
Jemari kecil Alif bergerak lirih, sedangkan Nada yang tidak mengetahui hal ini. Dia terus melangkah menjauh dan mendekati Satria.
Dia mutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut, hatinya sudah tak mampu untuk menahan gemelut hatinya yang campur aduk.
Di tambah pandangan suster yang menatapnya dengan sorotan tidak suka, ternyata benar gosip yang beredar. Tak ada yang ramah sedikitpun di ruangan ini.
Satria melangkah keluar ruangan tersebut diikuti oleh Nada, sebenarnya Nada masih enggan untuk pergi. Namun saat ini, bukan cuma Alif yang membutuhkan perhatian. Zaskia juga masih tertidur sendiri di ruangannya.
Langkah Nada dan Satria belum terlalu jauh, namun mendadak terhenti karena ada yang memanggil Satria dari arah belakang.
"Dokter, pasien sadar." ucap Salah satu perawat yang keluar dari ruangan Alif.
Satria segera berbalik, sedangkan Nada masih lanjut berjalan. Dia tidak mengetahui kalau yang di maksud pasien sadar itu adalah Alif.
Tanpa pikir panjang Satria menarik tangan Nada dan memberi isyarat untuk mengikuti langkahnya. Awalnya Nada tidak mau, tapi melihat tatapan Satria yang serius membuat Nada patuh.
Dia membalikkan tubuhnya, Nada semakin terbelalak saat melihat Satria masuk ke ruangan Alif.
Kakak yang tadinya di ayunkan perlahan. Kini Nada mempercepat langkahnya, menyusul Satria yang sudah menghilang di balik kelambu.
Perlahan Nada membuka kelambu tersebut, terlihat Alif yang mulai menggoyangkan kaki dan kepalamnya lirih. Bibir tipisnya seperti berucap sesuatu.
Namun Nada tidak berani untuk mendekat, saat ini dia harus memberikan ruang untuk tendangan medis.
Satria mulai memeriksa Alif, jemari yang tadinya bergoyang lirih sudah berhenti. Sebenarnya Nada sedikit kecewa, tapi apalah daya dirinya tak mau mengganggu tenaga medis yang saat ini sedang memeriksa putranya.
Nada masih berdiri menyaksikan Satria dan beberapa perawat lain memeriksa kondisi Alif, detakan jantung yang awalnya bertempo pelan, kini semakin cepat teratur.
Tampak senyum tipis terukir di wajah Nada, Dirinya semakin lega melihat kondisi Alif yang berangsur membaik.
Nada memilih untuk segera pergi dari ruangan tersebut dan langkah menuju pasar tempat di mana Zaskia sedang terbaring
Nada melangkah menyusuri lorong dengan wajah berseri. Beban yang beberapa hari ini menganggu pikirannya sekarang berkurang sedikit demi sedikit.
Zaskia sudah membaik, begitupun Alif. Meskipun dia belum juga membuka mata, tapi kondisi jantungnya sudah mulai stabil.
Perlahan Nada membuka pintu kamar Zaskia, sudah ada seorang yang duduk di samping putrinya. Nada hanya tersenyum kecil dan melangkah masuk.
"Sudah lama Mas?" tanya Nada.
Andra merasa Nada sedikit lebih ceria hari ini, apakah dirinya memang sudah tak berarti bagi istrinya saat ini? Hanya bertemu dengan pria lain bisa membuat suasana hatinya lebih baik.
"Barusan, sudah sarapan?" ucap Andra dengan suara datar.
"Sudah, tadi sama dokter Satria," jawab Nada singkat.
"Dokter Satria?" tanya Andra.
"Iya, kondisi Alif semalam mengkhawatirkan, tapi saat ini sudah membaik. Bahkan dia sudah menggoyangkan jemarinya," ucap Nada dengan mata berkaca.
"Kami serius?" Andra kembali bertanya.
"Iya Mas, tadi aku baru saja kesana. Sepertinya Sebentar lagi dia sadar." ucap Nada bersemangat.
Nada menggeser kursi kosong yang berada di sampingnya, kemudian duduk di sisi samping ranjang Zaskia.
Andra menatap istrinya, tubuhnya mulai kurus kering. Kantung matanya terlihat menghitam.
