Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Ancaman Nada



Dokter keluar dari ruang UGD, dia terbelalak ketika melihat seorang yang sangat di kenal. Sedang duduk dengan wajah yang sangat pucat.


"Nada?" ucap Sang Dokter melepas maskernya.


Nada melebarkan matanya ketika melihat sosok yang saat ini berada di hadapannya, entah mengapa belkangan ini banyak sekali orang di masa lalunya yang datang kembali.


"Dokter Satria?" ucap Nada tak menyangka akan di pertemukan kembali dengan teman lamanya.


Nada segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Satria, dengan mata berkaca dia menatapnya dengan penuh harap.


"Bagaimana putra saya Dok?" tanya Nada dengan air mata yang hampir rembes.


Satria menatap Nada dengan tatapan sedih, dia beberapa kali menepuk pundak Nada. Mencoba menenangkannya, karena kabar yang akan dia sampaikan. Bukanlah kabar yang begitu baik baginya.


"Nggak, anak saya pasti akan baik-baik saja kan?" ucap Nada menutup mulutnya, berusaha menahan isak.


Melihat tatapan Satria, sudah dapat di pastikan kalau ada yang tidak beres dengan anaknya. Bagaimanapun dia pernah bekerja menjadi bawahannya, dan ekspresi ini bukanlah pertanda baik.


"Bukankah Allah akan mendengar do'a-do'a yang tulus, kamu juga menyaksikan bukan? Bagaimana semua tertolong dengan pertolongan Allah." ucap Satria menatap lekat Nada.


"Aku mau Dokter bicara secara gamblang, saya tidak suka dengan jawaban yang tidak pasti seperti ini." ucap Nada, berulang kali dia menghapus air mata yang rembes ke pipi.


Satria menghela nafas panjang, dia memegang pundak Nada dan kembali menatapnya.


"Anakmu mengalami pendarahan di otaknya, kami akan melakukan hal yang terbaik untuk pasien. Kau kenal aku kan? Aku tak akan pernah mengecewakanmu lagi. Aku janji," ucap Satria memeluk Nada.


Darah Andra naik ke ubun-ubun ketika melihat Nada di peluk dengan seorang Dokter, seketika dia melangkah mendekati Nada dan melepaskan pulang dokter tersebut.


"Anda bisa bersikap profesional kan?" ucap Andra, berdiri di hadapan Satria.


Satria tak langsung menjawab pertanyaan Andra, dia menatap seorang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam


Terukir senyum tipis di wajah tampa Satria, dia tak menyangka seorang ini bisa menaklukkan hati Nada yang keras.


"Maaf ya Mas, saya cuma berpesan. Jaga milikmu sebelum hilang, karena kamu tidak tau seberapa berharganya yang kamu punya itu di mata orang lain," ucap Satria memeluk pundak Andra dan melewatinya begitu saja.


Melihat Satria yang melangkah menjauh, hati Nada semakin hancur. Dia tak bisa menerima semua kenyataan pahit ini.


Andra segera memutar badannya dan menatap tajam ke arah Nada, sesekali dia menggoyangkan tubuh lemasnya.


"Siapa lagi dia?" ucap Andra dengan mata memerah.


Nada tak memperdulikannya, dia masih mencoba menahan laju air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Ternyata benar apa kata Ibu, kau memang pelacur!" ucap Andra penuh amarah.


Sekali lagi Nada tak menghiraukan, dia melepaskan cengkraman Andra di pundaknya dan melangkah menuju kursi.


Di otak Nada hanya ada Alif semata, selain itu dia tak peduli. Masalahnya sudah sangat banyak selama ini, dan orang yang selalu memberikannya semangat adalah seorang anak yang saat ini sedang bertaruh nyawa.


Dia tak pernah tau apakah Allah lebih sayang kepada bocah itu atau dirinya? Yang jelas untuk saat ini, dia tak rela kalau sampai terjadi apapun kepada bocah tersebut.


Andra mengikuti langkah Nada, dia berdiri di hadapan Nada dengan berkacak pinggang.


