
Baru kali ini rasanya Clara melihat sikap Aeron yang kekanak-kanakan. sejak tadi sudut bibir kanan Aeron terangkat ke atas, itu jelas sekali menunjukan jika ia memandang remeh lawan bicaranya, dan bisa jadi otak sebelah kirinya juga sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
Lain hal nya dengan Regan, laki2 itu terlihat begitu kaku. senyuman nya yang begitu lebar menandakan Jika dirinya sedang berpura-pura menikmati suasana.
Sedangkan Justin lebih memilih untuk diam dan sekali-kali mencuri pandang kepada wajah cantik Clara.
Sementara Vincent sudah membaur dengan baik mengikuti suasana, laki2 itu sudah terlihat akrab dengan Michael dengan banyak bertanya tentang Rena.
Bosan dengan suasana seperti ini Clara memutuskan untuk segera pergi,, lebih baik dia bergabung dengan para wanita dan bergosip ria “sayang bolehkah aku pergi?” ujar nya lirih.
“Kemana?”
“Aku ingin bergabung dengan Bella dan yang lainnya”
“Baiklah, aku antar”
“Tidak usah aku sendiri saja, lagi pula masih di sekitar sini” tolak Clara.
Aeron mengangguk memberi izin.
Clara pun segera berjinjit memberikan sebuah kecupan terima kasih di sudut bibir Aeron kemudian sebelum pergi ia membisikan sesuatu “aku mendukung rencanamu”.
Aeron tertawa, dia tidak menyangka jika Clara dapat membaca ide jahil nya, “ya sudah pergilah” ucap Aeron masih dengan senyum mengembang.
Aeron kembali sibuk berbincang dengan Michael ditambah lagi Eric sudah ikut bergabung dengan mereka.
Justin pun mulai mengakrabkan diri nya, mereka begitu antusias saat Michael memberikan beberapa contoh desain bangunan hasil karya nya bersama Asta kekasihnya.
desain yang akan Aeron gunakan untuk membangun sebuah villa berukuran besar yang akan ia persembahkan untuk Clara.
Eric dan Justin juga begitu bersemangat mereka juga ingin memberikan ide2 mereka untuk Clara orang yang mereka sayang.
tapi tidak dengan Regan. dia nampaknya sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesal karena walau bagaimana pun tempat ini dulu adalah milik nya dan Clara adalah wanita yang selama ini ia cintai.
Regan memilih untuk pergi berkeliling daripada hatinya semakin panas terbakar.
dari jarak 10 langkah samar-samar ia mendengar suara seseorang sedang berbicara, karena penasaran dia pun berjalan mendekati ternyata orang itu adalah Clara.
Matanya berbinar dan senyum sejuta arti terbit dibibirnya ketika melihat gadis yang ia claim sebagai cinta sejatinya itu sedang sendirian. ia berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara.
Clara yang terlalu serius menerima telepon tidak menyadari jika Regan sudah berdiri di belakangnya.
Sampai pada saat kedua tangan kekar melingkar erat di perutnya ia secara reflek menjatuhkan hp miliknya yang masih tersambung.
“Lepas, Lepaskan tangan mu brengsek” teriak Clara memaki
Tapi namanya tenaga wanita tidak akan bisa menyayangi tenaga seorang pria apalagi jika orang tersebut sedang diselimuti rasa cemburu.
Bukannya melepaskan Regan justru malah mempererat pelukannya, ia menarik sebelah tangan Clara menekannya kebelakang.
tanpa tahu malu dia meletakkan dagunya di pundak Clara dan berbicara layaknya sepasang kekasih, “aku sangat menyukai wangi tubuh mu” ucap Regan mengenduskan hidungnya ke balik telinga Clara “Wangi yang sangat nyaman dan memabuk kan” ucapnya semakin menggila.
“Regan Lepaskan, atau aku akan berteriak” ancam Clara mulai merasa muak saat Regan mengecup tekuk lehernya bermain2 di area sensitifnya “silahkan” sahut Regan dengan suara datar.
Dari seberang telepon Martin yang masih bisa mendengar, langsung mengakhiri sambungan.
