
Tepat sedetik setelah sambungan telpon terputus kedua bola mata mereka saling beradu, seakan saling bertanya dalam diam “Apa yang sebenarnya telah terjadi?”
Kevin yang sudah mengenakan atasan berupa kaos polos berwarna putih dengan bawahan hanya sebuah boxer memposisikan tubuhnya ditepi tempat tidur, ia duduk tepat disisi bella.
Mulutnya terasa gatal menahan rangkaian huruf yang sudah berada diujung bibirnya, dengan raut wajah penasaran Kevin mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi masih ia simpan didalam hatinya; “Sayang sebenarnya apa yang telah terjadi mengapa tadi Om mu mengatakan bahwa Shasa akan segera bertunangan?” tanya Kevin sambil memegang kedua pundak bella menuntut sebuah penjelasan.
Bella menggelangkan kepalanya sebagai jawaban kemudian memutar wajahnya menghadap kearah kevin sebelum menjawab secara lisan “Entahlah!” ucapnya singkat karena memang saat ini dia mungkin juga Clara masih tidak mengetahui tentang hal itu.
“Kev aku harus menemui shasa dan bertanya kepadanya! dan bagaimana dengan Re? apa aku juga bisa menemuinya? entah mengapa aku juga yakin jika dirinya tidak mengetahui tentang hal ini!”
Kevin mengerutkan kedua alisnya merasa aneh saja jika mereka sampai tidak mengetahui hal sebesar seperti ini, kevinpun kembali bertanya; “mengapa kalian berdua sampai tidak mengetahui hal sepenting ini?”
Bella mendengus kesal sebelum berkata; “itu semua karena ulah kalian!” jawabnya dengan bibir melengkung kebawah.
Kevin mengernyitkan dahi dan kedua bahunya ikut terangkat pertanda jika dirinya tidak mengerti akan maksud dari tuduhan bella.
Tanpa menunggu pertanyaan itu keluar dari mulut Kevin maka bella langsung menjelaskan alasan nya; “itu semua karena kami berdua terlalu sibuk mengurusi rencana konyol kalian!”. bella menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kembali ucapannya; “Awalnya kami mengira jika orang yang memaksa kami untuk bertemu itu adalah musuh jadi kam--i terus giat berlatih sampai melupakan Shasa”. bella mendengus kesal sewaktu mengingat hal itu dengan nada ketus dia kembali memarahi kevin “jadi sekarang kau tahu betapa menyebalkannya dirimu ini!” ucap bella memukul dada Kevin dengan mengapalkan tangan kanannya.
Nada bicara bella yang mulai meninggi dan terdengar ketus serta kesal membuat Kevin langsung memutar otaknya untuk membujuk gadisnya itu, “iya! iya, aku mengaku salah sayang, aku memang bodoh lain kali aku akan belajar lebih giat lagi agar menjadi pintar” ucap Kevin tak nyambung karena menahan tawanya membayangkan betapa jengkelnya hati bella saat itu, dengan memasang puppy-eyes dia kembali memohon; “jadi bisakah kau memaafkanku kali ini?” pinta kevin dengan suara lemah lembut.
Bella menarik kedua sudut bibirnya keatas lalu terdengar suara tawa yang begitu renyah keluar dari mulut mungilnya, bella menarik hidung mancung Kevin sebelum berkata; “aku sudah memaafkanmu. tapi kau harus ingat tidak ada kata kedua kalinya atau aku akan benar2 marah kepadamu dan jangan salahkan aku jika wajah ini” ucap bella sambil menekan memar disudut pipi kevin sebelum lanjut berkata; “akan berubah warna ungu bahkan merah”. ucap bella bernada ancaman.
Seketika kevin tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari kekasihnya itu, “kalau begitu terima kasih atas kebaikan hatimu sayang yang telah sudi memaafkan calon suamimu yang bodoh ini dan aku akan selalu memastikan jika wajah ini akan tetap tampan tanpa sedikitpun makeup buatanmu” balas Kevin dengan masih terkekeh. mereka berdua pun akhirnya tertawa.
