Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Aku Bisa Tanpamu



Saat ini Alif sangat senang, untuk pertama kali ini Nada melihat Alif sebahagia ini. Dia berlarian di tengah hamparan rerumputan hijau, berulang kali Nada berteriak memanggil Alif.


Akan tetapi, Alif tetap tak merespon. Dia terlalu bahagia jadi tak peduli sepanas apapun terik matahari membakar kulitnya. Dia tetap menikmatinya dengan senang hati.


Sedangkan Andra dan Nada duduk di tepi lapangan, mereka duduk di sebuah lesehan yang menyajikan es serut dengan aneka toping.


Mungkin Alif sudah lelah karena berlarian, dia melangakahkan kaki mendekat ke tempat duduk dia dan membaringkan tubuhnya ke pangkuan Nada.


Pesanan mereka datang, 4 mangkuk Es serut dengan toping sirup warna merah dan hijau. Di tambah guyuran susu dan beberapa potong cincau.


Melihat pesanannya datang, Alif semakin berbahagia, dia bersorak dan melahap es tersebut. Nada dan Andra masih canggung, meskipun mereka sudah berbaikan di depan Alif. Sejujurnya di dalam hati mereka masih tidak bisa berdamai, terutama Nada.


Selesai dengan semangkuk es serut, Alif kembali berlarian, saat ini dia berlari menuju taman bermain yang tak jauh dari lesehan tersebut.


Karena terlalu bahagia, dia menggendong Zaskia dan mengajaknya bermain di perosotan. Kini tinggal Nada dan Andra yang duduk di kursi taman.


"Kamu masih marah?" tanya Andra.


"Nggak, cuma belajar menerima keadaan aja," jawab Nada tanpa eskpresi.


"Kinan hanya memakai jasa ojekku, dan sepatu itu hadiah untuk Alif," ucap Andra menjelaskan.


"Apapun kebenaranya aku juga nggak tau," ucap Nada membuang pandangannya.


Nada menatap kosong ke arah anak-anaknya, otaknya melayang jauh. Dia hanya tak menyangka mertuanya akan setega itu. Dia memang tak bisa memberikan Alif sebuah sepatu, tapi bukan berarti dia tak mampu memberikan kebahagiaan untuknya.


Di tambah hatinya semakin terluka saat melihat suaminya malah berboncengan dengan wanita lain.


Semua perjuangan telah dia lakukan, mulai dari bersabar menghadapi Laras. Menutup telinga dengan rapat dan tak mendengar semua omongan tetangga yang menusuk hatinya, dan bisa di pastikan siapa yang memulai obrolan itu.


Apa yang Nada lakukan? Diam. ya hanya diam, dan apa yang dia dapatkan? Kesakitan yang lebih dari sebelumnya.


Dering ponsel Andra berdering kencang, dia menatap layar ponsel yang tertulis nama Laras di sana. Sebenarnya dia enggan menggeser tombol hijau, saat ini karena melihat keadaan Nada sedang tidak baik-baik saja.


Perlakuan ibunya kali ini sungguh keterlaluan. Andra duduk dan menggenggam jemarin Nada.


"Maaf kalau aku membuatmu terluka, aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Andra menunduk


Nada menghela nafas panjang, sudah berulang kali dia melakukan itu. Hanya untuk menenangkan hatinya yang kacau, selebihnya seperti biasa, bersabar dan bersabar.


"Jujur Mas aku capek banget, aku sampai lupa sama jati diriku. Aku merasa berjuang sendiri." ucap Nada melempar pandangan sesat ke arah Andra.


Kenyataannya, walaupun dia bukanlah ibu kandungnya, tapi rasa sayang Alif kepada Nada bagaikan ibu dan anak kandung.


Melihat Alif begitu sayang ke Zaskia membuat Nada lebih bersyukur memiliki Alif. Dia tak pernah pilih kasih dengan kedua anaknya


"Kamu maunya gimana?" tanya Andra mendongakkan pandangannya.


Tampak wajah cantik Nada dengan tatapan sedihnya, matanya mulai berkaca-kaca dan mulai meneteskan buliran bening.


"Mau hidup sendiri, tanpa ada ibumu." jawab Nada tanpa ekspresi


Andra sudah menebak apa yang akan Nada ucapkan, dia hanya terdiam sesaat, dia tak mampu menjawab ataupun menolak bahkan menyanggupi permintaan Nada.


"Jadi bagaimana?" ucap Nada sekilas melempar pandangan masam ke Andra. Tampak Andra yang terdiam seribu bahasa.


"Sudah ku tebak, memang takdirku hanya untuk berjuang sendiri demi anak-anakku, berusaha tetap waras di saat situasi memaksaku nuntuk gila,'' ucap Nada tersenyum kecut.


"Bahkan suamiku sendiri tak bisa menyelamatkan kewarasannku." lanjut Nada


Dering ponsel berdering semakin kencang, Andra masih saja terdiam di tempat duduknya. Tangannya masih menggenggam jemari nada.


"Pergilah, aku bisa pulang sendiri." ucap Nada menatap kedua anaknya yang asik dengan ayunan.


Andra masih terdiam, tak ada niat baginya untuk beranjak dari kursi, Nada menarik jemarinya dari tangan Andra. Dia beranjak dari kursinya dan hendak melangkah.


"Seperti bisanya, aku bisa melakukan semuanya sendiri. Jangan menatapku seperti itu seolah kau selalu ada di sampingku," ucap Nada melangkah pergi mendekati kedua anaknya.


Andra mengikuti langkah Nada di belakang, melihat Nada tak membutuhkan kehadirannya, dia segera memanggil kedua anaknya dan melambaikan tangan.


Sayangnya tak ada satupun yang menoleh ke arah Andra mereka sibuk dengan mainanya. Hati Andra merasa teriris ketika melihat kedua anaknya yang tak menganggap kehadirannya.


Mungkin ini yang di maksud Nada, dia selalu bilang untuk menyisihkan waktu bermain dengan anak-anak walaupun sebentar, tapi dia tak pernah menyanggupinya. Ternyata dampaknya sangat menyayat hati.


Nada mengayunkan tangannya, hanya dengan ayunan tangan kedua anaknya langsung berhamburan mendekati Nada.


"Ayah mau berangkat kerja lagi? Jadi kita nanti pulang sendiri atau ikut pulang sama Ayah?" tanya Nada dengan senyuman merekah.


BERSAMBUNG....