Lost Love "Love And Friendship"

Lost Love "Love And Friendship"
Remember



“Excuse me! Apa masih lama?”


tanya seorang gadis remaja yang tepat berada dibelakangku kepada kasir yang masih sibuk memasang kertas thermal.


Aku memutar tubuhku dan menatap kepadanya, di tangannya terlihat sebuah buku yang sama persis dengan buku yang akan aku beli.


buku yang berjudul 'The Pragmatic Programmer' by: David Thomas, Andrew Hunt.


Karena merasa tidak enak gadis itu meminta maaf kepadaku.


“maafkan Aku” ucapnya lembut,


“aku hanya sedikit terburu-buru” ujarnya memberi alasan sambil sesekali menoleh ke arah pintu masuk.


Kasir pun menyebutkan jumlah uang yang harus aku bayar, dan ketika aku meraih saku Celana untuk mengambil dompetku, aku baru tersadar ternyata aku lupa membawanya.


*Dengan berat hati aku harus mengurungkan niatku untuk membeli buku unlimited tersebut.


“Maaf aku lupa membawa uang” ucapku, sang cashier pun menatap ku iba,


“Aku akan datang lagi besok untuk membelinya”.


ujarku mengembalikan buku yang sudah berada ditangan ku, lalu berbalik untuk pergi*.


“Heii, Tunggu” ucap sang gadis, dia mengambil buku yang tadi hendak aku beli kemudian mengatakan kepada kasir, “ biar aku yang membayarnya!”


*Setelah membayarnya dia pun memberikan satu buah buku itu kepadaku.


“Ini ambilah! kamu tahu buku ini adalah unlimited edition, jika kau tidak segera membelinya sekarang aku tidak bisa menjamin jika besok kamu masih bisa mendapatkannya*”.


Mendengar ucapan Gadis itu yang masuk akal aku pun menerimanya.


“Aku akan mengganti uangmu bisakah kau menungguku? Aku akan pergi ke hotel untuk mengambil dompetku!”.


dia menggelengkan kepala “tidak perlu! Uang itu tidak seberapa” tolaknya.


“Tapi aku tidak ingin berhutang dengan seseorang” dia tersenyum mendengar jawabanku.


“Jika begitu kau bayar saja dengan menjadi temanku”. akupun ikut tersenyum mendengar ucapannya.


“Maaf aku tidak bisa berlama-lama, orangtua ku pasti sudah mencariku” ucapnya hendak melangkah pergi.


“Tunggu dulu” panggil ku,


“Tadi kau bilang ingin aku menjadi temanmu, tapi kita belum berkenalan dan kamu sudah ingin cepat pergi”


Dia mengeluarkan sebuah pulpen dari dalam tas ranselnya, kemudian menarik tanganku pergi kesebuah meja kecil yang tersedia, kemudian menuliskan namanya, dilembar terakhir buku yang kami beli.


...“Elan”...


...Nice to meet you...


Aku memperhatikan cara dia memegang pulpen, tulisannya terlihat begitu rapi & indah.


karena posisinya yang setengah membungkuk dan rambutnya dikuncir ekor kuda, Aku bisa melihat sebuah tatoo berukuran kecil di balik telinganya kemudian memberanikan diri untuk bertanya “apa kau menyukai tattoo?”


Dia langsung memegang telinganya “Hm!, bukan tattoo nya yang aku sukai, tapi gambarnya” ucapnya sambil tersenyum kemudian mengembalikan buku yang telah dia tuliskan namanya.


Aku pun melakukan hal yang serupa menulis namaku di buku yang ia bawa.


...“Rain”...


...Ni to meet you too...


“baiklah Rain, aku harus segara pergi orangtua ku pasti sedang khawatir mencariku” ucapnya terburu-buru pergi.


karena dia yang begitu terburu-buru membuat ku lupa menanyakan alamat serta nomor handphonenya.


