Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Kamu Jahat



Seorang anak kecil sedang berlarian di taman bunga, dia sedang mengejar kupu-kupu yang berterbangan. Terdengar tawa renyah yang keluar dari mulut mungilnya.


Di belakangnya ada seorang anak kecil yang sedang memakai sebuah rok dan baju berwarna putih, tidak lupa kerudung yang membingkai wajah cantiknya.


Keduanya berlarian kejar-kejaran, hingga ada seorang wanita dengan paras cantik datang menemui mereka.


Dia melangkah mendekat, tercium aroma wewangian yang membuat suasana hati mendadak nyaman dan damai.


"Kalian tidak pulang?" tanya wanita tersebut.


Sayangnya anak-anak tersebut tak mempedulikannya, mereka terus berlarian me gejar kupu-kupu sambil tertawa terbahak.


Wanita tersebut hanya tersenyum simpul dan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang tidak jauh darinya.


Dengan tatapan teduh wanita itu memperhatikan kedua bocah yang sedang asik dengan dunianya, tanpa mereka sadari ada seorang yang juga merindukan mereka.


Tapi apalah daya nya, dia tak bisa membujuk anak-anak tersebut untuk kembali secepat ini. Karena yang menentukan waktu adalah mereka sendiri.


Mungkin karena rasa lelah, anak-anak tersebut merebahkan tubuh mungilnya di atas rerumputan hijau, yang sudah seperti sebuah kasur bagi mereka.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" tanya wanita tersebut.


"Tidak, kami masih mau bermain disini," rengek kedua bocil secara serentak.


"Apa kalian tidak merindukan Bunda mu?" ucap wanita tersebut dengan tatapan teduhnya.


Wanita tersebut sangatlah cantik hingga sering kali keduanya terpaku melihat kecantikannya, kulit putih bersih, dengan balutan hijab berwarna putih.


"Bunda?" ucap Seorang anak kecil, dia mencoba menerawang jauh. Mengingat siapa Bunda yang wanita ini maksud.


Keduanya saling berpandangan dengan tatapan kebingungan,


"Kalian tidak kenal Bunda?" tanya wanita tersebut dengan mata melebar.


Sesaat keduanya saling bertatapan dan melempar pandangan ke wanita tersebut, dengan diiringi anggukan kecil.


Keduanya terdiam sesaat, mereka mencoba tidak bersuara dan berusaha untuk mendengar panggilan lirih bagaikan hembusan angin.


Sangat lirih hingga nyaris tak terdengar, hingga akhirnya mereka pun mendengar sebuah suara yang sangat menyedihkan.


Terdengar seorang wanita yang sedang berdo'a di tengah isak tangis nya, meskipun mereka tak mengenal siapa pemilik suara tersebut. Tapi mereka Solah ikut merasakan kesedihan suara tersebut.


Tanpa terasa tetesan air mata berlinang di pipi para bocil tersebut, mereka melempar pandangan ke arah Wanita dengan senyuman teduh.


''Bagaimana? Sudah dengar kan?" tanya wanita tersebut dengan senyum manis.


Kedua anak kecil tersebut mengangguk lirih, dia saling bertatapan dengan mulut manyun.


"Tapi kami nggak mau pulang," ucap salah satu anak tersebut.


"Kenapa?" tanya wanita dengan tatapan sedih.


"Disini sangatlah tenang, sedangkan di sana sebaliknya," sahut gadis kecil.


Hingga tanpa di sadari ada seorang wanita yang datang dengan wajah menyedihkan, matanya tampak bengkak dengan keadaan yang berantakan.


Wanita tersebut datang mendekati keduanya, dia menatap lekat keduanya dengan tatapan penuh harap.


Tampak beberapa bulir air mata yang menetes, wanita tersebut tak bersuara. Hanya tangannya terulur ke arah ke arah mereka.


Reflek kedua anak kecil menggeleng kepalanya, dan mundur beberapa langkah.


"Kami nggak mau ikut!" ucap seorang gadis kecil.


"Kamu jahat," lanjut gadis itu mencaci.


Melihat kalau dirinya tidak di terima dengan baik, wanita yang penuh dengan kesedihan tersebut melangkah menjauh.


Dan membawa kesedihannya ...