Lost Love "Love And Friendship"

Lost Love "Love And Friendship"
Shasa & Alen (part 3)



Senja sore ini berwarna kemerahan penuh dengan kehangatan, Dia terduduk manis membalas tatapan sang pemujanya


Shasa menatap senja dengan lekat sambil menahan perih yang mendenyut didalam dadanya. batinnya berteriak lirih menentang segala keputusan yang telah kedua orangtua nya ambil.


“Apakah aku harus menyesal telah mengenalnya? apa rasa cinta dihati ini tidak seharusnya ada? atau haruskan aku


memberontak marah kepada takdir karena telah menciptakan fatamorgana ini?” batin shasa bermonolog


Jeritan perih sedari tadi menusuk hati nya rasa takut itu mulai merasuk kedalam hati dan fikirannya.


Entah sudah berapa lama shasa berdiri menatap langit yang berawarna oranye ini.


Rasanya ingin sekali ia menyerah dan melupakan semua, akan tetapi tentunya itu sangatlah sakit dan mungkin saja dirinya tak akan mampu untuk melakukannya.


Karena hanya sekedar memikirkan nya saja dia sudah merasa begitu sakit hingga menyesakan kan dadanya apalagi jika ia mencobanya.


Alen menepuk lembut pundak gadis yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya itu memeluknya dari belakang dan mendaratkan dagu di atas pundaknya yang membuat shasa merasa nyaman “sayang! apa yang sedang kau fikirkan, Emh?” tanya Alen.


Shasa masih menatap ke langit senja saat menjawab pertanyaan dari alen “Nothing, aku hanya mengagumi keindahan senja ini”


Alen terus tersenyum sambil terus memeluk tubuh mungil shasa, tangan kokohnya merengkuh erat pinggang shasa sebelum kembali berbicara “Aku akan berkerja keras agar bisa membelikanmu sebuah pulau agar setiap hari kau bisa melihatnya, dan kita akan membangun rumah disana bersama anak-anak kita kelak”.


“Semoga itu bukan hanya sekedar angan2” batin shasa dengan kegetiran yang mulai menyelimuti hatinya “tuhan berikanlah jalan terbaikmu” do'a shasa didalam hatinya.


“Sayang percayalah kepadaku, aku akan berjuang untuk kebahagiaan kita” Alen memberi jeda sebelum melanjutkan kata-katanya; “ada pepatah mengatakan jika kebahagiaan itu bukanlah hadiah yang turun dari langit tapi sebuah perjuangan yang harus terus diperjuangkan sampai hembusan nafas terakhir” imbuhnya


Shasa memejamkan matanya memainkan buku-buku jarinya mencoba memberikan keberanian kepada dirinya sebelum ia berkata dengan nada penuh keseriusan; “Al ada yang ingin aku katakan kepadamu tapi aku--”


“Tapi apa hem?” tanya Alen memutar tubuh shasa agar menghadap kepadanya.


Saat manik mata mereka beradu, Alen dapat melihat dengan jelas ada raut kekhawatiran didalamnya, “tatap mataku jika berbicara” perintah Alen karena shasa yang tiba-tiba menundukkan wajahnya


“Aku takut kau akan marah dan meninggalkan ku” ucap shasa ragu-ragu dengan wajah masih setia memandangi tanah.


“Heyy sayang, lihat mataku dan dengar baik-baik apa yang aku katakan” ucap Alen sambil mengangkat paksa dagu shasa agar menatapnya sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya; “sayang bukankah tadi aku sudah berjanji bahkan bersumpah, apa kau masih meragukan itu hah?” tanyanya lembut sambil membelai pipi shasa untuk menyalurkan kekuatan agar kekasihnya itu tidak takut untuk menceritakan masalah yang sedang ia sembunyikan.


Alen memang sudah menduga sebelumnya jika shasa merahasiakan sesuatu darinya karena itu terlihat jelas dari sikap shasa yang terlihat berbeda dari biasanya, “sekarang katakanlah! aku tidak ingin ada rahasia didalam hubungan kita, apapun itu kita akan menghadapinya bersama” tegas Alen.


Shasa memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam2 mencoba mengumpulkan semua keberanian nya sebelum mengungkapkan masalah yang akan mereka hadapi didepan. perlahan bibir mungilnya mulai terbuka “Al, maafkan aku! aku tidak tau harus memulainya dari mana” ucapnya dengan mata yang mulai terasa panas.


“Ceritakan semua yang bisa kau ceritakan” bujuk Alen


Setelah diam sekian detik akhirnya keberanian itu mengalahkan keraguannya, shasa mulai menceritakan semuanya tanpa ada sedikitpun yang ia sembunyikan.


