan sederhana.
"Ada apa?". Tanya Vanno to the poin, membuat gadis didepannya refleks berbalik dan netra mata mereka bertemu cukup lama.
Suara berat khas Nathan membuat mereka melepaskan tatapan masing-masing.
"Eh Vanno! Kau disini?". Tanya Nathan pura-pura tidak tau.
"Jika tidak!? Bukankah kau yang memanggilku kemari?". Jawab Vanno dengan datar.
Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh iya... Aku lupa!"
"Dan ya... Aku menyuruhmu kemari karena tidak sengaja bertemu mereka disini! Jadi aku ingin memperkenalkan mereka padamu!". Sambung Nathan sambil menunjuk tiga gadis itu dan mengedipkan sebelah matanya pada Vanno.
Rencana apalagi ini?. Gumam Queen dalam hati, sambil melirik tajam kearah Nathan dan Jimmy bergantian.
Paham akan maksud perkataan Nathan, Vanno mengulurkan tangannya terlebih dahulu kepada Jasmine dan Jessie bergantian, setelah itu ia mengulurkan tangannya kepada Queen.
"Vanno!". Ucap lelaki itu singkat.
Queen membalas uluran tangan itu dan menyebutkan namanya.
"Queena!". Balas Queen sama singkatnya dengan Vanno, mereka bagaikan sepasang boneka kayu tidak ada senyuman dan keramahan diwajah keduanya.
Tapi Vanno masih menatap mata Queen, seolah dimata itu dia menemukan sesuatu disana.
"Sudahlah Van! Kau membuat dia takut dengan tatapanmu yang mematikan itu!". Seru Jimmy menegahi.
Seketika itu juga Vanno melepas retinanya dari Queen.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padanya Van?". Bisik Jimmy ditelinga Vanno, membuat lelaki itu seketika merinding.
"Apa yang harus aku katakan? Lagi pula, ada dua temannya itu!". Vanno balik berbisik pelan, dan melirik Queen dan sahabatnya yang tengah berbincang dengan Nathan.
Nathan hanya mengalihkan perhatian gadis-gadis itu, supaya Vanno berfikir sejenak akan keputusannya.
"Kau tinggal dimana Jasmine?". Tanya Nathan dengan lembut, membuat gadis itu memicingkan matanya tidak percaya.
Nathan yang dikenal tidak kalah dingin dengan Vanno, mendadak berubah saat berhadapan dengan Jasmine.
Tapi Jasmine berusaha tidak curiga padanya.
"Tentu saja tinggal dirumah! Dimana lagi?". Ketus Jasmine sambil melipat kedua tangannya diatas perut.
"Iya aku tau, maksudku dimana alamat rumahmu?". Jawab Nathan dengan tersenyum.
Astaga, Nathan benar-benar berubah banyak bicara saat didepan Jasmine. Sementara Queen dan Jessie hanya diam memperhatikan mereka.
"Apa perlu aku jawab?". Tanya Jasmine.
"Tentu saja!". Jawab Nathan antusias.
"Tidak perlu! Lagi pula apa gunanya aku memberi tau dirimu!".
"Gunanya supaya aku bisa datang berkunjung kerumahmu untuk berkenalan dengan keluargamu!". Ucap Nathan mantap.
Entah dorongan dari mana, dia spontan mengatakan itu pada Jasmine. Yang jelas, ada sedikit ketertarikan untuk mengenal lebih dekat.
"Cih. Dasar lelaki hidung belang!". Umpat Jasmine dengan lantang.
"Ada apa Jasmine?". Tanya Queen mendengar umpatan Jasmine.
"Eh! Tidak ada, hanya seekor lebah mencari madu!". Ucap Jasmine sambil melirik Nathan dengan tajam.
Sedang Nathan hanya menahan senyumnya, sesekali melirik Jasmine.
Gadis yang menarik!. Gumam Nathan.
Setelah Jimmy memberi saran pada Vanno, lelaki itu juga menghampiri Jessie. Jimmy berjalan mendekat ke arah Jessie ayng tengah memainkan ponselnya.
"Ekhem!". Jimmy berdehem untuk membuyarkan Jessie dari ponselnya, tapi tidak dihiraukan gadis itu. Sebenarnya Jessie sadar jika ada yang mendekatinya, namun dia hanya diam saja seolah tidak menyadari Kedatangan Jimmy.
"Apa aku mengganggumu cantik?". Tanya Jimmy sambil memandang wajah Jessie.
Iya, kau mengganggu!. Gumam Jessie dalam hati.
Jimmy tidak kehilangan akal, dia terus mendekati Jessie yang tidak menghiraukan dirinya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?". Tanyanya lagi.
"Tidak!". Ketus Jessie.
"Ayolah! Aku hanya ingin berteman denganmu!". Bujuk Jimmy dengan muka melasnya.