"Katakan, sudah berapa Dokter yang kamu layani disini?!'' ucap Andra dengan suara lantang.


"Selain Faisal, Satria, Siapa lagi hah!'' lanjut Andra meluapkan emosinya.


"Sudah Ibu bilang, orang ini tidak pantas untuk Alif," ucap Laras.


Mendengar ucapan Laras, seketika Nada mendongakkan pandangannya. Dadanya semakin bergemuruh, matanya memerah padam.


Dia segera bangkit. Mata merah Nada menatap lekat Andra dan Laras bergantian.


Plak ...


Satu tamparan mendarat di pipi keriput Laras, dada Nada kembang-kempis. Dirinya sudah tak mampu menahan amarah yang sudah terpendam terlalu lama.


Laras merasakan panas di pipinya, matanya menatap Nada penuh dengan amarah. Dia mencoba membalas Nada.


Nada segera mencengkram tangan Laras saat hendak melayangkan pukulan, entah dia dapat kekuatan dari mana? Laras tersungkur saat Nada mendorongnya dengan satu tangan.


"Kamu gila, hah!" ucap Andra.


Nada yang seperti kesurupan tiba-tiba menyerang Andra, dia melambungkan kakinya ke perut dan melayangkan pukulan ke pipi Andra.


Seketika Andra jatuh tersungkur menyusul Laras.


"Denger baik-baik, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Alif. Hidup kalian akan membusuk di penjara! Kalian mengerti!" ucap Nada dengan dada kembang kempis.


"Aku selama ini sudah sabar. Kalian bisa meremehkan ku, atau bahkan menyiksaku. Tapi nggak sama anak-anak ku," ucap Nada mengacungkan telunjuknya ke hadapan Andra dan Laras.


"Menjebloskan kalian ke penjara, bukanlah hal yang berat untukku. Jadi jangan main-main lagi denganku." ucap Nada dengan tatapan penuh amarah.


"Dan kau! tunggu saat surat cerai akan datang untukmu!" ucap Nada melangkah menjauhi keduanya.


Melihat Nada sudah pergi, Kinan segera membantu keduanya untuk bangun. Dia sangat merasa bersalah telah menghancurkan keluarga Andra saat ini. Sejujurnya tak ada niat sedikitpun baginya untuk membuat situasi semakin kacau.


"Maaf ya Bu, Ndra ... Nada jadi salah paham." ucap Kinan dengan mata berkaca.


"Kamu nggak salah kok, aku aja yang belum menjelaskan semuanya kepadanya." ucap Andra.


"Kamu itu ya, punya istri seperti itu masih aja di pertahankan. Ceraikan aja, ribet banget." ucap Laras menggerutu.


"Aku mohon Ibu jangan memperkeruh suasana," ucap Andra. Kemudian melangkah dan duduk di kursi.


Dia menyandarkan punggung lelahnya di sandaran kursi, tatapannya menatap ke langit-langit rumah sakit dengan nuansa putih.


Dia tak menyalahkan Nada dengan segala sikapnya, karena memang wanita manapun tak akan rela jika melihat lelakinya menyentuh wanita lain.


Tapi masa lalu telah membuat Andra terjepit sampai saat ini, bila di beri pilihan. Dia tidak akan pernah memilih jalan seperti ini.


Kinan duduk di samping Andra, dia menatap wajah tampan yang selama ini dia dambakan. Berada di sampingnya. Akan tetapi, tak mampu untuk menggapainya.


Selama ini dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakan pria ini, semakin dia melupakan. Malah semakin erat rasa itu menjeratnya.


Yang Kinan lakukan selama ini hanya menikmati semua perasaan terlarang yang lama dia pelihara, tanpa tau kapan akan terbalas.


Dia pikir, dia akan mendapatkan semuanya. Dirinya tak peduli dengan apapun konsekuensinya, tapi itu semua pupus saat ini.


Bahkan dia tak ingin mengorbankan anak Andra, dia juga tak menyangka hal ini akan terjadi.


BERSAMBUNG....