Lost Love "Love And Friendship"

Lost Love "Love And Friendship"
Shasa & Alen (Part 1)



Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekatinya dan berhenti tepat disampingnya, Sebuah bisikanpun terdengar ditelinganya “akhirnya kita bisa berjumpa”.


sontak saja shasa membelalakkan matanya walaupun masih dalam posisi matanya masih tertutup oleh kain hitam, “Alen Grisham Wang” teriaknya dengan suara melengking karena kesal mengingat semua kejadian yang telah mereka alami.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Ketika merasa yakin jika laki2 yang bersamanya saat ini adalah laki2 yang sudah mulai bisa mencuri hati serta fikirannya dada Shasa semakin naik turun karena merasa kesal. dia langsung menghujani Alen dengan umpatan seratus nama jenis hewan.


Suara shasa melengking saking kerasnya hingga terdengar sampai keawang-awang membuat alen seketika harus menutup gendang telinganya agar tidak pecah lalu rusak sia-sia.


dan setelah Shasa sudah selesai mengabsen nama seluruh penghuni kebun binatang barulah Alen menurunkan telapak tangannya dan berjalan mendekat untuk membantu shaha melepaskan kain hitam yang menutupi matanya.


Walaupun mereka sudah sangat akrab satu sama lain dan saling menyatakan rindu saat didalam telpon, bahkan baru saja Shasa memakinya tanpa ampun, akan tetapi tetap saja terasa canggung disaat bola mata mereka saling menatap secara langsung.


Rasa marah, rindu, kesal dan bahagian menjadi satu saat ini sehingga mereka diam karena bingung harus berkata apa.


mereka berdua tersenyum bersamaan dan masing2 menjadi salah tingkah.


disaat shasa memanggil nama Alen disaat itupula Alen memanggil namanya.


hingga mereka akhirnya kembali terdiam membisu sehingga suasana menjadi lebih canggung dari semula.


Karena ingin segera mengakhiri suasana yang canggung membuat Alen memberanikan diri untuk membuka suaranya terlebih dahulu.


dia tersenyum sebelum berkata; “sha maafkan aku! aku mohon jangan marah kepadaku atas semua kejadian ini aku bisa menjelaskan semuanya nanti. tapi sekarang lebih baik kita makan terlebih dahulu karena ini juga sudah sangat larut. engkau pun pastinya sudah sangatlah lapar” ucap alen membuka pembicaraan dan Shasa hanya mengangguk sebagai jawaban.


Alen menarik sebuah kursi dan mempersilahkan shasa untuk duduk stelahnya dia pergi ketempat duduknya. tidak beberapa lama kemudian datanglah seorang pelayan yang bertugas untuk melayani mereka berdua.


Mereka makan dalam diam hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar bersahut-sahutan.


“C'mon Alen! mengapa kau harus menjadi segugup ini!” maki alen kepada dirinya sendiri.


Setelah selesai makan Alen mengajak Shasa untuk pergi berjalan-jalan ditepi pantai.


seiring dengan langkah kaki mereka, Alen mulai menceritakan alasan dibalik semua kejadian yang telah shasa dan kedua sahabatnya alami. yang semuanya merupakan rencana dan ide gila dari salah satu sahabat terbaiknya yang bernama Aeron.


Sikap shasa yang tidak seceria biasanya membuat Alen bertanya-tanya apakah gadis itu masih marah kepadanya.


karena takut akan hal itu maka alen dengan cepat meraih tangan shasa dan menggenggamnya erat kemudian berkata; “aku sungguh meminta maaf padamu, percayalah ini semua diluar kemauan ku! aku benar2 terpaksa melakukannya karena jika tidak maka Aeron akan--”.


Shasa memotong ucapan Alen dengan menggelangkan kepalanya lalu tersenyum tipis sebelum berkata; “kau sudah salah paham Al, aku sedikitpun tidak marah kepadamu”


“benarkah? tapi mengapa aku merasa dirimu berbeda dari biasanya?” tanya Alen karena masih tidak mengerti dengan sikap shasa saat ini


“Mungkin aku hanya merasa lelah saja” jawab shasa berbohong karena memang pada saat ini dia sedang memikirkan hal yang lain dan tidak mungkin dia mengatakannya kepada Alen orang yang mulai dia cintai.


“baiklah jika kau merasa lelah kita akan membicarakannya besok saja. sekarang aku akan mengantarmu untuk beristirahat”


“ya aku kira lebih baik aku beristirahat terlebih dahulu”


Tapi saat Shasa hendak melangkahkan kakinya, alen kembali menarik pergelangan tangannya.


“tunggu” ucap alen yang langsung mencari sebuah benda dari saku celananya.


Shasa membalikan badannya, dengan alis terangkat dia menunggu apa yang Alen lakukan. ternyata alen mengeluarkan sebuah Cincin berlian dengan hiasan batu safir berwarna biru ditengahnya.


tanpa meminta persetujuan darinya, Alen langsung memakaikan cincin itu dijari manisnya.


