
Hari sudah menjelang sore saat mereka tiba di kediaman keluarga 'WU, setelah pintu utama terbuka mereka berdua langsung bisa melihat senyuman merekah dari keempat wanita yang sudah tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik dan anggun diusianya yang hampir menginjak kepala lima beserta dua orang pria yang masih nampak gagah walaupun sudah sedikit beruban.
Mereka semua berdiri menyambut kedatangan kedua gadis yang sejak tadi mereka tunggu.
Gina merentangkan tangannya, dengan mata berkaca-kaca dia memeluk putri kesayangan nya, “Sayang, mama sangat merindukanmu” ujarnya lalu menciumi kening serta pipi putri tunggalnya.
“Aku juga sangat merindukanmu ma” balas Clara mempererat pelukannya.
Disisi Clara nampak Bella sedang memeluk ibunya “ma apa kau merindukanku?” tanyanya manja, “tentu saja honey, mama sangat merindukan mu!” jawab Jessi
Mereka kemudian beralih memeluk Mama Shena ibu angkat mereka juga shasa.
“mama sangat merindukanmu menantu kecilku” ucap Shena mengusap lalu mengecup dahi gadis yang akan segera menjadi menantunya, Clara tersenyum sebelum berkata “aku juga sangat merindukanmu Ma” balasnya kepada ibu angkat sekaligus calon ibu mertuanya itu
“sayang mengapa kamu terlihat lebih kurus dari sebelumnya? tanya shena menarik pipi Clara, Clara mengembungkan pipinya lalu berkata; “Benarkah? Apa aku terlihat jelek sekarang?”.
“Tidak sayang kamu tetap terlihat cantik! mama hanya lebih suka saja, jika pipimu terlihat lebih berisi itu akan terlihat imut jika Chabi”.
Shena melepaskan pelukannya setelah menarik hidung clara yang mancung, kemudian beralih memeluk Bella “Bella! kau tumbuh semakin cantik saja sayang” puji Sena, “mama terlalu memuji” balas Bella.
mereka saling berpelukan untuk melepaskan rindu, dan terakhir mereka berdua memeluk Mama Shery, ibunya Shasa.
“kemana Shasa?” tanya Shery saat dirinya tidak mendapati kehadiran putrinya tersebut, “tadi dia mengatakan akan pergi sebentar untuk mengurus sesuatu tante” jawab Bella.
Setelah berpelukan dengan para mama, mereka berdua beralih menyapa kemudian memeluk dua lelaki paruh baya yaitu 'Dave suami Shery merupakan ayah dari Shasa, dan satu lagi adalah Joseph suami dari Jessi orang tuanya bella.
mereka berdua masih terlihat tampan diusia yang hampir mencapai setengah abad dengan balutan pakaian kasualnya “kemana papa dan papa Martin?” tanya Clara ketika tidak melihat dua laki-laki yang sangat dia sayangi, “mereka ada di ruang kerja” jawab mama Shena.
Mereka berbincang-bincang sambil meminum teh dan memakan cemilan
Tab... Tab.... Tab.... Tab... Tab.... Tab....
Clara memutar wajahnya ketika indra pendengarannya menangkap suara dari kedua pasang sepatu kulit yang saling bersahut-sahutan mendekat kearah mereka duduk, dia melihat kedua pria yang sejak saat tadi dia nantikan.
dengan cepat dia langsung berdiri dan berlari ke arah kedua pria itu, dan dengan gerakan hampir bersamaan keduanya merentangkan tangan bersiap untuk menyambut nya.
Clara bingung harus memeluk yang mana, sampai akhirnya dia memutuskan untuk melemparkan tubuhnya kedalam pelukan Martin papa angkatnya terlebih dahulu
“Papa” ucap Clara manja seperti anak lima tahun yang minta dibelikan mainan, “I miss u so bad” ucapnya kemudian, “i miss you too my little girl” balas Martin mengecup puncak kepala Clara.
Jimmy menurunkan tangannya dari udara saat mengetahui putrinya lebih memilih untuk memeluk Martin sebagai ayah angkatnya dibandingkan dirinya yang merupakan ayah kandung nya.
“Hm! papa akan cemburu jika kau mengganggap papa seperti ini Elan” Suara bass jimmy mengganggu mereka berdua, “Putriku apakah kau sudah lupa yang mana, yang merupkan orang tua kandungmu?” tanya Jimmy berpura-pura merajuk dan masih dapat didengar oleh semua orang yang ada dan mereka semuanya menertawakan jimmy atas ucapannya.
Clara melepaskan pelukannya dari Martin kemudian beralih memeluk sang papa, “mana mungkin aku lupa dengan Papaku yang paling tampan ini” ucapnya sambil menarik hidung Papanya berniat untuk menghibur agar Papanya tidak berkecil hati, “jadi maksudmu papa tidaklah setampan dengan papa Jimmy” tanya Martin tidak terima jika dirinya dikalahkan oleh Jimmy dalam segi ketampanan, dan lagi-lagi suara tawa pecah didalam ruangan itu kerena mendengar perdebatan yang sangat kekanank2an dari kedua pria paruh baya yang memperebutkan seorang putri.
