
Taburan bintang berkilat mempesona dengan rembulan ketika saling bersanding berpasangan memantulkan cahaya pada langit malam yang cerah.
Cahaya temaram dari lampu taman masih setia menemani ketiga gadis yang sedang mencoba mencari jalan keluar terbaik dari masalah yang sedang shasa hadapi.
Setelah dirasa sudah tidak ada lagi Hal yang harus mereka bahas Clara mengajak kedua sahabatnya itu untuk masuk karena dinginnya angin malam sudah mulai terasa menusuk kekulit “Ayo kita masuk” ajaknya yang mendapat anggukan dari keduanya.
Saat kaki clara akan melangkah tiba-tiba Bella menghentikannya, “tunggu dulu” ucapnya sambil menepuk pundak Clara yang telah membelakangi nya “aku lupa menanyakan sesuatu kepadamu” ujar bella.
“Apa?” jawab clara dengan raut wajah menunggu
“Aku ingin bertanya, sebenarnya apa alasan Aeron melakukan ini semua?”
“maksudmu?” tanya balik clara.
“Apa kau benar-benar tidak mengerti maksudku?” tanya bella dengan sorot mata menyelidik
“jika maksudmu ingin menanyakan, mengapa kita bisa sampai terjebak di dalam rencana aeron? Kau tanyakan saja itu kepada kekasihmu, dan ini juga tidak luput dari kesalahan mu!” jawab clara dengan wajah sedikit sebal.
Pupil mata bella melebar sebelum kembali bertanya “Hah? apa?” tanya nya dengan raut wajah semakin tidak mengerti
“Sudah kita tidak punya waktu untuk membahasnya sekarang, yang terpenting saat ini adalah urusan shasa” ujar Clara mulai melangkah meninggalkan bella yang masih berdiri diam mencerna kata2 yang diucapkan sepupunya itu.
“Heyy re, tunggu dulu! Kau harus menjelaskannya kepadaku” ucap bella sambil berlari menyusul Clara yang mulai berjalan menjauh bersama shasa.
“Kan tadi sudah aku bilang, jika kau ingin tahu maka tanyakan lah kepada kekasihmu itu”
“Maksudmu Kevin” tanya bella dengan bodohnya
“Memang siapa lagi kekasih mau selain Kevin?” ucap clara yang disambung galak tawa shasa
“Tapi apa hubungannya dengan Kev--?”
“Ssttt” potong Clara dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri membuat bella mencabikan bibir dan menghentakkan sebelah kakinya persis sekali seperti anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan permen.
Tidak ingin mendengar pertanyaan lagi keluar dari mulut cerewet bella, Clara langsung menyambar daun pintu kemudian mendorongnya.
Ketika pintu terbuka mereka melihat ketiga laki-laki itu saling diam seperti seseorang yang kalah dalam permainan Judi, padahal tidak seperti itu kenyataannya.
Mereka bertiga sedang sibuk dalam pemikiran masing-masing sehingga tidak menyadari keberadaan jika ketiga gadis itu sudah kembali.
Saat mereka bertiga dengan serempak menjatuhkan tubuh di atas sofa barulah ketiga laki-laki itu terperanjat.
“Kalian ini seperti siluman saja datang2 mengagetkan ku” protes Kevin memegangi jantungnya.
“Sudah lebih sepuluh menit kami berdiri dipintu tapi kau tidak melihatnya? apa kau memikirkan hal2 kotor hingga begitu asik nya?” tuding bella asal bicara.
“Honey jangan menuduhku yang tidak2! bagaimana mungkin aku berani melakukan nya sementara ada siluman cantik yang terus mengawasi ku” ucap Kevin mulai memancing emosi bella
“Apa kau bilang aku ini siluman? kau fikir kedua orang tua ku berasal dari bangsa jin” balas bella dengan melemparkan batal sofa.
Akhirnya perdebatan kembali terjadi antara Bella dan Kevin. sungguh tom and jerry versi manusia.
Aeron memijit pelipisnya sedikit pusing karena mendengar perdebatan tak bermutu antara bella dan kevin.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya, dia memperkirakan jika Eric akan tiba beberapa jam lagi. maka dari itu lebih baik mereka beristirahat dulu.
“Aku kira lebih baik kita pergi beristirahat terlebih dahulu” ucapnya menengahi pertengkaran antara kevin dan Bella.
Mereka semua mengangguk sebagai tanda setuju.
“Kev kau akan satu kamar dengan Alen, dan Bella kau temanilah shasa” ucap Aeron yang terdengar seperti perintah.
“Kenapa harus seperti itu?” tanya Alen berniat untuk protes
Aeron menatap tajam kepada Alen sebelum berkata; “Karena aku tidak ingin kau menjalankan rencana gila mu”
“Tapi apa perlu aku menemaninya?” kali ini suara Kevin yang terdengar keberatan “lagipula mereka tidur di kamar yang terpisah, jadi aku tidak harus menemani nya, iya kan Honey?” tanya Kevin kepada kekasihnya berharap jika bella akan mendukungnya
“Tidak aku kira Aeron benar aku akan menemani Shasa malam ini” jawab bella santai dengan senyuman mengejek ia sematkan did bibirnya.
