Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Ide Bagus



Happy reading...


Andra meringkuk di sudut ruangan, dia menghitung pendapatannya hari ini. lembar demi lembar kertas lusuh dia tata berjajar,


Nada menutup pintu dan mendekati Suaminya, dia memeluk Andra dari belakang dan bersandar di punggung lebarnya.


"Maaf Dik cuma segini," ucap Andar sambil menyodorkan selembar kertas berwarna biru dan beberapa berwarna kuning.


"Iya mas nggak pa pa, makasih ya. akan aku simpan buat belanja," ucap Nada meraihnya. kemudian melangkah mendekati lemari dan menaruh uang tersebut di dompet.


Andra melempar pandangannya ke arah Alif yang tertidur pulas, Hatinya sangat tersentuh melihatnya sudah tumbuh sebesar ini dengan banyak kasih sayang.


Meskipun Nada bukanlah ibu kandungnya, tapi Nada dengan ikhlas merawat Alif. Sempat Andra khawatir jika Nada tidak dapat bersikap adil saat telah hadir Zaskia.


Ternyata opini Andra salah besar, bahkan kasih sayang Nada melebihi kasih sayang Ibu kandungnya. Alif bisa tumbuh dewasa dengan sehat tanpa kekurangan kasih sayang.


Dia melempar pandangan ke putrinya Zaskia, meskipun kehidupan mereka sangat minim. Tapi Nada dapat mengurus kedua anaknya dengan baik.


"Udah gede ya anak-anak?" tanya Nada menatap Suaminya yang bergantian menatap kedua anak mereka.


"Aku tidak menuntut, tapi jika bisa. Akhir bulan ini aku mau ngajak anak-anak jalan di taman kota," ucap Andra.


"Ide bagus, aku akan mengaturnya Mas," ucap Nada.


Tubuh Nada terasa sangat capek, tulang-tulang nya terasa patah tak berbentuk. Kakinya sangat linu karena Zaskia yang mulai aktif merangkak.


Dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tempat tidur Nada dan keluarganya hanya terbuat dari kapuk lapuk yang sama sekali tidak memberikan rasa nyaman.


Kasur tersebut sangat keras, bahkan jauh dari kata tempat tidur. ini seperti lantai, bedanya hanya tidak terlalu dingin.


Andra mendekati Nada yang terbaring dan memijat kakinya, seketika Nada terperanjat. dia segera menarik kakinya.


"Mas mau apa?" tanya Nada.


"Jadi nggak boleh, cuma pegang kaki doang," ucap Andra.


"Ya bukan gitu, Mas kan capek. Udah tidur aja, aku nggak pa pa kok," ucap Nada.


"Kita tukeran yuk," ucap Andra.


Nada tau apa yang dimaksud Andra sebenarnya, Nada hanya tersenyum simpul dan bangkit dari tidurnya.


"Sini, aku pijitin." ucap Nada.


Sejujurnya Nada sangat capek, tapi dia tidak tega melihat suaminya. Sepertinya dia juga sedikit capek. Nada menurunkan egonya.


Meskipun Nada capek, setidaknya Nada masih bisa tidur siang, makan tepat waktu dan juga tidak kepanasan di jalanan. Berbeda dengan sang suami yang berada di atas motor seharian.


Nada meraih minyak urut yang berada di nakas samping kasurnya, perlahan dia membaluri punggung Andra dengan minyak tersebut.


Perlahan Nada memijat punggung dan pinggang suaminya, beberapa menit berlalu. Akhirnya Nada selesai.


"Udah ya mas, aku tidur dulu." ucap Nada yang tidak kuat menahan kantuknya.


Nada membalurkan tubuhnya dengan minyak urut dan merebahkan tubuh lelahnya di kasur keras miliknya.


Bila Nada kecapekan, di bagian-bagian tubuhnya selalu terdapat luka lebam.


"Udah ah mas, mas tidur aja," ucap Nada malas dan menggoyangkan kakinya.


"Kamu kan juga capek ngurusin anak-anakku, udah nurut aja," ucap Andra.


Karena Nada sudah sangat capek, Nada tidak mau membalas ucapan Andra. Terserah dia mau melakukan apa, saat ini Nada hanya ingin merebahkan tubuh lelahnya.


"Kamu pasti capek banget ya?" tanya Andra.


"Hemm," jawab Nada singkat, dirinya sudah tak mampu menahan kantuk.


Rasa kantuk yang melanda, di tambah dengan pijatan Andra yang sangat nyaman baginya. Membuat Nada semakin larut dalam kenyamanan. Sebenarnya Nada sangat menikmati pijatan Andra. Tapi dia tak enak hati.


Pijatan Andra mulai naik dan naik, Saat ini Andra sudah menindih Nada dan mulai memijat punggung Nada.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Andra modus.


"Hemm," jawab Nada seadanya.


"Kok hemm sih?" tanya Andra.


"Terus gimana dong?" tanya Nada yang pura-pura tidak mengerti.


"Ayuk ...."


Nada memejamkan matanya tetap pada perannya yang pura-pura tidak tau, tubuhnya masih sangat lelah untuk melayani suaminya lebih lanjut.


Hingga ...


"Bunda ..." panggil Alif.


Andra segera turun dan merebahkan tubuhnya, sedangkan Nada sedikit bergeser mendekati Alif dan memeluknya.


"Ah, Alif jahat banget sama Ayah," Keluh Andra.


Nada hanya tersenyum kecil, Andra mengecup kening Nada dan kembali merebahkan tubuhnya.


"Awas yaa, sekarang kamu bisa lolos. aku nggak jamin besok," ucap Andra memalingkan tubuhnya.


"Idih ngambek," kekeh Nada.


Selanjutnya tak ada obrolan lagi, mereka segera beristirahat karena besok harus melanjutkan peran mereka.


****


Di sisi lain, di tengah malam yang larut. Laras sedang sibuk berbincang dengan ponselnya. wajahnya tampak berbinar, suaranya tampak ramah. tidak seperti saat mengobrol dengan Nada.


"Iya Nduk, jadi Ibu kesana besok ya," ucap Laras.


Sesaat kemudian sambungan terputus, Laras segera masuk rumah dan melangakah masuk ke kamarnya.


BERSAMBUNG....