“tidak! tidak! kalian berdua sama tampannya” balas clara cepat-cepat kemudian melepaskan pelukan Papanya dan menggandeng keduanya didua sisi yang berbeda dengan posisinya berada di tengah.
Bella berjalan mendekat kemudian menyapa kedua pamannya tersebut “halo om jimmy!, halo Om Martin!” sapanya dengan membungkukkan badan, Clara melepaskan gandengannya karena kedua Papanya ingin memeluk Bella.
“Bella aku senang melihatmu semakin bertambah dewasa” puji Martin, bella tersenyum sebelum membalasnya “terima kasih Om”, kemudian beralih memeluk Papa Clara, “Om senang melihatmu kembali bella” ujar Jimmy.
Mereka berempat berjalan ke arah sofa kemudian melanjutkan untuk mengobrol, setengah jam kemudian Shasa pun tiba, “selamat sore semua” ucapnya menyapa, “sore Shasa” jawab mereka hampir bersamaan.
“Shasa” panggil Martin, “apa semua sudah siap?”
“sudah Om, sesuai yang Om perintahkan”.
Martin menarik sudut bibirnya lalu berkata “kerja yang bagus shasa” puji Martin, lalu dia melanjutkan kata-katanya “kita akan berangkat ke bahamas pukul delapan malam ini”.
Mereka semua yang berada di ruangan langsung menatap kearah Martin, seakan bertanya “mengapa dipercepat?”.
Martin menjawab pertanyaan yang tak terucap dari semua mata yang memandangnya, “tadinya aku pikir besok lusa baru kita berangkat tetapi karena mereka hanya bisa berada satu minggu bersama kita maka aku pikir lebih baik tidak membuang waktu dan malam ini juga kita berangkat” ucap martin menjelaskan.
mendengar kata hanya satu minggu, Gina langsung menatap tajam kearah suaminya.
Jimmy mengusap tengkuknya ketika mendapat tatapan tajam dari istrinya “aku akan menjelaskannya nanti sayang!” bisik Jimmy di telinga Gina yang mulai terlihat kesal.
Shena yang juga terkejut, langsung memutar bolamata nya kearah suaminya dan tanpa bisa menahan dia langsung bertanya “apa maksudmu Martin?”, “nanti akan ku jelaskan” jawab martin singkat.
mereka semua, baik Clara maupun Bella dan juga yang lain hanya bisa terdiam tanpa berani untuk bertanya, di dalam hati mereka merasa jika ada sesuatu yang telah terjadi.
Mereka semua berdiri untuk berpamitan pulang rumah masing2 yang terletak tidak berjauhan lalu mengemasi barang-barang yang dibutuhkan saat liburan nanti.
setelah semua orang sudah pergi, Jimmy mengajak Gina kekamar, yang sebelumnya sudah menyuruh Clara untuk beristirahat, “sayang, kamu pergilah untuk istirahat” perintah Jimmy lembut, Clara yang merasa sudah lelah langsung menggangguk dan melangkahkan kakinya menuju kekamar tercintanya.
setelah tiba didalam kamar Gina langsung menodongkan pertanyaannya tadi kepada suaminya “apa yang terjadi? mengapa mereka hanya bisa liburan selama 1 minggu saja bukannya liburan sekolah mereka adalah selama 2 minggu?”
Jimmy menarik nafas sebelum menjelaskan, “tadi martin berkata jika Evan sudah mengetahui yang sebenarnya”, Gina mengernyitkan dahinya “bagaimana dia bisa tahu?” , “entahlah dia tidak mengatakannya, dan dia begitu menyalahkan kita semua terutama Martin, lalu meminta untuk memberikan satu minggu waktu liburan Elan kepadanya”
Gina mulai mengerti dan menganggukkan kepalanya, “baiklah aku tidak keberatan jika itu alasannya”.
Di lain tempat, disebuah mansion yang megah. sama seperti Gina, Shena langsung melontarkan pertanyaan kepada Martin ketika mereka baru saja tiba dihalaman “sekarang katakan!” tanya shena meminta penjelasannya.
Martin tersenyum dan membelai lembut pipi istrinya tercinta lalu berkata “kita masuk dulu” ucap Martin merangkul bahu Istrinya.
mereka menuju kekamar utama, stelah pintu tertutup Martin langsung berbicara; “tadi pagi putramu--” martin menjeda perkataannya, dengan menggunakan sebelah tangannya dia mengusap kasar wajahnya kemudian lanjut berbicara, “dia sudah mengetahui semuanya dan dia menyalahkan kita semua atas apa yang telah terjadi pada Elan dan dirinya”
“apa ???” tanya Shena kaget, “Siapa yang memberitahunya? Apa dia juga menyalahkan ku?” tanya Shena sedih membayangkan betapa kecewanya Aeron kepada dirinya, Martin hanya diam sebagai jawaban.