Sejenak shasa menatap kagum kepada benda cantik yang melingkar dijarinya kemudian bertanya; “Al ini??? aku --”


“Husst!” ucap alen meletakan jari telunjuknya dibibir shasa karena tidak ingin mendengarkan kata penolakan yang sudah bisa dibacanya, “aku ingin kau mengaggapnya sebagai hadiah pertemuan kita dan aku tidak ingin menerima penolakan dengan alasan apapun” ucap Alen tegas.


Shasa hanya bisa tersenyum kecut, didalam hatinya begitu merasa senang sekaligus sedih.


dengan mata sudah mulai berkaca-kaca dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan bulir bening yang akan segera tumpah jika sekali saja dia mengedipkan matanya “maafkan aku Al” ucapnya didalam hati.


Melihat gadisnya yang akan segera menagis, membuat Alen membawa shasa kedalam dekapannya, “Hey baby ... tidak perlu terharu sampai seperti ini” ucap alen berniat menghibur shasa.


Shasa hanya menggangguk kecil sebelum berkata “terima kasih, aku sangat menyukainya” ucapnya.


“Aku berharap kau lebih menyukai maknanya, ketimbang bendanya” ucap Alen berkata ambigu, shasa mengernyitkan kedua alisnya mencoba mencerna maksud dari perkataan Alen barusan.


“Sudahlah tidak perlu memikirkannya sekarang! lebih baik kau pergi beristirahat, bukannya tadi kamu mengatakan jika merasa sangat lelah”


Akhirnya alen mengantarkan shasa kekamarnya untuk beristirahat. walaupun sebenarnya masih begitu banyak hal yang ingin dia katakan kepada gadis yang telah secara tidak sengaja mencuri hatinya.


lagipula mereka masih memiliki banyak waktu.


dan mungkin memang benar jika saat ini shasa sedang kelelahan.


Tanpa alen ketahui sebenarnya memang sudah terjadi sesuatu sebelumnya kepada shasa sehingga membuat dirinya bersikap sedemikian rupa.


Alen mengantar shasa sampai kedepan pintu kamarnya, dan setelah itu langsung berpamitan.


tidak butuh waktu lama bagi shasa untuk membersihkan diri. setelah 15 menit kemudian shasa keluar menggunakan kimono dan mengambil pakaian ganti lalu mengenakannya.


dia merebahkan diri diatas spring-bed yang berukuran cukup besar.


sambil memainkan cincin dijari manisnya dia menerawang kelangit-langit kamarnya memikirkan apa yang harus dia perbuat agar bisa terlepas dari masalah yang sedang menghantuinya.


Flashback on ...


...Sehari sebelum mereka berada disini tepatnya saat mereka masih berlibur dibahamas, dan saat itu kedua sahabatnya baik Clara maupun bella sedang pergi mempersiapkan diri karena besok mereka akan pergi menemui orang yang telah menghancurkan liburan mereka kali ini....


...Shasa bersenandung ria saat memasuki ruang tengah villa tempat mereka menginap...


...“Sayang kamu sudah bangun?” suara lembut Shery memanggil putrinya tercinta....


...Shasa tersenyum menggangguk kecil sebagai jawaban. dia berjalan mendekat untuk menyapa semua orang yang ada di sana....


...Merekapun akhirnya melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya sempat terhenti....


...“aku setuju” ucap Dave tiba-tiba, dan seketika itu semua orang tersenyum puas....


...Shasa yang masih belum mengerti akan topik pembicaraan dari semua orang yang berada disana langsung menatap kearah mamanya seolah bertanya “ada apa?”...


...Shery yang mengerti akan tatapan bertanya yang dilemparkan oleh putrinya, langsung mengusap lembut punggung tangan putrinya itu sebelum berbicara; “sayang, kami baru saja menerima lamaran untukmu” ucap Shery dengan senyuman menghiasi wajahnya....


...Bola mata shasa membulat karena sangat terkejut dengan keputusan yang diambil oleh kedua orangtuanya tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu....


...tapi karena etika sopan santun dia harus diam mendengarkan terlebih dahulu apa yang akan disampaikan oleh orangtuanya....


...“kami tahu jika kamu masih sekolah dan masih ingin melanjutkan studymu kejenjang yang lebih tinggi lagi dan itu tidak masalah karena Eric tidak keberatan akan hal itu” ucap Shery menjelaskan....


...Shasa yang terperanjat kaget mendengar nama Eric secara reflek menaikan nada bicaranya kemudian dengan cepat bertanya; “apa? jadi maksud kalian yang melamarku adalah Eric?” Shasa benar2 tidak menyangka jika laki-laki yang dimaksudkan adalah Eric orang yang telah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. karena tadi dia sempat mengira jika orang yang melamarnya adalah orang lain bisa jadi dari kolega bisnis fikirnya....


