
Nada duduk di kursi, beberapa temannya duduk di bed kosong. Mereka menatap wajah lesu temannya tersebut.
"Yah, bengong lagi." ucap Laras membuang pandangannya.
Nada hanya menatap datar ke arah teman-temannya, dirinya sibuk memikirkan tema untuk memulai obrolan.
"Zaskia pasti sembuh kok Nad," Rina menepuk pundak Nada.
Nada mengangguk lirih, di antara semua temannya hanya Laras dan Faisal yang mengetahui permasalahan rumah tangganya.
"Maaf ya, kalian jadi ikutan sedih. Yaudah kita makan aja dulu, gimana?" Ajak Nada membuka kantong kresek yang berisi beberapa bungkus siomay.
Nada mengulurkan satu persatu siomay ke teman-temannya, tanpa mereka sadari seorang pria sedang bersandar di balik tembok.
Telinganya terpasang di sisi tembok untuk mencuri dengar obrolan di dalam, sayangnya tak ada petunjuk apapun dari obrolan mereka.
Pria tersebut akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kamar tersebut,
"Nad, sebenarnya kamu kenapa sih?" ucap Andra bermonolog.
Sekian menit berlalu, acara makan siang mereka berakhir. Satu persatu teman Nada pergi dari kamar Zaskia.
Hanya Laras yang masih fokus dengan ponsel dan sepotong siomay yang masih berlarian di mulutnya. Dia menatap lekat Nada yang berusaha menyampaikan sesuatu dari tingkahnya.
"Udah mau ngomong apa? Jam istirahat gue udah hampir habis nih," ucap Laras menatap lekat Nada.
"Gue ..." ucap Nada terpotong, mulutnya terbuka mengatup.
Laras segera menyelesaikan makannya dan menaruh ponselnya di nakas, dia melangkah mendekati Nada yang masih duduk terdiam.
"Lo mau gimana sekarang?" Tanya Laras, seolah dia tau apa yang sedang di pikirkan Nada.
"Gue mau nyerah aja Ras, udah capek banget," ucap Nada putus asa.
"Lalu anak-anak gimana?" tanya Laras menatap punggung Nada yang membelakanginya.
Tak ada jawaban dari Nada, hanya terdengar hembusan nafas panjang dari mulutnya.
"Dulu gue selalu menunda perpisahan hanya demi alasan yang sama, yaitu Anak-anak. Tapi, semakin gue nunda malah mereka semakin tertekan" ucap Nada datar.
"Gue nggak tau, ini bakalan berdampak giman sama anak-anak. Tapi sementara waktu ini gue cuma pengen tenang aja, entahlah kalau Alif sudah sadar," lanjut Nada membalik tubuhnya.
"Haduh, gue bingung banget maksud Lo gimana," ucap Laras menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Enggak ada rumah tangga yang baik-baik aja, gue pun kelihatanya tanpa beban kaya' gini. Rumah tangga gue juga acak kadut. Hanya kita aja yang perlu mengatur ego, semakin sabar kita. Mama semakin hancur juga jati diri kita, hanya bonusnya anak-anak akan mendapatkan kebahagiaan orang tua yang utuh," lanjut Laras.
"Kalau Lo nggak sanggup, Akhiri aja sekarang. Jangan menunggu, masalah yang Lo simpen akan meledak akan saja. Dan korban ledakan itu adalah anak-anak Lo," ucap Laras meraih ponselnya yang berada di nakas.
"Coba Lo pikir lagi, yaudah gue mau kerja lagi. Semangat." ucap Laras menepuk pundak Nada dengan senyuman tipis.
Nada hanya menatap Laras yang menghilang di balik pintu, semua ucapan temanya itu terus terngiang di telinganya.
Haruskan dia menunda perpisahan? Kuat kah dia untuk melewati semua ini?
Di sisi berbeda, Andra sedang memarkirkan motornya di teras rumah. Tubuhnya tampak lelah dan lesu, beberapa hari ini jiwa raganya seakan di hajar habis-habisan.
Dia membuka pintu,
"Ibu!"