Clara masih sekuat tenaga mencoba melepaskan diri dari pelukan Regan yang mengunci sebelah tangan nya dengan kencang sampai terasa nyeri di pundak hingga ke sikut nya tapi semua pergerakan Clara hanya sia-sia saja, tenaga Regan jauh lebih besar dari nya.
Saat tiba Aeron bisa melihat bagaimana Regan melecehkan gadis nya. ia langsung menarik kasar tubuh regan dan melayangkan sebuah bogeman mentah di wajah Regan, laki2 itu tersungkur ketanah dengan luka robek disudut bibirnya.
Regan segera berdiri, dan membalas apa yang Aeron lakukan, hingga baku hantam antara keduanya tidak bisa di elakan lagi.
Mereka para lelaki berlarian menyusul Aeron yang entah mengapa setelah menerima telpon raut wajahnya berubah sangat mengerikan.
Eric yang telah lebih dulu tiba langsung melerai adik nya yang sedang berada di atas tubuh Regan dan memukuli laki2 itu secara membabi buta.
“Evan, Hentikan kau bisa membunuh nya” ucap Eric menarik kuat tubuh Aeron.
Eric mengunci gerakan Aeron dia memberi kode kepada yang lain agar segera membawa Regan pergi, sebelum Aeron kembali memukuli laki-laki itu.
Clara langsung menenangkan emosi Aeron yang masih membuncah, dia langsung memeluk tubuh Aeron dan terisak “sayang ku mohon hentikan” ucapnya dengan air mata mulai menetes
Mendegar isakan Clara, Aeron perlahan mengendurkan kepalan tangan nya dan mengalihkan pandangannya kepada gadis yang saat ini memeluk erat dirinya.
“apa kau baik-baik saja?” tanya Aeron khawatir
“Ya aku baik-baik saja” jawab Clara “kita ke kamar aku akan mengobati luka mu” Aeron tidak menjawab tapi dia menuruti ucapan Clara.
Setelah dua langkah ia membalikan badan, dan berkata dengan lantang “Hari ini aku membiarkanmu pergi, tapi tidak untuk lain kali” ucap nya dengan suara berat menahan amarah “Clara adalah milikku, aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuh nya, walaupun hanya seujung kuku” ucap Aeron mempertegas hubungan mereka.
Justin hanya diam tak bergeming dia mencoba berpikiran jernih.
Dia tidak akan melakukan kesalahan bodoh seperti regan, karena dia sadar wanita yang ia inginkan saat ini berbeda dengan wanita yang selama ini ia kencani.
seorang gadis yang benar-benar ingin ia jadikan pendamping hidup nya, ibu dari Anak-anak nya kelak.
Justin sudah memiliki rencananya sendiri untuk merebut Clara.
“Lebih baik kita segera kembali” ucap Justin kepada Vincent.
Vincent pun segera berpamitan kepada Kevin, “maaf atas kekacauan ini” ucapnya dengan mimik wajah bersalah “sampaikan juga maaf ku kepada Aeron dan Clara”
Kevin mengangguk dan menepuk pundak vincent “ini bukan kesalahanmu, semua ini kesalahan nya sendiri” tunjuk kevin penuh emosi.
Alen baru saja tiba saat semua nya telah berakhir. di perjalanan tadi ia bertemu dengan Aeron & Clara, ia melihat luka lembam di wajah Aeron. dia pun bertanya tetapi Aeron tak menjawab bahkan mengacuhkan nya, dan Clara memberi kode mata agar ia segera mencari yang lain.
Secara garis besar Alen sudah bisa menebak apa yang telah terjadi ketika melihat wajah Regan yang penuh luka dengan darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
tapi untuk mengetahui lebih detail dia pun bertanya kepada Kevin “Kev apa yang terjadi?” tanya nya
“Kau pasti bisa menebak nya sendiri” jawab kevin tak ingin menjelaskan sesuatu yang pastinya sudah Alen ketahui
Vincent beralih menghampiri Alen sebelum melangkah pergi, “aku pulang dulu” ucapnya berpamitan.
Eric tak melepaskan tatapan tajam nya sedikitpun kepada Regan.
Eric tau jika Regan adalah cucu dari pembunuh ayahnya.
jika saja tidak banyak orang mungkin saja tadi dia tak akan menghentikan Aeron tapi justru akan membantu nya menghajar Regan hingga tak bernyawa.