Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Kenyataan



Laras terbelalak mendengar ucapan Andra, dia tidak menyangka kalau selama ini putranya menyimpan sebuah rahasia besar.


dia memang tahu suaminya dulu senang minum-minuman keras dan berjudi di sebuah bar. Tapi dia tidak pernah menyangka ada peristiwa yang memalukan seperti ini.


Melihat Laras yang membatu, membuat Andra melangkah mendekatinya, dia memeluk sang Ibu dan menuntutnya ke ruang tamu diikuti dengan Kinan di belakang.


Mereka duduk di sofa, sesaat tak ada suara. Semua masih berdamai dengan mental nya masing-masing. Tak mudah mengingat masa lalu yang kelam, serta menerima semua dengan lapang dada.


"Maaf Bu aku baru cerita, aku nggak tega kalau masalah ini sampai terbongkar," ucap Andra lirih.


Tak ada jawaban dari Laras, dirinya masih membatu. Matanya mulai berembun. Jemarinya mencengkram erat ujung pakaian.


Mungkin dengan ini Andra bisa menyadarkan ibunya, meskipun di sisi lain dia tak tega melihat ibunya seperti ini.


Andra hanya lelah berusaha menyimpan dan terus tutup mulut, berusaha mengalah. Dan yang terpenting dia tak mau rumah tangganya hancur.


Dia menatap Laras dan Kinan bergantian, menunggu reaksi mereka selanjutnya.


"Kapan hal ini terjadi?" tanya Laras dengan dada kembang-kempis.


"Saat itu Kinan datang ke ayah untuk meminta restu, tapi di saat itu pula aku sudah memutuskan untuk menikahi Nada," ucap Andra menatap Laras.


"Bukankah dulu Ibu sangat bangga denganku? Aku bisa menikahi seorang suster yang sangat baik? Apakah ibu melupakan semuanya?'' lanjut Andra.


Laras menunduk dia tak mampu berkata, dulunya memang dia sangat suka dengan Nada. Akan tetapi, perekonomian mereka tidak stabil, hal itu membuat seolah Nada menjadi beban hidup mereka.


Dari dulu Laras selalu memanjakannya dan tidak pernah ingin putranya bekerja keras, roda berputar begitu cepat. Hingga akhirnya putranya mau tak mau harus bekerja keras.


"Ibu tahu? Saat itu Kinan sangat hancur, masa depannya tidak bisa tertolong. Dia depresi dan selalu ingin membunuh dirinya sendiri, itu yang membuat aku selalu mendukungnya." jelas Andra kembali.


"Ibu keliru kalau mengira kami punya hubungan spesial. Aku tidak pernah menganggap Kinan lebih dari teman dan tanggung jawab yang harus aku pikul selama hidupku." ucap Andra menundukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Andra hati Kinan terasa remuk, dia tahu selama ini hanya dia yang berusaha mewujudkan mimpinya bukan Andra.


"Tapi Dra, aku sangat serius kepadamu. Aku sanggup menerimamu meskipun kau nanti akan membawa Zaskia dan Alif bersamaku," ucap Kinan dengan mata berkaca.


"Bukankah kau tidak mendengar apa ucapan ayah?Bahkan Ayah pun tidak bisa membantahku apalagi kamu!" Andra menatap muka Kinan.


Laras terdiam tanpa suara, tubuhnya terasa kaku tidak dapat menerima semua kenyataan ini. Dia sudah mengontrol semua rasanya, semakin dia membuangnya. Maka, semakin erat pula rasa itu.


Laras termenung, telinganya seakan tak mendengar semua pertengkaran Andra dan Kinan. Ini terlalu cepat untuknya mengetahui hal tersebut, bahkan dia belum siap untuk membenci wanita yang menghancurkan rumah tangganya.


Mungkin ini yang harus dilakukannya sejak awal, dia masih ingat bagaimana suaminya mencampakkannya begitu saja tanpa alasan.


Materialis adalah sifat Laras sejak dulu, menikahi Bondan pun bukan atas dasar cinta. Dia kira harta akan bisa melengkapi hidupnya yang serba kekurangan.


