Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Cinta Segitiga



Pertengkaran Andra dan Nada terhenti setelah mendengar ponsel Andra yang sedari tadi berdering kian kencang.


Nada melangkah dan mengambil ponsel Andra yang terselip di bantal. Mata Nada kian melotot ketika melihat nama Kinan tertera di sana.


"Lihat, jam segini, dia nelpon Mas? masih mau bilang kalau pake jasa ojek," ucap Nada.


Andra mencoba menarik nafas dalam, dan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan segalanya, agar Nada tidak berpikiran macam-macam. Hanya sebuah alasan tertentu yang tidak bisa Andra jelaskan kepada Nada.


"Jawab aku Mas, kok diem? Apa alasan Kinan nelpon kamu di jam 9 malam? Apa dia kedinginan, butuh kehangatan. Hah!" Amarah Nada sudah tak dapat terbendung.


Tampak tubuh Nada yang bergetar menahan amarah, matanya berkaca. Terdengar Zaskia yang mulai terbangun karena mendengar teriakan Nada.


"Cukup Nad, jangan seperti ini. Semua ini tidak seperti apa yang kamu kira," ucap Andra memeluk Nada.


"Ya, memang bukan seperti yang aku kira. Tapi lebih ..." ucap Nada dengan Nada kembang kempis.


Di luar sudah ada Laras yang mulai menggedor pintu, suaranya sudah membuat bising gendang telinga. Tak hanya itu, omelannya kembali terdengar yang membuat suasana kian ricuh.


"Kamu itu, istri macam apa? Curiga mulu sama suaminya!" teriakan Laras menggema ke setiap sudut rumah.


Mendengar itu hati Nada semakin sakit. Apa salahnya bila seorang istri mengkhawatirkan suaminya? Apa dia keliru menanyakan kepergian suaminya di jam malam seperti ini.


Dada Nada kian sesak mendengarnya, seorang dirinya makhluk paling berdosa di seluruh dunia. Karena tiap kelakuannya yang selalu di anggap salah oleh orang seisi rumah.


Gedoran pintu semakin keras, tak ada niatan Andra untuk membukanya. Nada kian merosot, dia duduk di lantai dengan air mata yang berlinang.


Gedoran pintu yang semakin keras, membuat Zaskia dan Alif terbangun. Alif seketika bangun dan duduk di tambah Zaskia yang menangis kian kencang.


"Kalau kau pergi malam ini, rumah tangga yang kita bina akan hancur saat itu juga. Sebuah hubungan yang di jalin penuh pengorbanan dan air mata, akan musnah begitu saja," ucap Nada menatap kosong ke arah Andra.


"Nad, aku mohon. Ini bukan seperti yang kau pikirkan," ucap Andra mengelus pucuk kepala Nada.


"Iya memang, yang aku tau hanya sebuah fakta. Kalau kau dan Kinan punya hubungan yang sangat dekat dulu. Bahkan sangat dekat, dan aku nggak tau rasa itu masih sama atau nggak. Sayangnya aku bukan cenayang yang bisa menebak segala hal," ucap Nada tanpa ekspresi, hanya air mata yang menggambarkan kepedihannya.


"Maaf, aku pergi dulu." ucap Andra bangkit dan melangkah


Andra melangkah keluar kamar, terdengar suara perdebatan antara Laras dan dia. Akan tetapi, Nada enggan mencuri dengar. Dirinya sudah sangat rapuh malam ini.


Nada segera merebahkan tubuhnya dan memeluk Zaskia, mencoba menenangkan tangisannya yang sudah pecah. Sedangkan Alif kembali tidur sambil memeluk punggungnya.


Untung saja dia membelakangi Alif, kalau tidak pasti Alif akan berpikiran macam-macam. Dan hari-harinya besok pasti sangat menyiksa.


Nada sudah berusaha keras agar mood Alif selalu ceria, jangan di tanya saat moodnya memburuk. Bahkan dia sampai lupa cara untuk bicara.


Yang dia lakukan hanya duduk diam dengan tatapan kosong, meskipun Nada bukan ibunya. Melihat Alif yang demikian membuat hatinya teriris perih.


Nada menumpahkan semua air matanya, sambil menutup mulutnya berusaha agar tangis nyantai dapat terdengar boleh Alif.


