
Faisal memutar tubuh Nada ke arahnya, dia menatap manik mata Nada yang saat ini mulai berkaca. Bibirnya bergetar sambil membuka mengatup.
"Lo yakin mau cerai?" tanya Faisal menatap lekat Nada.
"Menurut Lo, gue harus gimana dong?" tanya Nada melempar pandangan lesu ke Faisal.
Ada sepercik kebahagiaan, namun lebih dominan rasa sedih. Setelah perjuangan Nada yang begitu besar, begitu mudahnya mengambil keputusan berpisah.
Faisal juga tetangga Nada, meskipun jarak rumahnya cukup jauh. Tapi dia bisa mendengar apapun kabar dari keluarga Nada, begitupun gosip gila yang menyebar.
"Anak-anak gimana?" tanya Faisal.
"Gue akan bawa mereka, toh Alif juga sudah tau kalau Bunda dan Ayahnya nggak baik-baik saja." ucap Nada menahan isak.
Faisal menghela nafas kasar, Dia ingin sekali menyuruh Nada untuk mempertahankan hubungan ini. Karena anak-anak kecil ini masih membutuhkan sosok Ayah.
Tapi jika dia di posisi Nada, dia juga tak yakin bisa setegar Nada. Sesaat Faisal terdiam, mencoba mengerti perasaan Nada.
"Terus Andra?" tanya Faisal.
"Dia sebenarnya nggak mau, tapi gue udah capek banget." jawab Nada yang duduk di kursi kembali dan menyandarkan tubuh lelahnya.
Obrolan mereka berakhir saat melihat Andra masuk ke kamar Alif, dia membawa sebuah banyak dan tikar. Dia juga membawa sekantong pelastik.
melihat Nada yang sudah di temani Faisal membuat emosi Andra naik. Akan tetapi, dia mencoba menahannya agar tidak terpancing. Saat ini hubungannya dengan istrinya tidak baik-baik saja, dan diam memang solusi terbaik.
Dengan santai Andra masuk dan mendekati Nada, dia mencium keningnya dan menaruh barang bawaannya di lantai.
"Sudah lama Sal?" tanya Andra ramah.
Nada dan Faisal saling tatap, baru kali ini dia melihat Andra setenang ini. Jangankan untuk bertemu, mendengar nama Faisal saja. Amarah Andra langsung naik ke ubun-ubun.
"Barusan aja, " jawab Faisal tersenyum tipis.
"Kalian lanjutin dulu, aku mau keluar bentar." ucap Andra melangkah pergi.
Nada dan Faisal terpaku melihat tingkah Andra kali ini, apakah dia benar-benar ingin berpisah? Sehingga rasa cemburunya sudah luntur?.
Nada mencoba menenangkan hatinya, entah mengapa Nada merasakan perih. Padahal kalau Andra bersikap seperti ini akan mudah baginya mengurus perceraian.
"Nad, Andra habis kepentok apaan?" tanya Faisal menatap punggung Andra yang menjauh.
"Mungkin dia emang udah ikhlas untuk cerai Sal," jawab Nada asal.
"Semudah itu?" tanya Faisal tak percaya.
"Tau ah, gue pusing," ucap Nada.
"Yaudah, gue balik kerja dulu. Bentar lagi pergantian shift." ucap Faisal yang melangkah keluar kamar.
Kini hanya Nada yang berada di dalam kamar, dia menatap lekat putranya yang masih tertidur pulas. seorang bocah yang amat dia cintai.
Bocah yang selalu menghiasi harinya dengan senyuman indahnya, tawa renyah, sampai kata-kata yang selalu memotivasi Nada untuk tetap tegar.
Dia juga heran, kenapa hubungan mereka begitu dekat? Padahal dia bukanlah anak kandungnya. Jemari Nada menggenggam erat tangan Alif.
Dia menciumnya dengan lembut, menumpahkan semua kerinduan dan kesedihan secara bersamaan, saat ini hatinya sangat hancur.
Terlebih saat dia mendengar penjelasan Kinan, sebenarnya dia yang bersalah atas kecelakaan ini. Harusnya, dia tidak menekan egonya dan berusaha lebih bersabar lagi.
Kalau saja dia bersabar, Alif tak akan mendengar pertengkarannya dengan Andra. Dan otomatis moodnya juga membaik.
"Alif maafin Bunda ya ... harusnya bunda nggak egois dan menyalahkan orang lain." ucap Nada sambil terus mencium tangan Alif.
***
Hingga beberapa menit berlalu, rasa kantuk menyelimuti Nada. Agar dia terjaga, dia memilih untuk sholat terlebih dahulu, kebetulan dia belum melaksanakan shalat Isya'.
