
Andra melangkah keluar ruang kepala sekolah dengan menahan amarah, dia segera menemui Alif yang sedang duduk di kelas menantikannya datang.
Suasana sekolah memang cukup sepi, karena semua anak sudah pulang. Tinggal Alif saja yang ada di ruang kelas, di temani oleh salah satu guru.
Andra melangkah masuk kelas dan menuntun Alif keluar, tidak lupa dia berpamitan dan meminta maaf pada guru atas perlakuan Alif hari ini.
Andra naik ke motornya di susul oleh Alif yang naik di belakang, tak ada obrolan. Bahkan senyum ceria. Hanya keheningan di sepanjang perjalanan.
Andra memutuskan untuk menepi, dan duduk kursi trotoar. Ada beberapa kursi yang memang di sediakan di sepanjang trotoar.
Sebenarnya Alif enggan untuk turun, tapi karena Andra memaksa. Akhirnya Alif turun dan ikut duduk di kursi.
Andra menatap Alif yang sedang duduk di sampingnya, dia menundukkan kepala. Dia memainkan sepatunya.
Sepatunya masih sama, terlihat lusuh dan ada beberapa lubang. Di tambah lagi karet di bagian bawah yang mulai mengelupas.
"Kenapa kamu berantem?" tanya Andra.
Tak ada jawaban dari Alif, dia masih asik memainkan sepatunya.
"Alif, kamu nggak denger, Ayah bilang apa?!" ucap Andra dengan suara lebih keras.
Alif tetap tak bergeming, dia malah semakin seru memainkan tali sepatunya.
"ALIF ..." ucap Andra sambil meraih wajah Alif dan mengarahkannya menatap wajah Andra.
Andra tersentak ketika melihat genangan air mata yang menetes di pipi chubby nya. Perlahan Andra melepaskan wajah Alif dan membuang muka.
Andra menghela nafas panjang dan mengelus pucuk kepala Alif, mencoba menahan emosi karena saat ini moodnya sedang buruk.
Apakah ini perasaanya atau memang benar? Setiap Nada bersedih, semua anggota keluarga di juga mengalami mood yang buruk.
Andra yang emosinya tak bisa di kendalikan, dan sekarang Alif. Entah mengapa Alif bisa berkelahi dengan temannya, sampai temannya mendapatkan memar di wajahnya.
Tidak biasanya Alif bertindak seperti ini,
"Kenapa kamu melakukan itu Nak? apa temanmu itu mengganggumu?" tanya Andra lembut.
Masih tak ada jawaban, Alif masih menunduk.
"Ayah jahat!" ucap Alif singkat.
Seketika Andra terkejut, dia yang berkelahi di sekolah. Tapi malah Ayahnya yang di salahkan. Otak Andra di penuhi tanda tanya besar.
"Kok Ayah ?" tanya Andra.
"Ayah---'' ucapan Alif terpotong.
"Hay Alif ..." Sapa Kinan.
Entah datang dari mana? Kinan melangkah mendekati Alif dan Andra yang sedang duduk di kursi trotoar.
Dia mengelus pucuk kepala Alif dan segera di tepisnya, Andra mengelus punggung Alif. Seolah memberi isyarat agar lebih sopan kepada teman Ayahnya itu.
Di saat yang bersamaan, ada seorang penjual ice cream yang lewat. Kinan segera memanggilnya dan memesan beberapa bungkus ice cream.
Setelah selesai, Kinan menyodorkan Ice cream ke arah Alif. Apa yang Alif lakukan? Alif melempar pandangannya.
"Alif kok gitu sih, di ambil dong ice cream dari Tante Kinan!" ucap Andra lembut.
Alif tak bergeming, dia malah melipat tangan dan membuang muka. Seolah meluapkan kekesalannya.
Kinan melangkah mendekati Alif dan berjongkok di hadapannya. Tampak mata Alif yang berkaca, seolah memendam kepedihan mendalam.
Kinan mengelus kepalanya tapi segera di tepis, Alif benar-benar menolak keberadaan Kinan. Tapi Andra terus mendesaknya agar berdamai dengan ke adaan.
Andra bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Alif dan Kinan, dia mengelus pucuk kepala Alif.
"Makan ice cream ini, Lalu kita pulang? Alif pasti khawatir sama bunda kan?" ucap Andra lembut.
Dan benar saja, Alif mendongakkan kepalanya dan memulai mengangguk lirih. Tangan mungilnya mulai menghapus air mata yang mulai merembes di pipi chubby.
Alif meraih sebungkus Ice cream yang ada di tangan Kinan, melihat Alif yang tidak marah lagi. Andra dan Kinan duduk bersama dan mulai mengobrol.
"Nada kenapa?" tanya Kinan.
BERSAMBUNG....