Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Membujuk Alif



Laras dan Kinan hanya terdiam melihat tingkah Nada, mereka sudah seperti patung yang tak di hiraukan olehnya. Tak ada rasa malu terpancar di wajah Nada.


Alif tersenyum riang, dia merentangkan kedua lengannya. Seakan mengerti maksud Alif, Nada dan Andra berjongkok bersama dan memeluk erat Alif.


"Bunda janji, nggak akan bertengkar lagi," ucap Nada berbisik.


Alif mengecup pipi Nada, kemudian menaik turunkan alisnya. Mata Nada semakin membulat, dan menggeleng kepalanya lirih.


"Ini tempat umum Nak, kan malu," ucap Nada, menyusuri sekitar dengan pandangannya.


"Kan kita keluarga, jadi nggak papa dong Bunda cium Ayah," ucap Alif polos.


Melihat Alif yang semakin banyak mau membuat Laras mendesah sebal, dia segera mendekati Alif dan memberi Alif sebuah kantong pelastik.


Sayangnya, Alif tidak menghiraukan. Dia lebih tertarik dengan kedua orang tuanya yang tidak segera memenuhi permintaanya.


Laras yang sebal mulai menarik paksa tangan Alif. Melihat putranya di tarik, Nada mendongakkan kepalanya, dia menatap tajam Laras dan Kinan bergantian.


Kemudian menolehkan pandangan dan mencium pipi Andra.


"Iya, Bunda lupa kalau kita adalah keluarga, jadi nggak perlu malu kalau berdamai di tempat umum." ucap Nada melempar pandangan ke Laras dan Kinan kembali.


Kebiasaan Nada saat kakak beradik ini bertengkar adalah, saling berpelukan dan mencium pipi. Lalu meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Hal ini yang membuat Alif, meminta Nada dan Andra untuk melakukan hal yang serupa. Nada melempar pandangan ke Alif, kemudian mengelus pucuk kepalanya.


"Jadi Alif mau ikut Nenek sama Tante Kinan?" tanya Nada kembali.


"Enggak, Alif capek. mau pulang aja," ucap Alif mulai menaiki motornya.


Ingin rasanya Nada meloncat kegirangan mendengar ucapan Alif, dia tidak menyangka kalau Alif akan mengatakan hal demikian.


Melihat Alif yang sudah naik di motor dan bersiap untuk pulang, Nada segera naik ke motornya. Sayangnya, Laras tidak melepaskan Alif begitu saja.


Laras mengulurkan kantong pelastik dan membuatnya, tampak sepasang sepatu di dalam. Lalu bagaimana reaksi Alif? Tentunya senang, Alif segera meraih kantong plastik tersebut.


"Nggak, aku nggak mau." ucap Alif bersi kukuh.


"Tapi sepatunya kan udah di ambil, masa nggak mau ikut?" tanya Laras, masih berusaha keras untuk merayu Alif.


Karena cuaca yang panas, Zaskia kegerahan dan mulai menangis. Dia ingin segera pulang dan istirahat di rumah.


Nada kembali mengalah, dia membujuk Alif untuk ikut dengan Neneknya. Mereka saat ini menjadi pusat perhatian, sudah seperti keluarga broken yang sedang memperebutkan anaknya.


Nada tak bisa menebak isi kepala putranya tersebut, bukankah dia ingin jalan-jalan beberapa hari ini? Tapi, saat kesempatan itu di depan mata. dia malah menolaknya


Nada yang mulai risih mendengar ocehan mertuanya yang sedari tadi membujuk Alif, yang tetap tidak di beri respon positif. Membuat Nada memutar otak.


"Gimana kalau Alif saya antar ketempat acara mbak Kinan, gimana?" tanya Nada.


Laras dan Kinan saling bertatapan. Entah mengapa tatapan mereka seperti menyiratkan suatu hal yang di tutupi.


"Jadi saya bonceng ibu, nanti Mas Andra biar bonceng Mbak Kinan?" ucap Nada, menatap lekat Andra.


Sekian tau dengan jawaban yang akan dia jawab oleh Laras, Nada segera naik ke motornya. Sedangkan Andra mulai salah tingkah.


Jujur, Nada tidak tau dengan apa yang di rencanakan mereka. Otak Nada sudah lelah, memikirkan apa lagi yang akan di lakukan oleh mertuanya ini.


Alif sudah duduk di belakang Nada, hanya tinggal menunggu Laras. Tapi, sepertinya Laras masih enggan naik.


"Cepetan dong Nek, panas nih," keluh Alif.


Pada akhirnya Laras lebih memilih pergi dengan Kinan, dia meminta Andra untuk turun dan memberikan motornya ke Kinan.


Kemudian mereka pergi menuju panti asuhan tempat acara Kinan di selenggarakan, karena selama di perjalanan Nada hanya diam. Andra memutuskan untuk memutar arah.


BERSAMBUNG....