Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Enak Mana?



Mendengar kericuhan di dapur membuat Nada segera menyelesaikan acara mandinya, dan membuka pintu kamar mandi.


Karena jarak antara dapur dan kamar mandi begitu dekat, Nada bisa melihat dapurnya yang porak-poranda setelah membuka pintu.


"Ada apa ini?" tanya Nada dengan suara melengking.


"Kami mau masak buat bunda," jawab Alif polos.


"Nggak usah ya, nggak perlu. Biar bunda yang masak ya," ucap Nada meraih Zaskia yang hendak menuangkan beras dari wadah.


Nada berjongkok dan membereskan panci-panci yang berserakan, dan menggendong Zaskia.


"Kamu sudah belajar?" tanya Nada.


"Sudah Bunda," jawab Alif semangat.


"Nanti biar aku yang beresin sayang, kamu istirahat aja," ucap Andra dengan suara merayu.


"Awas sampai nggak rapi lagi," ucap Nada yang melangkah menjauh sambil membawa Zaskia.


Di dapur Andra dan Alif sedang memasak, sesekali terdengar suara cekikikan dan yang paling perut Nada tergelitik adalah saat mendengar Alif yang berulang kali takjub akan atraksi Andra.


"Bisa nggak sih nggak berisik, tadi Ibunya sekarang malah bapaknya," ucap Laras berteriak.


Entah apa yang di ucapkan Andra, Nada tak begitu mendengarnya. Setelahnya Laras melangkah menjauh dari dapur.


Nada menaruh Zaskia di kasur dan berganti pakaian. Dia melepas handuk yang membalut rambutnya dan perlahan menyukainya.


Tampak rambut panjang yang menjuntai, Nada di buat terkejut saat tiba-tiba. Pinggangnya di peluk oleh sepasang tangan kekar.


"Makan yuk," ucap Andra berbisik.


"Aku sudah kenyang, kamu makan duluan sama anak-anak," ucap Nada acuh.


"Anak-anak nunggu kamu di luar," ucap Andra semakin mempererat pelukan dan menaruh janggutnya di pundak Nada.


Nada hanya terdiam, dirinya sudah enggan berpura-pura lagi. Dia tak bisa merasakan indahnya cinta Andra setelah kejadian tadi siang.


Nada melepas pelukan Andra dan melangkah keluar kamar, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Andra mencoba memahami sikap Nada saat ini. Dia melangkah mengikuti Nada dari belakang.


Di ruang makan sudah ada Laras dan Alif, Andra menggendong Zaskia dan duduk di kursi. Walaupun Nada enggan, tapi dia tak mau merusak mood Alif saat ini.


"Lihat Bunda, hasil karyaku sama Ayah," ucap Alif semangat.


Nada melangkah dan duduk di kursi kosong, mata Alif berbinar ketika Nada mulai makan, terlebih saat Nada menyendok kan sesuap nasi ke mulutnya


Sontak Alif tepuk tangan saat sesuap nasi goreng itu sudah di kunyah oleh Nada,


"Wah, Alif hebat. enak banget yaa" puji Nada.


Hal yang paling Nada hindari adalah, saat Andra memasak di dapur. Bawang yang biasanya cukup sampai satu Minggu, akan habis dalam waktu satu malam.


Nada hanya tersenyum manis menatap Alif dan melanjutkan makanannya, tak ada obrolan. Karena memang mereka sedang perang dingin masing-masing.


Setelah acara makan nasi gorengnya selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Alif dan Zaskia berbaring di tempat tidurnya.


Mungkin Alif dan Zaskia masih lelah, sehingga mereka cepat tertidur. tinggal Nada dan Andra yang masih terjaga. Mereka duduk, tak ada obrolan di antara mereka.


Menit demi menit berlalu, kini berganti jam. Andra hanya duduk dan memperhatikan Nada yang sedang asik dengan ponselnya.


Andra mencoba membuka obrolan, agar suasana tidak hening dan berkelanjutan.


"Maaf," ucap Andra.


Nada tak merespon, Jemarinya masih berselancar indah di layar ponsel. Sampai pada akhirnya baterai Nada harus habis dan layar ponsel meredup.


Nada bangkit dan menyambungkan charger ke ponselnya, dan sekali lagi. Tangan Andra merangkul erat pinggulnya.


Kecupan-kecupan lembut bermain indah di tengkuk Nada, semakin lama semakin intim hingga Nada memutar tubuhnya.


"Jadi lebih enak mana, aku apa Kinan?" tanya Nada.


Mendengar pertanyaan Nada membuat tombak yang sudah berdiri sempurna seketika bengkok. Andra menghentikan aktifitasnya.


"Aku nggak ngapa-ngapain Nad," ucap Andra.


"Oiya, benarkah? Aku pastikan 5 menit sudah cukup kan?" ucap Nada semakin menatap lekat Nada.


"Astaghfirullah, Nad. Aku nggak ngapa-ngapain demi Allah." ucap Andra membelalakkan matanya.


Perdebatan mereka berhenti saat mendengar deringan ponsel Andra yang berbunyi berkali kali.


BERSAMBUNG.....