Nada tak mempedulikan hal tersebut dan tetap fokus dengan langakah, sampai akhirnya dia sampai di sebuah mushalla. Dia masuk dan mengambil air wudhu.
Entah ini perasaanya atau memang benar adanya, air wudhu yang membasuh mukanya seolah mengangkat semua kesedihannya.
Dia merasakan kesegaran yang berada di wajahnya, otaknya mendadak begitu dingin. Seolah air tersebut ikut masuk menyiram otaknya yang panas.
Setelah berwudlu dia melangkah memasuki masjid, memakai mukena yang sudah di sediakan di lemari. Kemudian siap untuk sholat.
Setiap gerakan, tanpa bisa dia tahan. Air mata membasahi mukena dan sajadah yang Nada pakai, Nada merasa dirinya tak berdaya. Dan begitu hina.
Nada shalat dengan khusyuk, sampai dia tidak tau ada seorang yang mengikutinya di belakang. Orang tersebut mengikuti semua gerakan sholatnya. Hingga sholat selesai
Nada menaikkan kedua tangannya dan memanjatkan do'a, air mata menghiasi pipinya. Berderai tanpa kendali, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyelesaikan do'anya.
Saat Nada berbalik badan, dia terkejut ada seorang yang sedang duduk di belakangnya dan mendapat lekat ke arah Nada.
"Maaf Mbak," Ucap Nada segera menggeser langkahnya dan melepas mukena yang dia pakai.
Nada melihat seorang wanita yang duduk di hadapannya, matanya menatap kosong ke arah depan. Seolah beban yang dia pikul cukup besar.
Hingga Nada memutuskan untuk sekedar menyapanya.
"Dari mana mbak?" tanya Nada.
"Dari Kalimantan mbak," jawabnya singkat.
Karena disini memang rumah sakit terbesar di kota, dan kemampuan medisnya cukup bagus. Beberapa kota, bahkan dari luar pulau rela datang kesini untuk berobat.
Rumah sakit ini memiliki banyak dokter spesialis handal di tiap bidang, hampir semua dokter berhasil dalam operasinya.
"Siapa Mbak yang sakit?" tanya Nada kembali.
"Anak saya mbak," jawab Wanita tersebut.
"Dia sakit kanker," ucap Wanita itu lagi.
Nada hanya tersenyum kecil, saat di rumah sakit. Di rumah sakit ini bukan hanya dia yang berjuang, ada banyak ibu yang berjuang untuk anaknya. Bila Mbak ini bisa berjuang dengan tegar, harusnya dia juga bisa kan?
"Semoga lekas sembuh ya Mbak, dokter hebat disini pasti berjuang untuk anak Mbak," ucap Nada yang hendak beranjak pergi.
"Saya tidak berdo'a untuk kesembuhannya. Saya hanya ingin Ayahnya kemari untuk menemuinya." ucap Wanita tersebut.
Degh ...
Ayah ...
Nada duduk kembali, dia mendekati Wanita tersebut kemudian menggenggam jemarinya. Dia menatap lekat manik mata yang mulai rembes di pipi.
"Memang Ayahnya kemana Mbak?" tanya Nada.
"Ayahnya pergi setelah saya usir, saya membatasi pertemuan mereka hingga akhirnya anak saya sakit. Berulang kali saya menghubunginya, tapi nomornya tidak dapat di hubungi. Sedangkan anak saya, di setiap rintihannya memanggil nama Ayahnya," pecah sudah tangis Wanita tersebut.
"Kemungkinan hidup anak saya sangat minim, saya hanya ingin memberikan hal yang terbaik untuknya di detik terakhir hidupnya." ucap Wanita itu dengan bibir bergetar.
"Saya do'akan semoga Anak Mbak segera bertemu Ayahnya," ucap Nada dengan mata berkaca.
Nada memilih pergi, dia segera berpamitan dan melangkah menuju kamar Alif. Hatinya teriris melihat Wanita itu meratapi penderitaannya.
Perlahan Nada membuka pintu kamar Alif, masih tetap sama. Putranya masih tertidur pulas, tak ada tanda-tanda untuk membuka mata. Atau bahkan untuk menggerakkan sedikit badannya.
Nada melangakah mendekat, dia duduk kembali di kursi yang menemaninya beberapa jam yang lalu.
"Lif, Bunda sudah di sini dari tadi loh. Kamu nggak pengen buka mata?" tanya Nada mengecup tangan Alif.
"Alif pasti segera sadar," ucap Seorang dari belakang.