
Nada hanya membisu, matanya yang berkaca sudah menjelaskan segalanya. Andra turun dari motornya, dan mencoba mendekati Nada.
"Stop, aku mau sendiri" ucap Nada, kemudian memutar kunci dan melajukan motornya.
Andra tahu perasaan Nada saat ini pasti sakit, ibunya memang keterlaluan saat ini, seandainya Andra punya cukup uang untuk ngontrak sepetak rumah walau tak besar, pasti masalah tidak akan seperti ini.
Andra hanya bisa menatap punggung Nada yang menjauh, dengan rasa bersalah menyelimuti hatinya. Sementara Nada mencoba menenagkan hatinya saat ini. Dia Tak mau mood-nya menghancurkan mood anak-anak seperti tadi.
Beberapa menit kemudian sampailah Nada di rumah. Nada membuka pintu perlahan, karena Zaskia tertidur. Dia segera masuk ke kamar dan membaringkan Zaskia di kasur, tangisan Nada pecah sudah, dia segera menutup mulutnya dengan bantal. Dia tidak mau isakan itu terdengar sampai keluar kamar.
Biasanya ada bisa menahan semua tingkah mertuanya itu. Tapi entah mengapa pagi ini emosinya tidak terkontrol, dan yang paling membuatnya sakit adalah, Alif ikut merasakan kesedihan.
Hati Nada bagaikan sebuah daging yang disayat begitu dalam, sangat sakit dan perih. Dia selama ini sudah berusaha menjadi seperti apa kemauan mertuanya, tapi tidak semua hanya sia-sia dan tidak ada gunanya.
Nada menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, Dia segera keluar kamar dan memulai aktivitasnya. Dengan ini Moodnya bisa segera membaik.
Nada menjemur pakaian, mencuci piring, menyapu dan memasak. itu semua harus selesai sebelum jam 11 pagi, karena jam itu Alif pulang sekolah.
Belum selesai dengan pekerjaannya terdengar suara Zaskia menangis, melihat tidak ada sahutan dari orang. Nada segera menghampiri Zaskia. Dia menggendongnya dan mengajaknya beraktivitas bersama.
Sejak tadi nada tidak melihat adanya Laras, bahkan tidak mendengar omelan-omelannya. Mungkin dia sedang pergi bersama Kinan, ada seperti rasa syukur di hati Nada karena saat dirinya bisa meredam rasa sakit hatinya, dan bisa menenangkan diri sendiri
Setelah berkutat dengan tugas dapur, Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi waktunya untuk Nada menjemput Alif. Nada segera menggendong Zaskia kembali dan melajukan motornya menuju sekolah Alif.
Biasanya Alif ingin di jemput lebih awal karena ingin bermain dengan Zaskia terlebih dahulu, lalu pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan di sekolah, mata nada dibuat terpaku melihat pemandangan yang saat ini tidak ingin dia lihat. Seorang yang beberapa waktu minta maaf, sudah mengulang kesalahannya kembali.
Hatinya teriris perih, air matanya pecah tak sanggup dia tahan. Dia berusaha tetap fokus pada motornya dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah Alif.
Beberapa saat kemudian sampailah Nada ke sekolah Alif, Mata Nada membulat sempurna ketika melihat Laras sudah duduk dengan beberapa wali murid.
Nada menghela nafas panjang, dia berusaha mengatur emosinya. Perlahan Nada melajukan motornya mendekati Mertuanya.
"Mau ngajak Alif keluar," ucap Laras dengan nada yang tidak enak di dengar.
"Kemana Bu?" tanya Nada.
"Nenek ... Bunda ..." ucap Alif yang keluar kelas dengan bersemangat.
Tak lama kemudian Andra datang dengan membonceng seorang wanita yang tadi pagi bertamu di rumah
"Alif, kita main sama Tante Kinan ya," ucap Laras mengelus pucuk kepala Alif.
Mendengar, ucapan tersebut membuat emosi Nada memuncak. Dia tidak ingin merusak mood putranya, jadi Nada turun dari motor dan melangkah mendekati Alif.
"Alif mau ikut, Nenek?" tanya Nada lembut.
"Nenek, Bunda nggak ikut?" tanya Alif menatap Nada.
Nada kembali menghela nafasnya, hanya ini yang mampu mengontrol emosinya saat ini. Hatinya sudah sangat panas sejak pagi hari.
Nada melempar pandangan ke Laras dan ke Andra, melihat reaksi Nada. Kinan mendekati Nada dan menyalaminya.
"Mbak Nada ya, saya Kinan mbak. Maaf jangan tersinggung, warung saya mengadakan acara di panti asuhan, Jadi Bu Laras mengajak Alif untuk ikut. hanya itu saja." ucap Kinan lembut.
Nada membalas ucapan Kinan dengan senyum termanisnya, kemudian mengangguk. Dia melempar pandangan ke arah Andra yang diam membantu.
Nada melangkah mendekati Andra dan menariknya mendekati Alif, kemudian tangan Nada memeluk erat pinggang Andra dan menariknya mendekat.
"Lihat, ayah dan bunda sudah baikan kan sayang," ucap Nada memamerkan senyum bahagianya.
BERSAMBUNG.....