Shasa mulai dengan menceritakan apa yang telah papanya sampaikan waktu itu.


Alen cukup terkejut mendengarkan cerita dari kekasihnya itu tapi dia sudah bertekat akan tetap memperjuangkan kebahagiaan mereka.


Bulir bening menetes begitu saja dari kelopak mata shasa yang sejak tadi sudah terasa panas menahan airmata, dia begitu terharu akan sikap serta pemikiran dari kekasihnya itu “Aku mempercayaimu” ucapnya di sela tangisan.


“Sudah jangan menangis lagi” ucap alen sambil menghapus air mata shasa dengan ibu jarinya “yakinlah semuanya akan baik-baik saja, kita akan berjuang bersama” ucap Alen kemudian mengecup puncak kepala shasa


Mereka akhirnya meninggalkan bibir pantai ketika Matahari benar-benar tergelincir turun menimpa cakrawala.


__________________


Ditempat lain Aeron dan ketiga orang lainnya sudah berada dikamar Alen, setelah Aeron berhasil menememukan titik keberadaan handphone milik Alen yang ditinggalkannya didalam kamar dengan menggunakan sedikit keahliannya.


---> (Jangan lupa ya readers kalau Aeron itu adalah Xavier pemilik dari perusahaan Fuerst technology yang bergerak dalam bidang ilmu teknologi jadi sebagai bos ni mudah baget buat dia ngetahui keberadaan seseorang. OK 👌 sekarang kembali kelaptop 💻)


“Kemana mereka pergi? mengapa sampai sekarang mereka belum juga kembali?” gerutu Clara mulai merasa cemas, karena tadi dia sudah menghubungi calon papa mertuanya bahkan Aeron sendiri juga sudah ikut berbicara, meminta mereka untuk menahan Eric agar tidak segera menjemput shasa tapi sayangnya Eric sudah berangkat tiga jam sebelum mereka menelpon.


Bella datang membawa empat buah Mie Cup sebagai menu makan malam, karena sejak mengetahui masalah shasa dan Alen membuat mereka semua tidak berselera makan terlebih lagi setelah Clara menjelaskan siapa Eric sebenarnya.


“Ayo makanlah sedikit, otak akan berkerja lebih baik jika perut tidak lapar” ajak bella memberikan satu persatu Mie Cup buatannya.


“Terima kasih” ucap mereka hampir bersamaan yang diangguki oleh bella.


“Honey! selain Mie Cup apa ada yang lain yang bisa kau masak kelak untukku?” tanya Kevin tanpa sadar membuat Clara teryawa terbahak2 karena dia tahu betapa takutnya bella saat berada didapur apalagi jika berhadapan dengan minyak goreng.


karena dulu sewaktu kecil dia sempat memiliki trauma panci berisi minyak goreng meledak saat dia menemani mamanya memasak didapur entah apalah penyebabnya jadi mulai sejak itulah dirinya takut sekali jika berada didapur.


“Re, bisakah kau berhenti menertawakan ku? itu sungguh tidak lucu” ucap bella dengan cabikan bibir.


Kevin dan Aeron hanya mengernyitkan dahi mereka, pertanda mereka tidak mengerti akan sikap Clara serta kata2 yang diucapkan bella.


“Aku akan menceritakannya suatu saat nanti” ucap Clara menjawab pertanyaan kasat mata kedua laki-laki yang sedang menatapnya dan bella secara bergantian.


Mereka makan menikmati Mie Cup ditangan masing2, sesekali Aeron meminta disuapi oleh Clara, sehingga membuat jiwa manjah nya Kevin memberontak minta disuapi pula.


Itulah mereka dengan tingkah kekonyolan masing2.


“Honey, sekembalinya kita dari sini aku akan segera mengenalkan mu kepada kedua orangtuaku” celetuk Kevin


“Maksudmu apa Bee?”


“Maksudku sudah jelas, aku ingin kau berkenalan dengan kedua orang tuaku dan setelahnya akan meminta mereka untuk segera melamarkan mu untukku”


“Apa tadi ada batu karang yang membentur kepalamu?” tanya bella sambil membolak-balikan kepala Kevin memeriksa jika ada yang terluka.


“Haissh... hentikan honey! aku ini serius dengan ucapanku karena aku tidak ingin bernasib sama seperti Alen, jadi sebelum semua itu terjadi aku harus mengambil langkah lebih cepat” ucap Kevin yang disambut suara tersedak Aeron dan Clara secara bersamaan.


bella hanya bisa menepuk2 jidadnya sendiri atas perkataan yang Kevin lontarkan, “ya Tuhan sabarkan aku” ucapnya.