
Langit sudah berwarna gelap saat mereka tiba disebuah pulau yang menjadi tempat tujuan mereka.
beberapa pria betubuh kekar memakai berjas berwarna hitam layaknya seperti seragam lengkap dengan Earpiece dimasing-masing telinga telah menunggu kedatangan mereka bertiga.
Setelah menerima pesan masuk dan mengatakan “siap bos” seseorang yang berperawakan lebih tinggi dan berbadan besar yang merupakan leaders menghampiri Clara beserta kedua sahabat nya.
“Nona silakan” ucapnya mengarahkan Jalan agar Clara dan kedua sahabatnya mengikuti mereka.
Mereka bertiga berjalan seperti sandera dengan posisi depan dan belakang dikawal oleh bodyguard.
Karena keadaan yang sedemikian rupa membuat Shasa berfikir yang tidak2, sehingga mulutnya terasa gatal untuk bertanya, “apa kalian yakin kita akan baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berbisik, “Hmm” jawab mereka hampir bersamaan.
Mereka mengikuti arah kaki dari para Bodyguard, hingga sampai pada sebuah bangunan yang tidak terlihat begitu jelas karena hari yang sudah mulai gelap dengan pencahayaan yang kurang, “kenapa aku berpikir seperti menjadi seorang sandera saja” gerutu Bella, Clara langsung mencubit lengan sepupunya itu agar Jangan sembarangan berbicara.
“Nona silakan masuk” kata sang leader membukakan pintu utama.
Tanpa banyak bertanya Clara dan kedua temannya langsung masuk saja, mereka sedikit terkejut karena hanya melihat ruangan yang begitu gelap dengan pencahayaan yang dibantu cahaya bulan saja. saat mereka membalikkan badan dan hendak bertanya, para Bodyguard itu telah menutup pintu dan pergi begitu saja.
“what the f**k” maki shasa tak bisa lagi menahan rasa kesalnya. “ini benar-benar gila” imbuhnya. “aku tidak habis fikir apa sebenarnya mau mereka!” ucap Shasa penuh emosi
“kau benar, jika terjadi sesuatu kita benar-benar tidak mempunyai persiapan” tambah Bella.
“siapa bilang kita tidak mempunyai persiapan”. bantah Clara.
Dia pun membuka tas ransel kecil yang berada dipunggungnya, lalu mengeluarkan tiga buah pisau lipat, kemudian membagikan nya satu persatu.
mereka berdua sedikit terkejut pasalnya mereka tidak tahu kapan Clara mengambil benda tersebut.
Mengerti jika kedua sahabatnya ingin bertanya Clara langsung memotongnya, “jika kita bisa keluar dengan selamat maka aku akan menceritakannya” mereka berdua pun mengerti jika memang bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.
Walaupun mereka bertiga berbicara dengan suara berbisik tapi karena ruangan itu mengeluarkan suara gema, maka kata-kata yang mereka ucapkan masih bisa terdengar jelas oleh Aeron dan beberapa orang lainnya, mereka semua hanya tersenyum mendengar percakapan ketiga gadis tersebut.
Aeron sedikit menahan tawanya karena membayangkan raut wajah kesal bercampur khawatir dari ketiga gadis itu.
Kevin menarik nafas sebelum berkata; “apa kita tidak keterlaluan?” tanya kevin yang merasa kasihan dengan ketiga gadis itu, terutama kekasihnya.
Aeron tersenyum lalu menjawab; “jika mereka adalah gadis biasa mungkin kita sudah sangat keterlaluan, tapi jika kau tahu bagaimana kemampuan mereka! maka ini belum ada apa-apanya” ucapnya penuh keyakinan, “apa kau tidak merasa penasaran dan ingin melihat bagaimana sisi lain dari mereka bertiga?”. kevin pun terdiam memang benar jika dia sangat penasaran dengan kemampuan mereka bertiga terutama Bella kekasihnya.
tak lama Aeron memberikan kode sabagai perintah kepada beberapa orang anak buahnya untuk menyerang mereka bertiga, “apakah sungguh kau akan menguji mereka dengan cara seperti ini?” tanya Alen mulai membuka suaranya.
“Hm! tenang saja mereka hanya akan menguji saja tanpa melukai”
“sebegitu yakin nya dirimu? bagaimana jika mereka tidak sengaja melukai?”
Aeron menarik sudut bibirnya sebelum berkata; “itu takan akan pernah terjadi karena mereka hanya menyerang dengan tangan kosong”.
“ya terserah bagaimana dirimu mengaturnya, aku hanya tidak ingin Bella marah dan mengamuk kepadaku” ujar Kevin, “ya aku juga! ini adalah momen pertemuan pertama ku dengan Shasa dan kau sudah menghancurkannya” tambah Alen kesal karena mengikuti ide gila Aeron.