Entah mengapa sejak saat itu aku sangat menyukai dirinya dan selalu berharap bisa berjumpa kembali dengannya,


dan setiap tahun aku selalu menyempatkan diri pergi berlibur kesana lalu mampir ke toko buku itu, berharap bisa berjumpa lagi dengannya walaupun terkadang terasa sangat konyol.


Justin membuka kembali matanya setelah mengenang kejadian 7 tahun yang lalu. “ah! Mungkin aku sudah terlalu banyak berpikir” ucap justin dalam hatinya.


setelah merasa cukup lama menyendiri Justine kembali bergabung dengan yang lain.


“Justin, are you okay?” tanya Vincent ketika justin datang menghampirinya,


“Yes, like you see” jawabnya dengan mengangkat kedua bahunya “don't Worry! I'm fine” sambungnya kemudian.


“Aku heran dengan mu! tidak biasa-biasanya kau bersikap seperti itu dengan wanita! Jangan bilang-- ” ucap Vincent sedikit dijeda


“do you really like her?” tanya Vincent.


Justine hanya tersenyum penuh Arti sebelum balik bertanya “Do you think?”


“Oh .. Come on boy, kau bisa cari yang lain tapi jangan sekali2 nyentuh apa yang sudah jadi milik mereka”.


ujar vincent mengingatkan temannya lagi, “You can play with others! tapi tidak dengan mereka berdua!” ancam Vincent.


“Kita lihat aja nanti, selama nama mereka belum berada dicatatan resmi hukum itu masihlah milik bersama” ujar Justin cuek,


“You --” tunjuk Vincent kesal.


“Stop !!! jangan mancing emosi ku” ancam balik Justine, kemudian menegak minuman Vodka miliknya, karena sensasi terbakar dimulutnya membuat Justine memejamkan matanya kembali.


Melihat kelakuan aneh Justine, Vincent hanya bisa gelengkan kepalanya.


“Aku kesini untuk happy-happy, bukan untuk menemanimu untuk galau apalagi untuk membuat masalah.”


ujar Vincent mencoba menarik tangan Justine agar mengikutinya pergi untuk bergabung dengan yang lain.


“Kau pergilah duluan! nanti aku akan menyusul” tolak Justin menepiskan tangan vincent.


“Baiklah, aku duluan” ucap Vincent meninggalkan Justine yang masih memejamkan matanya menikmati rasa minuman yang sudah lewat dari tenggorkan nya.


Flashback on ... ...


Bella menghampiri Clara dengan segelas minuman cocktail di tangannya,


“Untuk mu” ucapnya memberikan minuman tersebut,


“Thanks El” balas clara seraya mengambil minuman tersebut.


“Sayang untuk aku mana?” pinta Kevin,


Bella menepuk keningnya sendiri dalam berkata: “maaf sayang aku lupa” ucap bella hendak pergi mengambilkan segelas minuman kembali.


melihat kekasihnya yang hendak pergi, kevin menarik pergelangan tangan Bella dan dengan seringainya Kevin berkata,


“tidak usah sayang, sebagai gantinya aku akan memasukkannya ke dalam daftar hukuman”.


bella membelalakkan mata mendengar ucapan Kevin,


“kenapa sedikit-sedikit kau hitung sebagai hukuman?” keluh Bella dengan melipat kedua tangannya dan mencabikkan Bibir bawahnya.


Justin hanya diam melihat interaksi kedua pasangan itu yang terlihat sangat mesra, dia mengalihkan kembali pandangannya kepada clara.


Tak lama handphone Aeron berbunyi.


“aku angkat sebentar” pamitnya kepada Clara dengan suara berbisik.


“ya” jawab Clara dengan senyuman.


Aeron menjauh dari kerumunan, melihat adanya kesempatan Justin langsung menyapa Clara “hai kita belum berkenalan”, sapa nya mengulurkan tangan kanannya “aku Justin” ucapnya memperkenalkan diri.


Clara yang memang pernah melihat wajah Justin sebelumnya, sedikit merasa ragu-ragu untuk menjabat uluran tangan justin.