Baginya mencintai suaminya adalah sebuah kebodohan. Dia mengutuk cinta yang tumbuh di antara mereka, kehadiran Andra merubah sudut pandang Laras. Tapi dia mendapatkan luka yang lebih dalam


"Ingat Ndra, Nada tidak mencintaimu lagi," ucap Kinan.


"Aku akan menerimamu, kapanpun. Kau datang kepadaku," lanjut Kinan menatap Andra teduh.


"Sayangnya aku tidak menyerah untuk mendapatkan maaf dari Nada, selama ini dia sudah bekerja keras untuk membangun rumah tangga ini. Dan aku tidak mau kehilangan berlian seperti Nada," ucap Andra tegas.


"Bahkan Nada sudah memberikanmu kepadaku, dia memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kalian." ucap Kinan meyakinkan Andra.


"Pergi!" ucap Laras lantang.


Andra dan Kinan saling bertatapan, baru kali ini dia mendengar Laras membentak mereka.


"Ibu baik-baik saja?" tanya Kinan penuh perhatian.


Laras menatap Kinan lekat, mata tajamnya sangat mengerikan.


"Apa kau begitu bahagia, setelah mencicipi Ayahnya kau juga mau mencicipi Anaknya!" ucap Laras mengeratkan rahang.


Mendengar Laras berucap demikian, seketika nyali Kinan menciut.


"Aku tidak mau melihatmu lagi. Kau bisa pergi sekarang!" gertak Laras beranjak dari kursinya.


Laras melangkah menuju kamarnya dan membanting pintu, kenyataan benar-benar melukai jiwa raganya.


Kinan segera beranjak dari kursinya dan melangkah pergi dengan mata berkaca, sedangkan Andra hanya mampu melihat kekacauan ini.


Setidaknya mereka bisa merasakan sedikit beban yang Andra pukul sejak lama, semoga dengan terkuaknya fakta ini. Kedua orang itu bisa sadar dan tidak menganggu ketenangan keluarganya.


Karena masih kelelahan, Andra kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Zaskia. Dia berusaha menjadikan mata kembali.


Sayangnya karena rasa bersalahnya, Andra tidak kunjung terlelap. Di otaknya masih menari-nari kejadian beberapa menit yang lalu.


Dia memutuskan untuk menemui Laras, pintu kamarnya tidak terkunci. Andra membuka pintu perlahan dan masuk ke kamar.


Tampak Laras yang meringkuk di dalam selimut, sepertinya saat ini dia sedang tak ingin di ganggu. Andra memang dapat mengerti hal ini, sehingga dia segera keluar.


Andra segera bergegas ke dapur dan memasak, di dalam kulkas sudah tidak ada sayuran segar. Jadi Andra berinisiatif untuk mengambil beberapa sayuran di taman belakang.


Cahaya oren mulai menghiasi langit gelap, sehingga keadaan tidak terlalu gelap. Andra segera mengambil beberapa lembar sawi dan daun bawang, tidak ketinggalan beberapa biji cabe.


"Nad, maafin aku ya." ucap Andra lirih.


Istrinya mengatur keuangan sangat baik, pantas saja dia dapat menghidangkan masakan meskipun uang belanja pas-pasan.


Mungkin kalau itu orang lain, pasti rumah tangga Andra sudah hancur seperti rumah tangga pertamanya.


Dia menyalakan kompor dan menaruh panci yang berisi air cukup banyak, Andra mulai membersihkan sawi dan mengiris beberapa bumbu.


Masakan andalannya hanyalah sayur bening dan sambal orek. Selain itu dia tidak bisa memasak menu lainnya.


Setelah masakan matang, Andra segera bergegas mandi. Setelah mandi, dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Nada pasti sangat lelah di sana.


Melihat Putrinya yang tertidur begitu lelap membuat Andra curiga, biasanya dia akan bangun saat subuh. Tapi ini sudah hampir jam 7 pagi, tapi Zaskia belum juga terbangun.


Andra mendekati Zaskia dan mengecek suhu tubuhnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.


Melihat nama Nada disana, Andra segera menggeser tombol hijau.


"Hallo, ada apa Nad?" tanya Andra.


"Apa!"