Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Tekadku Sudah Bulat



Nada sedang duduk di sajadah, saat ini mukena putih bersih membalut tubuh lelahnya. Bibirnya hanya bergetar, pipinya mengalir sungai kecil yang tak kunjung kering.


Saat ini dirinya sudah memasrahkan segalanya kepada Maha Pencipta, dia sudah berjuang keras beberapa tahun ini. Berusaha memperbaiki rumah tangga yang memang sudah di ambang kehancuran.


Jika memang dia tidak berjodoh dengan Andra, dirinya akan mengikhlaskan segalanya. Pengorbanan dan segala usahanya, asal jangan bawa anak-anaknya di dalam kehancuran ini.


Seorang ibu mampu berdiri di atas bara api, tapi mereka tidak akan tega jika melihat anaknya menderita sedikitpun.


Dia tak akan rela, bila itu bisa. Ingin rasanya Nada menggantikan posisi Alif, bocah itu masih terlalu kecil untuk menghadapi cobaan sebesar ini.


Setelah beberapa jam duduk di sajadah, Nada memutuskan untuk bangkit dan melangkah keluar mushalla rumah sakit. Di luar sudah ada Faisal yang sedang asik memangku Zaskia.


Nada mendekati Faisal dan mengambil Zaskia dari pangkuannya, dia tau pria ini tidak aka keberatan bila selalu dia repotkan. Hanya saja Nada tidak mau hutang budinya lebih banyak.


"Lo udah nggak pa-pa, Zaskia biar sama gue aja." ucap Faisal menatap Nada penuh perhatian.


"Gue nggak pa-pa kok, sekalian mau pulang. Ambilin barang-barangnya anak-anak." ucap Nada tersenyum.


Faisal sudah mengenal Nada sejak lama, dia semakin tak tega melihat Nada tersenyum penuh kedustaan seperti saat ini.


"Gue anterin ya?" ucap Faisal.


Nada kembali tersenyum dan menggeleng kepalanya lirih, Faisal sudah terlalu banyak menolongnya. Bahkan, tetangga sampai menyangka mereka punya hubungan gelap.


"Lo tau kan, rumah gue banyak CCTV nya " kekeh Nada.


"Lah biarin aja, mereka mah orang kurang kerjaan," ucap Faisal memasang wajah masam.


Sudah tersebar luas kalau Nada dan Faisal pernah menjalin kedekatan sebelum menikah dengan Andra, sekali lagi. Nada tidak tau dari mana kabar itu berasal.


Karena kabar itu, hidup Nada sukses berubah 180°. Di kucilkan warga, menjadi topik gibah. Sampai anak nya ikut-ikutan kena imbas.


Sampai ada yang bilang kalau Zaskia itu bukankah anak Andra, untungnya. Setelah Zaskia lahir, wajahnya 100% mirip suaminya, kalau tidak? pasti namanya sudah benar-benar rusak.


"Makasih ya ... gue pulang dulu." ucap Nada mengaitkan gendongan kanguru ke pundak dan punggungnya.


Melihat Nada yang kesulitan, membuat dia berinisiatif membantunya. Tapi ada sebuah tangan yang menarik pundak Faisal kasar.


Setelah gendongan Zaskia terpasang rapi, Nada memutar tubuhnya.


"Maka ..." Nada tak mampu melanjutkan ucapannya, matanya kembali memerah. Air yang perlahan kering, kini kembali mengalir setetes demi setetes.


Melihat seorang pria yang berdiri di hadapannya, membuat hatinya begitu perih. Hanya melihatnya saja membuat perasaan Nada seperti tersayat.


"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata disini." ucap Andra sambil melempar pandangan sinis ke Faisal.


Nada tak mempedulikan kehadiran Andra sedikitpun, dia melempar senyuman ke Faisal mengucapkan terimakasih. Faisal membalas dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


Nada segera melangkah pergi dari hadapan Andra, hatinya masih terlalu sakit saat berada di dekatnya. Terdengar namanya di panggil berulang kali, tapi dia terus mengayunkan langkahnya.


Semakin orang itu mendekat, semakin Nada mempercepat langkahnya. Suara tersebut semakin mendekat.


"Nada, kamu kenapa sih?" tanya Andra meraih pundak Nada.


