
Andra mendekati Faisal,
"Lo nggak tau perjuangan gue mempertahankan Nada, kalau lo memang suka sama dia kejar aja. Asal Lo bisa bahagiain dia, gue ikhlas," ucap Andra berbisik.
Andra melewati Faisal begitu saja, tidak ada waktu untuknya berkelahi. Keadaan putranya lebih penting saat ini. Nada sudah tidak nyaman bersamanya, dan Andra tidak mau egois dengan perasaannya.
Beberapa langkah kemudian sampailah Andra di sebuah bangsal, tepat di mana Alif dirawat sebelumnya. Nampak Nada yang masih duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Tak ada pergerakan, hanya duduk dengan tatapan kosong dengan air mata yang terus mengalir. Jemari yang terus saling mencengkram.
Andra mendekatinya, mendengar langkah kaki yang terdengar familiar. Nada melempar pandangan ke arahnya.
Melihat Andra yang mendekat, membuat hati Nada semakin hancur. Ingin sekali dia melampiaskan amarahnya, namun apalah daya. Nada bukanlah seorang wanita brutal.
"Kenapa Zaskia bisa sakit?" tanya Nada dengan wajah merah padam.
"Kan aku sudah bilang, jaga Zaskia baik-baik. Tapi apa?" Nada bangkit dari kursinya dan mendorong Andra kasar.
"Sekarang aku harus gimana? kedua anakku sakit. Semuanya gara-gara kamu!" ucap Nada dengan suara lantang dan berlinang air mata.
"Aku menyesal menikah denganmu," ucap Nada.
Andra melewati Nada begitu saja, bibirnya begitu kelu. Tak dapat menjawab satupun pertanyaan yang di lontarkan Istinya.
Melihat Andra yang tanpa ekspresi membuat Nada semakin lemas, dia merosot ke lantai. Kakinya sudah tak bisa berpura-pura untuk tegar dan kuat.
Melihat nada yang duduk di lantai, Andra segera meraih pundaknya dan menuntunnya untuk duduk di kursinya kembali. Dengan lembut dia memeluk Nada dengan lembut.
"Aku janji, aku akan menyelesaikan semuanya Nad, Aku janji. Maafkan aku," ucap Andra memohon kepada Nada dengan isak tangis.
"Aku bisa menerima segalanya Mas, amarah Ibu, fitnah yang merajalela, tidak dihargai. Bahkan pernikahanmu kelak dengan Kinan, Demi Allah aku ikhlas Mas. Tapi tolong, jangan sekalipun kalian menyentuhnya. Aku nggak akan rela, Demi Allah!" Suara Nada sudah serak tak mampu berkata lagi.
"Jangan seperti ini Nad, aku yakin kita pasti mampu melewati semua ini," ucap Andra mengecup pucuk rambut Nada dengan air mata yang menetes, dia tak mampu menahan rasa tidak berdayanya saat ini.
Masa bodo baginya bila banyak yang melihatnya sebagai pria lemah, atau bahkan takut istri. Dia memang takut kehilangan Nada dan keluarga kecilnya.
Karena keluarga harmonis itu, adalah hubungan suami istri yang saling melengkapi. Di saat mereka dalam posisi terendahnya, dan itu semua ada pada Nada.
Tidak semua wanita bisa menerima pasangan dengan segala kekurangannya, dan tidak semua pasangan menuntut akan hal itu.
Kita tak perlu mendengarkan apa kata orang? Karena kita punya perasaan yang bisa merasakan setiap perilaku orang masing-masing di sekeliling kita,
Di dalam hubungan pernikahan, tak ada lagi yang namanya kata romantis. Karena setiap perhatian kecil yang pasangan berikan adalah action nyata dan akan jadi terbiasa.
Tidak usah ada kata pembuktian, karena sikap setiap pasangan akan mampu kita nilai dengan perasaan. Perasaan batin yang kuat antara satu sama lain.
Akan tetapi, sangat jarang setiap pasangan mengerti hal ini. Karena kesibukan ego masing-masing.
Tak lama kemudian datang seorang suster yang melangkah mendekati Nada dan Andra.
"keluarga pasien atas nama Alif?" tanya suster tersebut.
Mendengar ucapan suster, Andra dan Nada segera beranjak dari kursinya. Dia segera melangkah mendekati suster tersebut dengan pandangan yang memancarkan sebuah kecemasan.
"Dokter Satria mencari anda semua, belia ingin bertemu dan menyampaikan sesuatu hal penting mengenai perkembangan Ananda Alif," ucap suster ramah.
