
Nada duduk kembali di kursinya, Kinan masih berdiri pada posisi semula. Bibir Kinan terbuka mengatup, seolah ingin menyampaikan suatu hal tapi sangat berat.
Nada berusaha menahan emosinya, siapa wanita yang betah? Berlama-lama berada di samping seorang yang sudah membuat anaknya terbaring lemah saat ini.
"Nad, aku juga wanita sama sepertimu. Aku tau kau sangat tersiksa belakangan ini, maafkan aku yang selalu membuat kamu dan Andra salah sangka setiap harinya," ucap Kinan lirih.
Nada masih terdiam, dia masih fokus menatap Alif yang masih terlelap. Kinan melempar pandangan ke Alif.
"Kemarin aku melihat Mas Andra duduk di trotoar bersama Alif, sepertinya mereka tidak baik-baik saja. Jadi aku berinisiatif menghibur nya, sayangnya yang terjadi malah sebaliknya." ucap Kinan menahan isaknya.
Mendengar ucapan Kinan, hati Nada semakin bergemuruh. Ternyata benar apa yang dia kira, Alif terlalu sensitif dengan masalah intim orang tuanya. Nada ingat kalau semalam Alif mendengar pertengkaran dia dan Andra, sehingga terbawa ke moodnya yang berantakan.
"Ya benar, aku memang kegatelan. Aku yang selalu meminta Mas Andra untuk selalu berada di dekatku, maafkan aku Nada. Aku tidak berdaya," ucap Kinan, semakin terisak.
Apa yang Nada lakukan? Hanya diam. Hatinya sudah lelah untuk memikirkan hubungannya dengan sang suami. Meskipun Kinan akan mengungkap semua saat ini, tak ada sedikitpun rasa untuk melawan.
"Tapi semuanya sia-sia, semakin keras aku mengejar. Maka semakin jauh pula Mas Andra," ucap Kinan sambil menghapus air matanya.
Mendengar tangisan pilu Kinan membuat Nada melempar pandangan ke arahnya, tampak raut putus asa yang terpancar di wajahnya.
"Kau bisa memperjuangkan Mas Andra," ucap Nada tanpa ekspresi.
"Lakukanlah, aku tidak akan mengganggumu," ucap Nada mendongakkan kepalanya.
Kinan segera duduk di lantai dan memeluk kaki Nada, dia tak menyangka akan jawaban wanita di hadapannya. Padahal dia sudah bersiap bila Wanita ini akan menyerangnya.
Pantas saja Andra mempertahankan Nada, tidak ada seorang wanita yang bisa menerima kejujuran dari seorang yang berusaha merusak rumah tangganya.
Kinan semakin menangis tersedu-sedu, ada rasa bahagia juga rasa takut yang bercampur jadi satu. Mungkinkah yang di katakan Nada benar? Apakah ini bukan sekedar mimpi belaka?
Jangan tanya bagaimana reaksi Laras yang berada di balik tembok. Dia saat ini sudah meloncat-loncat kegirangan mendengar jawaban Nada.
Harusnya dari dulu Nada bertingkah seperti ini, jadi dia bisa merasakan kemewahan kembali tanpa harus melihat putra kesayangannya banting tulang.
Selama ini Andra selalu dia manja, gara-gara suaminya pergi tanpa sebab membuatnya harus berkerja keras.
"Lepas!" ucap Nada sinis.
"Meskipun aku mengizinkanmu merebut Andra dariku, bukan berarti kita berteman dan kau bisa seenaknya menyentuhku," ucap Nada dingin.
"Tanganmu terlalu kotor untuk menyentuhku," ucap Nada tanpa ekspresi.
Pedas, baru kali ini Nada melontarkan kalimat yang menusuk jiwa. Tapi Kinan tak mempermasalahkan, dia melepas pelukannya dan kembali berdiri. Dia menghapus linangan air mata yang tersisa di pipinya.
Kinan bisa menerima perlakuan Nada terhadapnya, ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan amukan yang memalukan.
"Aku rasa semua sudah jelas, jadi kau bisa pergi sekarang." ucap Nada.
"Terimakasih Nad," ucap Kinan perlahan melangakhkan kaki untuk pergi.
Di saat yang bersamaan ada seorang perawat laki-laki masuk ke ruangan Alif, dia membawa sekantong pelastik yang entah apa isinya.
Faisal datang menemui Nada, langkahnya terhenti saat mendengar isakan pilu Nada.
"Maafkan Bunda Nak, Bunda tidak sekuat yang kamu kira." ucap Nada mengecup lembut jemari Alif.
Pundak Nada sampai bergerak naik-turun, melihatnya seperti itu membuat hati Faisal teriris. Matanya mulai berkaca-kaca, seolah dia merasakan penderitaannya.