Nada menghentikan langkahnya saat pundaknya berhasil di cengkram tangan Andra. Lidahnya masih kelu untuk melontarkan sepatah katapun.


"Kok diem? Kamu bisa ngobrol santai dengan pria lain, sedangkan sama aku. Kamu diam aja seperti ini!" ucap Andra frustasi.


"Aku itu suami mu!" ucap Andra menunjuk dada Nada.


Nada hanya menatap Andra dengan tatapan mata kosong, dan berkaca.


"Kamu selalu nangis di dekatku, tapi saat di dekat pria lain kamu ..." ucapan Andra terputus.


"Apa pernah kamu memikirkan perasaanku? Walau hanya sepintas?" tanya Nada dengan suara tenang.


"Aku selalu memikirkan perasaanmu Nad, aku ..." ucapan Andra kembali terpotong.


"Apa kamu marah saat aku di peluk dokter Satria? Atau saat aku bersama dengan Faisal?" tanya Nada kembali, dengan air mata yang sudah turun.


"Apa kamu nggak lihat ekspresiku tadi?" ucap Andra memeluk Nada.


Pelukan yang dulunya terasa hangat, detak jantung yang selalu dia rindukan. Entah mengapa semuanya terasa begitu hambar bagi Nada.


Dulunya dia sangat menantikan hal ini, pelukan yang selalu menenangkan dirinya. Walaupun di selama ini dia bersabar dan kurang dukungan dari suaminya. Tapi pelukan ini biasanya bisa menetralkan mood Nada yang acak-acakan.


Akan tetapi, entah mengapa? Semuanya terasa sangat berbeda. Tak ada lagi kehangatan dan kedamaian, hanya perih dan sakit yang Nada rasakan sekarang.


"Aku tidak akan bertemu dengan Kinan lagi, aku janji." ucap Andra serius.


Nada melepaskan pelukan Andra, dia kembali menatap mata tajam suaminya.


"Terlambat," ucap Nada memutar badannya dan perlahan melangkah menjauhi Andra.


Dia sudah tak peduli bagaimana hubungan Kinan dan Andra, dia sudah cukup leleh memikirkan semua masalah rumah tangganya yang tak ada habisnya.


Memang di hidup ini tidak akan berwarna bila tidak ada masalah, tapi Nada juga bukan wanita sekuat itu. dia hanya manusia biasa yang mudah rapuh kapan saja.


"Maksudnya?" tanya Andra memasang wajah bingung.


"Aku harap kau bisa mengerti apa yang aku katakan," ucap Nada sambil melanjutkan langkahnya.


Nada berjalan menuju tepi jalan raya, dia menunggu sebuah angkutan umum yang menuju rumahnya. Dadanya masih sesak bila harus pulang dengan Andra.


Angkutan umum melaju meninggalkan kawasan rumah sakit, sementara Andra menyusul Nada dari belakang menaiki motornya.


Dia masih tidak rela untuk berpisah dengan Nada, di mana lagi dia bisa mendapatkan seorang wanita berhati lembut sepertinya di dunia ini.


Menyesal? Andra sangat menyesal. Hanya keadaan yang memaksanya untuk bertindak seperti ini, seandainya dia memiliki sedikit ketegasan. Pasti semuanya tidak akan runyam seperti ini.


FLASHBACK


"Apa! Papa dia temanku, bisa-bisanya papa melakukan itu pada Kinan?" ucap Andra dengan amarah yang menggebu.


Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi besarnya, dia menaikkan kakinya ke atas meja sambil menyesap rokok.


Nafas Andra masih kembang-kempis menahan amarah, bagaimana bisa seorang yang sangat dia banggakan bisa melakukan niatan sekeji itu.


"Apa salahku, dia meminta agar dia bisa hidup bersamamu. Sedangkan kau malah memilih perawat itu." ucap Bondan tertawa terbahak.


Karena tidak bisa menahan amarahnya lagi, Andra segera melangkah mendekati Bondan dan melayangkan pukulan mautnya bertubi-tubi.


Seketika hidung dan ujung bibir Bondan mengalir cairan merah segar, diiringi rintih kesakitan.


"Kau sama seperti Ibumu, tidak berguna!" ucap Bondan dengan lantang.


"Aku sangat menyesal telah menjadi anak dari tukang cabul sepertimu!" ucap Andra mencengkram kerah Bondan.