“Sayang cepatlah kau pergi mandi! aku sudah sangat lapar dan kita juga harus mencari mereka” ucap bella kemudian.
Kevin menggeleng kecil sebelum berbicara “Aku tidak mau mandi dan aku juga tidak lapar bahkan aku tidak memiliki nafsu untuk makan sedikitpun!” Canda Kevin kemudian bibirnya menghampiri telinga bella dan berbisik “kecuali nafsu untuk memakanmu”.
Ucapan kevin langsung disambut bella dengan plototan serta cubitan “Ke--vin” geram bella memanggil nama kekasihnya itu yang selalu saja berfikiran mesum.
Melihat keseriusan diwajah bella membuat kevin mengalah lagipula mereka masih mempunyai banyak kesempatan “Oke baiklah aku akan pergi mandi, tapi kita akan melanjutkan yang sempat tertunda tadi setelah aku selesai nanti” ucap Kevin diiringi sebuah kedipan mata.
Mata bella semakin membulat saja mendengar ucapan kevin yang selalu menjurus kehal2 mesum.
karena tidak ingin menambah kembali blush-on berwarna ungu alami diwajahnya maka dengan cepat kevin langsung beranjak pergi ke dalam kamar mandi dengan langkah setengah berlari.
15 menit kemudian ...
Kevin keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sebuah handuk putih dipinggangnya dan sebuah handuk kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang nampak masih basah, itu semua terlihat jelas saat tetesan air menuruni keningnya.
Sungguh sebuah pemandangan yang membuat bella berolah raga jantung “aku harus segera memeriksakan jantungku ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu yang tidak ku inginkan” gerutu bella dalam hati.
Bella cukup terpana melihat bentuk tubuh kevin walaupun ini bukan yang pertama kali baginya akan tetapi tetap saja hal tersebut masih bisa membuat wajahnya bersemu merah.
Dia dengan cepat menolehkan kepalanya kearah lain dengan maksud agar Kevin tidak bisa melihat rona merah yang mulai menjalar memenuhi seluruh wajahnya.
Kevin terkekeh kecil melihat tingkah bella yang terlihat malu-malu. dengan secepat kilat otak jahilnya mulai bereaksi dan memerintahkan dirinya untuk menggodai gadisnya itu.
dia melangkah kan kakinya dengan begitu santai mendekati bella yang semakin terlihat salah tingkah. kemudian berhenti tepat dihadapan bella yang masih bertahan untuk memalingkan wajahnya. Kevin meraih paksa sebelah tangan bella, membimbing dan meletakkannya dibagian perutnya yang terasa keras tak berlemak, “Sentuhlah!” ucap Kevin yang terdengar seperti sebuah perintah “kau tidak perlu malu sayang! dia milikmu dan dia juga menyukai sentuhanmu” tambah Kevin dengan senyum menggoda.
Wajah bella yang memang sudah terasa panas semakin terbakar karena kevin yang terus-menerus menggodainya. “bisakah kau berhenti untuk menggodaku kevin!” ucapnya menarik paksa tangannya dan membuang muka mencoba menaikan kembali rasa gengsinya yang sempat menurun.
Bibir bella mengerucut hingga terlihat begitu lentik setelah kecupan singkat itu berakhir. dia kembali memasang wajah galaknya sebelum berbicara; “jangan mengambil kesempatan dengan alasan morning kiss! apa kau sudah lupa jika kau sudah melakukannya bahkan kita tadi pagi hampir saja melakukan-- ” ucapan bella terhenti karena merasa malu menyebutkan nya.