...Shery dan Dave bisa melihat dengan jelas penolakan dari sorot mata yang Shasa berikan, tidak ingin mendapat malu Dave langsung saja memberi kode kepada Istrinya agar membawa putri mereka masuk kedalam kamar untuk berbicara....


...untung saja saat ini tidak ada Eric karena sedang menemani Clara dan bella....


...Shery menyentuh lembut pundak putrinya itu lalu berkata; “sayang, ikut mama ada yang ingin mama sampaikan kepadamu” ucap shery menarik tangan shasa agar segera mengikutinya. “tapi ma ini - -” ucapan Shasa terhenti ketika menerima tatapan membunuh yang papanya berikan....


...akhirnya dengan langkah berat Shasa mengikuti mamanya. sesampainya didalam kamar dengan kesal dia duduk disisi ranjang dan dengan tegas berkata; “Ma tolong jangan paksa aku untuk melakukannya! aku tidak bisa menerima lamaran ini, Eric sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? aku mohon ma, tolong pikirkan sekali lagi” shasa melipat kedua tangannya untuk memohon sebelum melanjutkan ucapannya; “dan aku juga tidak mencintainya, selama ini aku hanya mengganggap nya sebagai kakakku saja! bagaimana kalian bisa berfikir untuk menikahkan kami berdua?”...


...belum sempat Shery menjawab pertanyaan dan permohonan putrinya, pintu kamar kembali terbuka dan ternyata Dave yang menyusul mereka....


...Dave mendudukan dirinya disisi lain Shasa, sehingga posisinya saat ini diapit oleh kedua orangtua nya....


...Dave mengusap lembut rambut puntrinya sebelum berbicara; “sayang” panggil Dave lembut. “Coba lihat papa!” ucap Dave menarik wajah Shasa agar menatapnya, “apakau mancintai kami berdua?” tanya Dave kemudian...


...Shasa mengganggukan sebelum menjawab; “tentu saja aku sangat menyayangi kalian” kemudian dengan cepat menggelang kepalanya “tapi aku mohon jangan memakai alasan ini untuk memaksaku menikah dengan nya pa” tegas Shasa....


...“jika kau memang menyayangi kami maka menikahlah dengan Eric” perintah Dave tidak kalah tegasnya....


...“tapi aku tidak mencintainya pa, bagaimana aku bisa menikah dan hidup bersamanya”...


...“Cinta itu akan tumbuh seiring dengan waktu” ucap Dave tak mau kalah...


...“itu tidak mungkin pa, karena --”...


...“tidak ada yang tidak mungkin didunia ini shasa, lagipula kami semua tau jika Eric mencintaimu sejak dulu” bantah Dave cepat sebelum Shasa melanjutkan kata2nya....


...“tapi pa aku suda--”...


“ingin sekali rasanya Shasa mengatakan jika dia sudah mencintai laki2 lain yaitu Alen, tapi lagi-lagi papanya menyela hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara”.


...Dave menarik nafas dalam dan mulai meninggikan nada bicaranya “untuk kali ini papa tidak menerima penolakanmu Shasa Valencia”. bentak Dave membuat Shery langsung memeluk tubuh putrinya membawanya kedalam dekapan hangat seorang ibu untuk menenangkannya, dan Shasa hanya bisa menelan kembali suaranya yang sudah berada diujung bibir....


...Setelah hening beberapa saat Dave kembali berbicara; “karena kita berhutang budi kepadanya! dan tak akan mampu kecuali membayarnya kecuali dengan nyawa! kau pun tau pasti itu” ucap Dave menatap tajam kearah istrinya....


...Salah satu alis shasa terangkat keatas dia tidak mengerti akan apa yang telah orangtuanya katakan, karena penasaran akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya; “apa maksud papa?”...


...“Nanti akan papa jelaskan! sekarang papa harus menemui mereka terlebih dulu, dan papa harap kamu bisa menerima keputusan papa itu” ucap Dave meninggalkan shasa yang masih termenung karena tidak tau harus berbuat apa....


Flashback off ...


Shasa memijat lembut pelipisnya, mencoba memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalahnya. hingga dia teringat akan kedua sahabatnya dan berniat untuk meminta bantuan kepada mereka.


dia meraih Hp-miliknya yang entah sejak kapan berada diatas nakas disamping tempat tidur yang saat ini ia tiduri, dengan posisi hp yang masih tidak aktiv.


setelah mengaktivkan hpnya shasa langsung mencari nama contact kedua sahabatnya itu dan menghubungi mereka. hingga sudah beberapa kali dia mencoba baik Bella maupun Clara tapi sayangnya hanya operator saja yang menjawab dan mengatakan jika nomor yang dihubunginya saat ini sedang tidak aktiv.


Shasa mendengus kesal dia berfikir jika ingin mencaripun rasanya percuma sudah pasti kedua sahabatnya itu bersama dengan kekasih mereka saat ini.


akhirnya Shasa benar2 tertidur karena lelah.