Dengan lembut dia mengelus pucuk kepala Zaskia hingga dirinya terlelap kembali. Setelah dirinya tenang, dia segera memutar tubuhnya, perlahan dia belah rambut Alif.


"Bunda nangis ya? Ayah kemana?" tanya Alif.


Tepat seperti dugaan Nada, tidak semudah itu bersembunyi dari Alif. Perasaanya terlalu sensitif.


"Perut Bunda sakit lagi, jadi Ayah keluar beli obat." jawab Nada.


"Memang malem-malem seperti ini apotik ada yang buka Bun?" tanya Alif polos.


Alif termasuk anak yang cerdas, jadi kalau Nada menjawab hanya asal. Alif akan terus bertanya sampai rasa ragu di hatinya sirna.


"Apotiknya di sebelah mana Bun?" tanya Alif kembali yang masih belum yakin.


"Di samping rumah sakit, di sebrang jalan rumah sakit. Sampai di dalam rumah sakit. Kan di sana tempatnya orang sakit, jadi banyak obat. Besok bunda ajak lewat sana, bunda kasih tau dimana Ayah beli obat untuk Bunda. Sekarang Alif tidur yaa." ucap Nada


Dirinya harus segera memutus obrolan, karena semakin panjang obrolan akan semakin rawan untuk Alif mengetahui segalanya.


Nada memeluk Alif sampai Keduanya tertidur lelap, tak dia ragukan Alif selalu mampu menghibur Nada saat dirinya sedang sangat terpuruk.


Flashback Cinta segi tiga.


Andra memarkirkan mobilnya, tampak seorang wanita cantik turun dari mobil di ikuti oleh Andra.


"Yuk makan, maaf ya gue bayar pake nasi pecel komplit," ucap Kinan tersenyum manis.


Andra hanya mencubit hidung Kinan dan melangakah di belakangnya, mereka melangkah menuju warung sambil bergandengan tangan.


Seperti biasa, sore hari ketika Kinan dan Andra pulang kerja. Mereka selalu menyempatkan mampir ke warung milik orang tua Kinan.


Karena jarak kantor dan rumah lumayan jauh, membuat Kinan harus ngekos. Tapi sesekali dia mampir kalau Andra sedang tidak sibuk.


Seperti saat ini, belakangan ini pekerjaan Andra tidak menyita waktunya. Jadi bisa sering-sering mampir ke warung milik orangtuanya Kinan..


Andra dan Kinan masuk ke warung, Andra duduk di meja dan Kinan melangkah masuk ke arah dapur. Terdengar kekehan dari arah belakang, sepertinya Ibu dan Anaknya saling melepas rindu.


Tak lama kemudian, Ada wanita paruh baya yang keluar dari dapur. Dia menyapa Andra dan duduk di kursi.


"Maafkan Kinan ya, sering merepotkan mu," ucap wanita tersebut.


"Nggak Bu, saya merasa nggak di repotkan kok," Ucap Andra tersenyum simpul.


"Yaudah, bentar ya. Biar di temani Kinan dulu," ucap Wanita paruh baya tersebut kemudian beranjak dari kursinya.


Di meja tersebut hanya tinggal Kinan dan Andra. Mereka mengobrol, sesekali bersenda gurau. Hingga akhirnya Kinan harus pergi.


Ada bahan masakan yang kurang, hingga akhirnya dia harus pergi bersama ibunya ke pasar. Dan Andra dimintai tolong untuk menjaga warung.


Setelah kepergian Kinan dan ibunya, ada segerombolan perawat yang datang. Karena memang tak jauh dari warung Kinan ada sebuah rumah sakit.


Andra segera bangkit dari kursinya dan melangkah menuju lemari kaca bening, tempat menyimpan beberapa lauk yang di jual.


"Mas, nasi campur 10 bungkus ya, lauknya samain semua deh, Ayam, lodeh nangka, sama urap-urap," ucap seorang perawat.


Sedetik Andra hanya membatu, dia terpesona dengan perawat cantik yang ada di hadapannya.


"Mas ..." ucap Perawat tersebut sambil melambaikan tangannya ke hadapan Andra.


"Ma-maaf mbak, kalau nunggu sebentar gimana? Orangnya yang jual masih pergi sebentar," ucap Andra.


'Qatrin Nada' ucap Andra membaca papan nama yang terpampang di seragam perawat tersebut.


BERSAMBUNG.....