Kevin semakin tergoda untuk mengerjai gadisnya itu, dengan menggigit bibir bagian dalamnya dia berusaha agar tidak tertawa “Melakukan apa? dan apa mencuri kesempatan?” tanya Kevin bertubi-tubi membuat bella semakin prustasi atas pertanyaan2 yang Kevin lontarkan.
“mengapa juga aku harus mengingatkannya” maki bella pada dirinya sendiri
setelah hening sekian ditik Kevin kembali berbicara; “Tapi aku tau jika kau juga menyukainya!” bisik Kevin tepat dilubang telinga bella.
Bella semakin dibuat malu saja saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kevin, “itu karena kau memaksaku!” tuduh bella mencoba menetralisir degupan jantungnya yang seakan2 seperti orang sehabis lari meraton.
Tidak terima dengan tuduhan bella kevin langsung meraih kedua tangan bella dan menguncinya dibelakang menggunakan kedua tangannya.
dia kembali mencumbui bella ditelinganya dengan hisapan serta gigitan kecil sehingga membuat bella kembali menegang karenanya.
“ke--vin” panggil bella dengan suara mulai bergetar, “Hm” jawab Kevin dengan tetap menciumi telinga bella dan melapaskan kuncian tangannya. suara deheman kevin terdengar merdu dan merangsang otak bella yang mulai mendamba.
“Henti-kan! Agrh ...” ucap bella sedikit mendesah karena Kevin mengulum telinganya dan meremas2 kedua benda kembar miliknya yang merupakan tempat sensitifnya.
Tapi yang Kevin dengar justru bukanlah kata larangan agar berhenti melainkan sebuah perintah dan sebuah permohonan untuk melakukan yang lebih lagi.
Setelah dirasa bella sudah mulai tergoda Kevin pun akhirnya menghentikan perbuatannya. berusaha melawan hasrat yang juga mulai menguasainya karena niat awalnya hanyalah untuk membuktikan ucapannya tadi, jika bella memang benar menyukai sentuhan darinya tanpa paksaan sedikitpun.
Kekecewaan dapat Kevin lihat dengan jelas dari sorot mata bella, dia pun tersenyum dengan penuh kemenangan sebelum berkata; “kita akan melanjutkannya nanti!” ucap Kevin mengusap2 telinga bella yang masih basah terkena air liurnya.
Bella benar-benar dibuat keki oleh kelakuan Kevin dipagi ini, dengan mencoba membuang rasa malunya bella langsung berdiri lalu dengan cepat berkata; “cepat kenakan pakaianmu aku sudah sangat lapar!” ucapnya dengan suara ketus, kevin hanya tersenyum geli tanpa berniat untuk mendebat lagi kekasihnya itu.
Mereka pun akhirnya pergi keluar untuk mencari sarapan.
sebuah sarapan sederhana hanya sepotong sandwich dan segelas susu.
“sayang bisakah kau menghubungi Aeron?” pinta bella
“aku akan mencoba mengiriminya email, karena memang kami bertiga sudah sepakat untuk mematikan handphone kami!” ucap kevin ragu-ragu dengan menampilkan senyuman bersalahnya.
“sayang, kita harus menemukan mereka secepatnya!” ucap bella sambil menerawang ke arah lautan.
kevinpun mengetik sebuah email kepada Aeron;
...📧 “Call me! Urgent” 📤...
-------> Sending
__________
Pagi ini dengan menggunakan Speedboat Aeron mengajak Clara pergi kesebuah pulau kecil yang terletak tidak begitu jauh dari pulau yang mereka tempati. dia berniat mengajak Clara untuk berselancar karena ombak disana cukup lah besar. dan mereka menghabiskan waktu hingga dua jam lamanya untuk bermain2 dengan ombak.
“Sayang apa kau senang?” tanya Aeron ketika mereka mengakhiri kegiatan mereka.
Clara tersenyum puas sebelum menjawab, “tentu saja aku sangat senang, dan mungkin bisa dikatakan sudah sangat lama aku tidak sesenang dan sebahagia ini”.