Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Janji



Pagi ini seperti biasanya, Nada mulai dengan kesibukannya. Hanya saja moodnya rusak lebih cepat dari pada sebelumya, dia segera mengantar Alif berangkat sekolah. sebelum hatinya terlalu sakit bila tetap berada di rumah saat ini.


Dia menggendong Zaskia dengan gendongan bayi depan, sedangkan Alif duduk di belakang dan memegang pinggulnya Nada. Andra di belakang sudah memanggil Nada berulang kali, akan tetapi Nada terus melajukan motornya meninggalkan rumah.


Sesekali Alif menoleh ke belakang melihat ayahnya yang berlarian mengejar nya, berulang kali Alif meminta untuk berhenti tapi Nada tidak menghiraukan. Dia terus melaju dengan kecepatan tinggi.


Nada melajukan motornya sambil membiarkan air mata mengalir di pipinya, saat ini air itu sudah mengalir bebas tak terkendali. Nada mengurangi kecepatan motor dan sesekali mengelap air matanya.


Zaskia menatap lekat Bundanya yang menangis terisak, tampak beberapa tetes air mata Nada membasahi pipi Zaskia.


Apa salahnya? dia juga seorang wanita yang tidak rela bila suaminya berdekatan dengan wanita lain, nada hanya seorang ibu yang berusaha menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya. Dia juga punya perasaan yang sewaktu-waktu bisa remuk juga.


Mungkin kalau nada lebih mementingkan hal lain pasti nada sudah meninggalkan anak-anak, dan memilih bekerja Nada. Sebelum nada menikah nada adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit besar di kotanya.


Dia membeli resign dan fokus pada keluarganya, baginya anaknya adalah alasan yang perlu di prioritaskan. Terlebih kedua anaknya masih balita.


Beberapa saat kemudian sampailah Nada di sekolah Alif, Nada segera turun dari motor dan juga Alif. Dan sekali lagi Alif mogok untuk masuk sekolah, Ini ujian yang sangat berat bagi Nada. Harus berusaha tersenyum dan sabar di depan anaknya, saat hatinya mulai hancur lebur.


Seperti biasa, Alif merengek tidak mau masuk sekolah. Dia berdiri dan memainkan kakinya, pandangannya hanya menatap sepatu yang dia mainkan.


Nada berjongkok di hadapan Alif dengan menggendong Zaskia.


"Kamu kenapa lagi, Kak?" tanya Nada lembut.


Tak ada jawaban dari Alif, dia masih memainkan sepatunya. Nada mengangkat wajah Alif, tampak mata yang berkaca.


"Kenapa Alif sedih?" tanya Nada dengan mata berkaca.


Alif tak menyahut, dia hanya melayangkan tangannya ke pipi Nada dan menghapus sisa air mata yang mengering. Saat itu juga mata Nada semakin panas, dia berusaha keras agar tidak meneteskan air bening itu.


"Ayah sama Bunda hanya bertengkar sebentar kok, sama kaya' Kakak bertengkar dengan Zaskia. Nanti Ayah sama Bunda udah baikan kok," ucap Bunda mengelus pucuk kepala Alif.


"Janji?" ucap Alif sambil mengulurkan kelingkingnya.


"Janji, nanti Bunda akan minta maaf ke Ayah. Oke," ucap Nada mengaitkan kelingkingnya.


Nada sukses membujuk Alif agar mau masuk sekolah, meskipun butuh waktu yang cukup lama dan penuh drama. Alif mau masuk sekolah. Dia melangkah dengan malas menuju kelasnya,Nada menatap Alif dari kejauhan.


Guru Alif sudah menyambut Alif dengan senyum semangat, sayangnya Alif tak membalasnya. Mood Alif saat ini sedang tidak baik-baik saja, melihat itu semua membuat Nada merasa bersalah, harusnya dia bisa menahan emosinya lebih baik.


Alif dituntun guru untuk masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran, Nada terus menatap hingga Alif hilang di balik pintu. Kemudian Nada memutar motornya untuk kembali ke rumah.


Nada seketika mematung, melihat Andra mengendarai motornya dan menghampirinya.


"Nad, aku bisa jelasin." ucap Andra.


BERSAMBUNG.....