Suster tersebut melangkah menuju ruangan Satria, diikuti oleh Andra dan Nada yang mengikuti di belakang. Tanpa di sadari mereka saling berpegangan tangan dan menguatkan satu sama lain.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di sebuah ruangan. Suster membuka pintu dan menyuruh Andra dan nada masuk
Di dalam sudah ada seorang pria tampan dan gagah duduk di sebuah kursi kerjanya, seorang dengan postur tegap dan kulit putih bersih dan paras menawan.
Entah mengapa dulu Nada bisa memilihnya? Padahal ada sebuah berlian yang menantikan kehadirannya. Kemudian saat ini, dia malah di sakiti bertubi-tubi.
Kalau Pria itu tau? Apakah dia akan mere itu Nada dari Andra?
"Selamat pagi Andra, Nada. Senang bisa ketemu kalian kembali. Silakan duduk," ucap sang dokter mempersilakan Andra dan Nada segera masuk dan duduk di hadapannya.
Andra dan nada saling berpandangan seolah mengisyaratkan kalau jantung mereka sama cepatnya berdetak
keduanya memancarkan kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam, takut kalau ada hal yang buruk akan datang kembali.
Begitu pula Satria, wajahnya tampak kebingungan mulutnya terbuka menutup. Ingin sekali menjelaskan bagaimana kondisi Alif saat ini, tapi dirinya masih tidak tega dengan kedua orang di depannya.
Keduanya tampak berantakan, kantong mata hitam dan mata merah yang di pancarkan keduanya sudah menyampaikan lebih dari mana penderitaan yang mereka alami beberapa hari ini.
"Bagaimana kondisi Alif dok?" tanya Nada yang sudah tidak sabar mendengar kabar putranya.
Satria menaruh nafas panjang, berusaha untuk segera memberi tahu bagaimana keadaan anak mereka sebenarnya. Tanpa harus melukai perasaan mereka.
"Sudah 3 hari berlalu, seharusnya masa kritisnya sudah lewat. Kalau kondisi Alif terus seperti ini, maka tidak akan ada harapan lagi. Bukankah kau tahu itu?Tanya Satria menatap Nada.
Ya, Nada tau. Bahkan dia mengerti bagaimana kondisi putranya tanpa harus di jelaskan oleh Satria, hanya saja dia berusaha menutupi kebenarannya.
"Bukankah sebagian pasien akan sadar dalam waktu 7 hari?" Tanya Nada menatap lekat Satria.
"Ya itu benar, maka dari itu. Saya mohon doa kalian untuk kesembuhan Alif, semua tim sudah bergerak dan berjuang untuknya. Kini tinggal Alif yang harus berjuang untuk meraih hidupnya sendiri," ucap Satria menundukkan kepalanya.
Entah mengapa Alif tidak segera sadar, padahal rekam medis menunjukkan kondisi Alif yang membaik. Tak ada pendarahan otak dan masalah serius lainya, hanya saja jantungnya yang masih lemah.
"Semua tim sudah melakukan upaya untuk penyembuhan Alif, tak ada masalah serius di kepalanya. Kalau kedepannya detak jantungnya kembali normal, bisa di pastikan Alif akan segera sadar," ucap Satria menjelaskan.
Andra terdiam, dia tak mampu melontarkan komentar. Saat ini dia merasa sangat bersalah harusnya dia tidak hadir di kehidupan Nada dan merusak kehidupan bahagianya.
Andai saja Nada bersama dokter Satria ataupun Faisal, dia pasti mendapatkan kebahagiaan yang tidak dapat dia berikan selama ini.
Melihat dokter Satria yang sukses dan faisal yang sangat menyayangi Nada membuat Andra sadar, betapa istimewanya istrinya. Tapi dia malah memberikan penderitaan yang tiada habisnya.
Andra janji pada dirinya sendiri, dia tak akan memaksakan kehendaknya. Terserah Nada kelak akan mengakhiri hubungan ataupun mempertahankan. Tapi Andra berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Saya dengar Zaskia juga dirawat?" tanya Satria menatap Nada dan Andra bergantian.
"Semalam Zaskia demam, saya hanya memberinya penurun panas. Tapi saat pagi hari panasnya tambah tinggi," jawab Andra menjelaskan.
Satria tersenyum menatap Andra, dia tidak menyangka. Kalau dia bisa menjadi Ayah yang siaga meskipun banyak rumor buruk yang berseliweran.
"Dia dehidrasi, tadi sudah di pasang infus. Jangan khawatir, mungkin selama 3 hari perawatan dia akan kembali sehat," ucap Satria tersenyum teduh.
Beberapa menit selanjutnya hanya obrolan ringan, hingga akhirnya pasangan suami-isteri tersebut keluar dari ruangan Satria dan melangkah ke bangsal anak.