Raut wajah Shena mulai menampakan kekawatiran, “sayang” ucap Martin lembut “kamu tidak perlu khawatir aku akan menyelesaikannya” ucap martin sambil meremas jari-jari istrinya.
“dan Evan mengatakan jika dia ingin mengajak Elan pergi berlibur selama satu minggu kepulau pribadi miliknya, maka dari itu Elan hanya bisa satu minggu bersama kita”, ucap Martin menjelaskan.
Shena menggaguk “aku mengerti dan tidak keberatan jika itu adalah alasannya”.
Martin memeluk dan mengecup dahi istrinya, “bersabarlah sedikit lagi, aku tahu kau sudah sangat menderita selama ini, sebagai suami aku meminta maaf! aku tidak bisa membahagiakan kalian”
Air mata shena jatuh mendengar ucapan suaminya, ”aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi! aku hanya merasa sudah menjadi seorang ibu yang telah menelantarkan anaknya sendiri jadi wajar saja jika Evan membenciku” ujar Shena mengusap air matanya.
“tidak sayang jangan berkata seperti itu! Evan tidak akan membencimu, tadi dia menitipkan salam untuk mu” ucap Martin berbohong untuk menenangkan istrinya, “aku berjanji jika Evan sudah lulus aku akan segera membawanya pulang dan kita akan bersatu kembali” ucap Martin mempererat pelukannya.
Mendengar janji dari suaminya air mata shena jatuh semakin daras, dia membalas pelukan suaminya lebih erat lagi dan membenamkan wajahnya didada bidang milik suaminya “sudah jangan menangis lagi cepatlah siapkan semuanya kita akan berangkat malam ini” ucap martin mengingatkan dengan tangan mengusap lembut rambut Istrinya.
Shena menghapus airmatanya lalu masuk kedalam Walk-in Closet untuk mengepack beberapa pakaian, “apa kau butuh bantuan sayang?” tanya Martin yang mendapat gelengan kepala sebagai jawaban, “Aku ada diteras jika kau membutuhkan bantuan” ujar Martin berlalu menuju keteras kamarnya.
Martin memejamkan matanya dan memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening karena mengingat kata-kata yang dilemparkan oleh putranya tadi pagi.
...Flashback on...
...“Halo nak, ada apa kau menghubungiku di pagi buta?”...
...“pa, kamu tidak perlu menutupinya lagi” jawab seseorang dari seberang sana...
...“apa maksudmu? aku tidak mengerti?”...
...“sandiwara yang kalian mainkan selama ini sangatlah bagus hingga membuatku takjub! aku berencana untuk menghubungi seorang sutradara untuk memproduksinya! aku kagum dengan kalian yang begitu pintar berakting untuk menyimpan rahasia! Jika saja Tuhan tidak mengasihaniku yang malang ini mungkin sampai saat ini aku juga tidak akan tahu!”...
...“apa maksudmu evan? Sandiwara apa? dan rahasia apa?...
...“sudahlah tidak perlu berpura-pura lagi! sekarang katakan di mana Elan? ” tanyanya dengan suara serak menahan kesal mendengar jika papanya masih saja ingin membohonginya....
...Untuk sesaat Martin terdiam dia berfikir mungkin saja Aeron sudah mengetahui rahasia selama ini, jika merekalah yang menyembunyikan Elan gadis kecilnya....
...tidak ingin memperburuk keadaan martin tidak ingin mengelak lagi lagipula ini sudah mendekati waktunya “maafkan Papa Evan, ini semua demi kebaikanmu”...
...Aeron tertawa kencang dari balik telpon “ya selalu saja kalian beralasan seperti itu 'demi kebaikanku” ucap Aeron mengulangi kata2 papanya dengan maksud untuk menyindir....
...“Evan papa akan menjelaskan semuanya saat kita berjumpa nanti! kamu boleh menyalahkan papa atas semua ini, tapi satu hal papa mohon jangan salahkan mamamu! dia sudah cukup menderita selama ini”...
...“itu semua karena keegoisan dan keserakahan mu terhadap harta, sehingga kami semua menderita” balas Aeron Sarkas, “Sebenarnya aku sangat kecewa mempunyai orangtua sepertimu!, Aku akan menjemput Elan untuk ikut bersamaku satu minggu kemudian, aku akan mengajaknya pergi kepulau milikku”...
...Tidak ingin memperburuk hubungan dengan putra semata wayangnya, martin pun menyetujuinya, “ baiklah aku akan mengaturnya”...
...“bagaimana keadaanmu?” tanya Martin mencoba memperbaiki suasana....
...“aku selalu baik-baik saja! jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan maka aku akan menutup teleponnya sekarang! ada satu hal lagi, aku tidak ingin Elan tau jika diriku sudah mengetahui semua ini”...
...“baiklah Jaga dirimu baik-baik”. kemudian terdengar suara telepon terputus....
...Flashback off...