"Aku akan ..." ucapan Andra terhenti.


"Akan membunuhku, lihat bagaimana Ibumu akan mengemis kepadaku untuk memungutnya kembali," kekeh Bondan.


"Kau dan Ibumu sama saja, tak akan bisa hidup tanpa aku." lanjut Bondan semakin mengencangkan tawanya.


"Aku tidak akan memaafkan mu bila sampai terjadi apa-apa pada Kinan, dan satu lagi. Aku tidak butuh hartamu!" ucap Andra melangkah keluar ruangan Bondan dan membanting pintu.


Dia segera melajukan mobilnya pergi ke sebuah rumah sakit yang tak jauh dari kantor Bondan, Andra melesat dengan cepat melewati barisan mobil yang berjalan di hadapannya.


Sesekali terdengar suara umpatan dan klason be rapat orang di belakang, tapi Andra tetap tidak mempedulikannya.


Saat ini, ada hal yang lebih penting dari umpatan semua orang itu. Saat ini temannya sedang kritis di rumah sakit, dan semuanya karena ulah Ayahnya.


Tak lama kemudian sampaindi Sebuh rumah sakit, tepat dimana teman malangnya itu di rawat. Andra segera menaruh mobilnya di parkiran dan melangkah menuju kamar rawat.


Andra segera berlari kecil, hatinya cukup resah kali ini. Dia sangat menyesal telah membiarkan temannya itu berjuang sendiri menghadapi ulah keji Ayahnya.


Seorang gadis sedang duduk di kursi, dia menundukkan kepala. Terdengar isak tangis darinya.


"Dinda, kakakmu bagaimana?" tanya Andra.


Dinda segera mendongakan kepalanya dia menatap lekat seorang pria tampan yang sangat di cintai kakaknya tersebut.


Dinda beranjak dari kursinya dan menatap Andra dengan mata yang memerah padam.


Plak ...


Tamparan hangat mendarat di pipi Andra, dia hanya mampu menerima amarah dari Adik Kinan tanpa berani melawan.


"Dasar keluarga bejat, aku bersumpah keluargamu tidak akan bisa bahagia selamanya!" ucap Dinda dengan bibir bergetar menahan amarah.


"Aku akan bertanggung jawab, tolong maafkan kami," ucap Andra.


"Maaf, apa kegadisan kakakku bisa kembali dengan kata maaf? Apa kondisi psikis kakakku bisa normal hanya dengan mengucap Maaf." ucap Dinda sambil sesenggukan.


"Kakakku selalu mencintaimu dengan tulus, tapi kau tidak pernah menghiraukannya. Entah apa yang kau rencanakan, sampai kakaku melakukan hal gila ini!" ucap Dinda merosot ke lantai.


"Masa depan kakakku akan suram, rahimnya akan di angkat. Semua tetangga tau kalau dia menjadi wanita perusak rumah tangga orang, katakan! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dinda berulang kali menghapus air matanya.


Andra berjongkok dan menatap Dinda, dia bisa merasakan betapa hancurnya gadis di hadapannya saat ini.


Andra hanya dapat menepuk pundak gadis tersebut dan duduk bersandar di tembok rumah sakit, dia menghela nafas panjang.


"Aku jamin, hidup kakakmu tidak akan berantakan. Aku yang akan bertanggung jawab untuk kehidupan Kakakmu," ucap Andra lirih.


"Aku tidak akan menerimanya, jauhi kakakku. Kehadiranmu hanya akan menjadi petaka untuknya." ucap Dinda perlahan bangkit dari duduknya.


Keduanya mematung sesaat ketika mendengar suara ribut dari kamar Kinan, Dinda dan Andra segera masuk ke kamar Kinan.


Beberapa dokter mencegah Kinan untuk melepas selang infusnya, banyak sekali barang rumah sakit yang berabtakan di lantai.


Mulai dari gunting, tepak makan, dan beberapa alat medis lainnya. Beberapa suster sudah kualahan menghadapi amarah Kinan.


"Kinan, aku Andra. Kau ingat kan, semua akan baik-baik saja. Aku janji." ucap Andra mendekap Kinan.


Kinan yang terus meronta, perlahan melemah. Sebagian suster memasang selang infusnya kembali dan melangkah keluar ruangan.


BERSAMBUNG.....