Merasa adanya pergerakan mereka bertiga langsung memasang kuda-kuda, “kalian tahu tempat ini gelap dan kita tidak bisa melihat lawan dengan jelas, maka pertajamlah indra pendengaran kalian! rasakan dari mana hembusan angin itu berasal” ucapkan clara memberikan arahan.
Aeron tersenyum bangga mendengar ucapan kekasihnya itu, “maaf sayang” gumamnya dalam hati.
“aku tidak pernah membayangkan jika kita akan berkelahi di tempat gelap seperti ini” ujar Shasa, “saat pulang nanti aku akan berlatih ditempat yang gelap” imbuhnya kemudian disusul suara kekehan bella dan Clara, “ide bagus” puji bella.
“anggap saja ini adalah latihan yang sesungguhnya” tambah clara, “bersiaplah mereka telah datang”.
Tak lama terdengar suara angin mengarah ke tubuh mereka secara bersamaan, mereka tahu itu bukanlah hembusan angin biasa melainkan sebuah serangan.
Karena memang mereka bertiga telah terlatih sejak kecil dengan sigap mereka dapat menangkis serangan itu.
Minimnya pencahayaan membuat mereka sedikit kesulitan, mereka bertiga fokus dengan lawannya masing-masing.
lama mereka saling menyerang, clara merasa adanya sedikit keanehan otak kecilnya berputar “jika memang mereka ingin membunuh pastilah mereka menggunakan senjata tetapi dari tadi mereka hanya menggunakan tangan kosong untuk menyerang” batinnya.
Dengan menggunakan sebuah kode khusus mereka melakukan tendangan memutar secara bersamaan kemudian mundur beberapa langkah sehingga tubuh mereka bertiga bersatu, “mereka tidak berniat membunuh! mereka hanya ingin menguji kemampuan kita! sebaiknya kita jangan membuang2 tenaga segera lumpuhkan mereka!” kata Clara setengah berbisik.
Mengerti akan maksud ucapan Clara mereka berdua menganggukkan kepala dan dengan gerakan bersamaan mereka langsung melayangkan beberapa pukulan serta tendangan sehingga lawan mereka terjatuh dan dengan gerakan cepat mereka bertiga memelintir tangan lawannya kebelakang lalu menguncinya kemudian mengarahkan pisau lipat yang mereka bawa kebagian bawah leher lawan.
Setelah selesai Clara pun membuka suaranya, “apa kalian sudah puas menguji kami?” teriak nya. “jika kalian belum puas maka keluarlah hadapi kami secara langsung” tentang Clara kemudian.
Cekrekk .... suara pintu terbuka diiringi dengan lampu yang menyala, “Maaf Nona, kami hanya menjalankan tugas! silahkan Kalian untuk mengikuti kami” ucap salah satu bodyguard.
mereka bertiga dengan serempak mendorong lawan yang telah menjadi sandera nya hingga tersungkur kelantai, “aku harap kalian tidak akan main2 kali ini atau kami tidak akan bersikap sungkan” ucap clara memperingatkan
mereka bertiga pun meninggalkan ruangan mengikuti arahan sang bodyguard, “kemana lagi mereka akan membawa kita?” tanya Shasa mulai tak bisa membendung emosinya.
Di dalam sebuah ruangan Aeron beserta beberapa orang lainnya memandang takjub ke layar monitor, “sekarang kalian percaya dengan apa yang kukatakan” kata Aeron bangga karena prediksinya tidak meleset sedikitpun.
harus Kevin dan Alen akui jika yang dikatakan Aeron benar adanya, mereka menarik sudut bibirnya dam berdecak kagum.
sekarang mereka merasa tenang karena gadis yang mereka sayangi baik-baik saja. “sekarang Apa yang akan kita lakukan?” tanya Alen penuh semangat karena sudah tidak sabar ingin menemui Shasa.
“kita akan istirahat” jawab Aeron tanpa diduga2 “dan biarkan mereka juga untuk beristirahat sebelum acara besok malam” tambah Aeron santai.
“apa??? bukannya kita akan segera menemui mereka?” kali ini suara Kevin mulai sedikit meninggi karena kesal, pasalnya dia sudah sangat rindu dengan bella tapi harus menunda untuk bertemu sampai besok malam.
Aeron menepuk pundak sahabatnya itu, “biarkan mereka beristirahat kau tau mereka sangatlah lelah, dan aku tidak ingin kalian berdua membuat mereka begadang malam ini” kata Aeron sambil berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan kearah pintu karena dia tidak ingin mendengarkan komplainan dari kedua sahabatnya itu.
“Hei !!! Aeron !!!” teriak Alen dan Kevin bersamaan, “sudahlah aku juga lelah, dan butuh istirahat” ujarnya dengan melambaikan tangan meninggalkan mereka berdua yang terlihat sangat kesal.
beberapa anak buah yang masih berada didalam ruangan itupun tidak bisa lagi menahan tawa melihat raut wajah dari kedua bos mereka yang seperti anak kecil kehilangan permennya.