“Ra” suara Kevin membuyarkan keraguannya, dia langsung menjabat tangan Justin “clara” jawabnya sedikit ragu-ragu


Justin dapat membaca gerak-gerik Clara, dia merasa jika gadis itu kurang menyukainya, entah untuk alasan apa karena memang dia tidak tahu jika clara pernah memergokinya waktu pesta ulang tahun Fanny.


Justin yang biasanya bersikap sesuka hati terhadap wanita, saat ini terlihat begitu mementingkan imagenya, dia menampakan kesopanannya, seolah dirinya tidak ingin memberikan kesan buruk kepada gadis itu.


Tak berselang lama Kevin & bella juga pergi kedalam untuk mengambil minuman, meninggalkan Clara sendiri


“Re, aku temani kevin dulu! kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?” tanya bella yang di angguki oleh clara


Dengan nada dibuat sesopan mungkin dia mulai mengajak clara berbicara.


“aku melihat sebuah tato di balik telingamu” ujar Justin membuka obrolan,


dia ingin menanyakan pertanyaan yang sama persis dengan seorang gadis remaja yang pernah ditemuinya 7 tahun yang lalu untuk memulai penyelidikan.


“Oh ini” jawab Clara tak melanjutkan jawabannya tapi malah memegang balik telinganya.


“apa kau menyukai tato?” tanya Justin memberikan pertanyaan yang sama dengan waktu itu.


“ya! aku menyukai seni” jawab Clara.


Justin sedikit kecewa mendengar jawaban yang keluar tidak seperti yang dia harapkan.


Justine terus saja bertanya dia ingin membuat hubungan antara mereka berdua lebih cepat akrab, walau semua pertanyaan nya hanya dijawab singkat oleh clara, itu tidaklah masalah baginya


“sekarang sudah memasuki liburan sekolah, apa kamu tidak pulang menemui orangtua mu?” tanya Justin


“besok aku akan pulang” jawab Clara singkat.


” boleh aku tahu dimana tempat tinggalmu?”.


“untuk apa?”


“tentu saja untuk pergi main”


“maaf aku tidak bisa memberitahumu, karena kita juga baru saja berkenalan” tolak clara halus


”it's ok! jika itu alasannya, jadi dengan kata lain jika hubungan kita sudah lebih dekat baru kamu akan memberi tahu ku” ucap Justine menyimpulkan sendiri.


“itupun aku tidak berjanji” balas clara cepat, Justine hanya tersenyum tipis melihat reaksi Clara atas ucapannya tadi


“boleh aku bertanya satu hal lagi?” pinta Justin,


“Hm, katakan?” ujar Clara.


“apakah kamu menyukai Computer Science ?”


“tidak! aku tidak begitu menyukainya” jawab Clara berbohong, karena dia tidak ingin mengekspos siapa sebenarnya dirinya, kepada orang yang baru saja dia kenal.


justine mengernyitkan dahinya, “jadi apa hobimu?” tanya justin penasaran.


Belum sempat clara menjawab Aeron sudah kembali menghampirinya.


“Sayang aku lapar apa kau mau menemaniku makan?” tanya Aeron sengaja ingin membawa Clara cepat pergi, karena dia merasa cemburu saat Justine mulai mendekati kekasihnya,


“Baiklah aku juga merasa sedikit lapar, ayo kita makan” ajak clara sambil merangkul pundak Aeron.


“Tuan Justine, silahkan anda menikmati party ini! aku akan membawa kekasihku” ucap Aeron sengaja menekankan kepemilikannya.


Hati Justin terasa sedikit masam mendengar ucapan itu, entah apa alasannya dia juga tidak tahu, “mengapa aku harus tidak suka?” batinnya.


“tidak mungkin jika aku cemburu” tanya Justine dalam hatinya seraya menggelengkan kepalanya.


dia pun tersenyum kecut “aku menyukainya hanya sekedar Obsesi” gumamnya mengingatkan diri sendiri, “lagipula dirinya bukanlah Elan”


Setelah kepergian sepasang kekasih itu Justin mengambil segelas Vodka kemudian berjalan menjauhi keramaian.


flashback off ...