Kevin akhirnya mendengus sebal mendengar jawaban dari kekasihnya itu.
“Kalau begitu kalian juga tidak boleh satu kamar” ucap Kevin menunjuk ke Aeron dan Clara dengan bibirnya
“Iya itu pasti” jawab Aeron berbohong.
lagipula dia sudah memiliki janji dengan Eric malam ini untuk bicara tentunya harus ada Clara yang membantunya.
_____________
Setelah berjam2 berada diatas udara akhirnya Eric sampai juga disebuah pulau yang menjadi tempat tujuannya.
Hari sudah sangat gelap saat ia tiba. karena sebelumnya Martin telah menghubunginya mengatakan jika Aeron menunggunya maka Eric langsung menelpon adik angkatnya itu sebelum menemui shasa.
Aeron mengangkat telpon Eric di sambungan nada pertama.
“Evan aku sudah tiba” ujar Eric diseberang telpon
“kau tunggulah sebentar aku akan segera menjemput mu” ucap Aeron mengakhiri panggilan.
Ia langsung menyambar jaket hitam yang sejak tadi diletakkannya di atas sofa kemudian mengambil kunci kontak mobil.
Sekilas iya menoleh menatap clara yang sudah tertidur pulas sebelum menarik daun pintu.
Tidak sampai lima menit Eric menunggu, Aeron sudah datang mengendarai mobilnya.
Setelah mematikan mesin mobil Aeron segera keluar menghampiri Kakak angkatnya itu. Mereka saling menyapa kemudian berpelukan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Eric
Aeron tersenyum sebelum menjawab “seperti yang kau lihat”
Biar aku bawakan, ucap Aeron ketika melihat Eric mengangkat kopernya. “apa isinya? mengapa berat sekali?” tanyanya
Eric terkekeh kecil mendengar pertanyaan Adik angkatnya itu “itu semua adalah milikmu” ucap Eric membuat bingung
“maksudmu?” Tanya aeron tidak mengerti
“itu semua adalah titipan mama untukmu” jelas Eric,
Erik mengedarkan pandangannya sebelum bertanya, “kau datang sendiri? Dimana yang lainnya?”
Aeron yang mengerti maksud dari pertanyaan Eric langsung menjelaskan “mereka semua sudah tidur, bella menemani Shasa” ucapnya diselingi dengan senyuman “jika kau mencari Clara dia tertidur setelah bosan menunggumu terlalu lama”
“Ayo” ucap Aeron membukakan pintu mobil untuk Eric setelah terlebih dahulu memasukan koper kedalam bagasi.
“Terima kasih” balas Eric
Aeron membawa Eric ke kamar yang berada tepat disamping kamarnya.
setelah menurunkan barang titipan mamanya, dia menawarkan minuman untuk Eric “kau ingin minum apa?”
“Wine saja jika kau memilikinya” Jawab Eric
tak lama Aeron sudah datang dengan satu botol wine dan dua gelas kosong berada di tangan kanan nya.
Eric langsung memutar2 gelasnya lalu menghirup Aroma minuman favorit nya itu, kebiasaan yang selalu ia lakukan sebelum menyesap nya, “salah satu wine terbaik” ucapnya setelah meneguk setengah dari wine yang ada digelasnya.
“Bagaimana kabar mama?” tanya aeron membuka obrolan
Mata Eric menatap lurus kedepan, seakan sedang menerawang raut wajah wanita yang telah merawatnya selama ini, “Mama dia sangat merindukan mu” ucapnya kemudian memberi kan sedikit jeda “Aku harap kau tak membencinya setelah semua yang sudah terjadi”.
Eric kembali menegak wine yang masih tersisa digelasnya sebelum kembali melanjutkan kata2nya; “Apa kau tau jika selama bertahun2 ini mama selalu menagis di setiap malamnya? dia sangat takut jika kau sampai membencinya. terlebih setelah dirimu mengetahui tentang Elan, mama semakin tidak bisa tidur setiap malamnya” ucap Eric dengan raut wajah sedih.
“Aku tidak pernah membenci mereka, terutama mama karena aku mengerti kesulitan yang mereka hadapi”
Eric menghadapkan wajah nya menatap lekat ke manik mata Aeron, “jika begitu mengapa sudah lebih satu minggu kau tak menghubunginya dan menolak mengangkat telpon dari nya?” tanya Eric
“Aku--, aku belum siap untuk bicara saja” jawab Aeron sedikit terbata.
“Aku mengerti perasaan mu” ujar Eric menepuk2 pundak adik angkatnya itu “tapi aku berharap jika secepatnya kau mau menelpon nya walau hanya sekedar menanyakan kabar saja”
“Ya, pasti akan aku lakukan”
Setelah cukup berbasa-basi Eric menegakkan posisi duduk dengan kedua lutut ia biarkan terbuka, lalu bertanya “Aeron sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan kepada ku?” tanya Eric mulai memasang raut wajah dingin
“Hanya Obrolan sesama laki-laki”