Selama ini Nada adalah wanita kuat yang Faisal temui, bodoh bila Andra sampai kehilangan dia. Terlebih ada buah hati yang masih membutuhkan kasih sayang mereka.
Senang? Ya, harusnya Faisal senang ketika melihat Nada dan Andra bertengkar. Ini merupakan kesempatan baginya untuk mengejar cinta Nada.
Tapi percayalah, takdir hanya Tuhan yang tau. Sekuat apapun kita mengejar, kalau kita tidak berjodoh. Maka usaha kita akan sia-sia.
"Udah, yuk makan dulu." ucap Faisal mengelus punggung Nada.
"Ya jenguk keponakan gue lah," ucap Faisal melempar senyuman.
Nada membalas dengan senyum kecil, jemarinya menghapus air mata yang sudah mulai berhenti. Dia menaruh nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dia cukup malu karena kehancurannya di ketahui oleh Faisal, dulu dia pernah bilang kalau Andra bukanlah pria yang baik. Tapi Nada yang keras kepala, tak mau menghiraukan.
Kini, hanya dengan melihat Faisal saja. Dia sudah merasa wajanhanya tercoreng.
"Nangis juga butuh tenaga loh, nih makan dulu. Entar di lanjut lagi nangisnya." kekeh Faisal.
Faisal menarik sebuah papan yang terselip di nakas rumah sakit, dia membuka kantong kresek dan mengeluarkan sebungkus nasi dan segelas teh hangat.
Aroma nasi Padang menyeruak Indra penciuman Nada, seketika perutnya keroncongan. Seolah cacing di perutnya ikut mencium aroma lezat ini.
"Nih, makanan favorit Lo!" ucap Fasial duduk di samping Alif yang masih terlelap.
Karena sejak pagi dia tidak memasukkan apapun ke lambungnya membuat Nada segera melahap nasi tersebut. Rasa lapar lebih dominan dari pada rasa malunya.
Melihat Nada yang langsung melahap nasi bungkus yang dia berikan membuat mata Nada berkaca, dia tak menyangka hidup temannya akan sesulit ini. Padahal dulunya dia sangat baik dan suka menolong.
Faisal masih ingat berapa seringnya Nada memberinya seporsi makan tiap jam lembur. Saat itu dia dihimpit hutang yang banyak, sehingga untuk makan pun harus berhemat.
Nada salah tingkah melihat Faisal yang terus menatapnya.
"Heh kedip dong, mau?" tanya Nada.
"Enggan Neng, udah makan aja," ucap Faisal terkekeh.
Sebutan itu membuat Nada teringat akan masa-masanya kerja di rumah sakit ini. terukir senyum kecil di wajah Nada.
"Oke-oke Bang Ical, sini dong Eneng suapin," kekeh Nada.
"Emang boleh?" tanya Faisal menaik turunkan alisnya.
"Bolehlah, Aaa ..." ucap Nada sambil membuka mulutnya.
Faisal juga membuka mulutnya, tangan Nada yang membawa sendok yang berisi nasi sudah berada di ambang mulut Faisal.
Sayangnya, sendok itu berputar balik dan masuk ke mulut Nada. Faisal mengerutkan alisnya dan reflek menuntun tangan Nada menyendok kan nasi dan memasukkan ke mulut Faisal dengan paksa.
"Ihh, curang." perotes Nada.
"Lah kan gue yang beli," elak Faisal.
"Nggak iklhas nih ceritanya," ucap Nada memicingkan matanya.
"Ikhlas lah, buat Eneng apa sih yang enggak," ucap Faisal.
Candaan-candaan mereka membuat Nada sedikit lebih tenang, wajahnya sudah menampakkan senyuman ruangannya.
Namun semua tak berlangsung lama, tiba-tiba Laras datang kembali. Entah apa yang membawa kembali, yang jelas. Raut wajah Fasial menampakkan emosi.
"Pantes Zaskia lengket sama Faisal, Bunda ya aja juga lengket," ucap Laras, melempar pandangan tajam ke arah Nada dan Faisal.
"Permisi ya, saya mau ngambil tas yang ketinggalan di nakas" ucap Laras sambil berdiri di samping nakas.
Nada segera berdiri dan menggeser langkahnya, Laras segera membuka pintu nakas bagian bawah dan mengambil sebuah tas berwarna merah.
Setelah mendapatkannya, dia melempar pandangan sinis ke arah Nada dan Faisal.
"Untung saja kau pintar dan tau diri, kamu memang tidak pantas untuk Andra. Perceraian memang jalan terbaik untuk kalian," ucap Laras kemudian melangkah pergi.
"Apa! Lo mau cerai Nad," ucap Faisal tak menyangka.