"Zaskia akan aku titipkan orang tuaku," ucap Nada menyapa lekat Andra.
"Jujur saja, aku tak tega Zaskia ada bersama Ibumu," ucap Nada tegas.
Andra hanya tersenyum kecut, saat ini. Jangankan untuk mengurus Zaskia, bahkan untuk mengurus dirinya sendir aja sudah kerepotan.
"Ibu sedang sakit, jadi mau atau tidak. Bukankah aku harus menyetujuinya?" ucap Andra pasrah.
Nada mengerutkan alisnya, sebelumya dia melihat Laras baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Teringat jelas bagaimana caranya memuji Kinan dan mencacinya di muka umum.
"Sakit apa?" tanya Nada basa-basi.
"Mungkin ibu depresi," jawab Andra dengan tatapan layu.
Depresi? Nada tidak percaya. Bagaimana seorang Laras bisa depresi? Dia tidak punya banyak tanggungan, dan lagi. Bukankah Kinan sudah sangat memanjakannya?
Nada terdiam sesaat, banyak sekali pertanyaan yang melintas di otaknya. Bahkan dia tak yakin kalau kabar ini adalah nyata, pasti kabar ini adalah salah satu cara untuk memisahkannya dengan Andra.
Akan tetapi, Nada tidak terlalu memikirkan hal ini. Baginya pernikahannya sudah hancur saat suaminya dengan enteng keluar dari kamarnya dan lebih memilih menolong wanita yang bukan istrinya.
Sejak saat itu hari Nada sudah hancur tak terbentuk, sampai detik ini. Baginya yang utama hanyalah kesembuhan anak-anak.
Melihat Nada yang terdiam tanpa sepatah katapun, Andra beranjak dari kursinya dan melangkah mendekati Nada.
"Aku tau kamu tak peduli dengan Ibuku, aku juga tak menyalahkan mu ..." ucapan Andra terpotong.
"Sekarang aku tidak akan ikut campur lagi semua urusanmu ataupun ibumu. Ada atau tidaknya dia, bahkan kau memilih Kinan untuk ada di sisimu pun. Aku tidak peduli." ucap Nada datar.
Andra kembali duduk di kursinya, dia memijat pangkal hidungnya. Kepalanya tiba-tiba sakit ketika mendengar ucapan Nada.
Bagaimana bisa Nada berkata seperti itu? Bahkan dia tidak bisa melupakan Istrinya sedetikpun. Tapi dia dengan entengnya bilang demikian.
Lagi pula dia tidak pernah memilih untuk bersama Kinan, kenapa Nada sampai begitu pasrah dengan hubungan pernikahannya?
"Aku tidak pernah berniat seperti itu," ucap Andra lirih.
"Tapi Ibumu sangat menginginkan hal itu," jawab Nada tidak mau kalah.
"Sudahlah jangan membesarkan masalah, Ibuku tidak pernah serius dengan ucapkannya." ucap Andra menatap Nada.
"Apa? tidak pernah serius!" ucap Nada melengking.
Ucapan Nada yang sedikit keras membuat Zaskia terkejut dan membuat matanya. Nada segera beranjak dari kursinya dan meraih Putri kecilnya yang menangis.
"Sini biar aku saja," ucap Andra meraih Zaskia dari gendongan Nada.
Andra segera melangkah keluar ruangan dan mengajak Zaskia jalan-jalan, dia tidak mau terlalu la bersama Nada dan melanjutkan perdebatan ini.
Nada hanya menatap jengkel ke arah Andra yang selalu menghindar dari masalah. Terutama saat dirinya membahas perilaku Ibunya yang sangat keterlaluan itu.
Entah mengapa dia selalu membela tindakan ibunya yang salah. Dia tau setiap orang tua memiliki kesalahan dan kita sebagai makhluk buang lebih muda harus memberi maaf.
Akan tetapi tidak di benarkan kalau orang tua salah yang muda selalu mengalah dan akhirnya pasrah untuk di tindas.
Nada menghela nafas panjang, dia lebih memilih membereskan kamar Zaskia kemudian berangkat mandi.
Mungkin dengan mandi otaknya bisa sedikit lebih segar dan melupakan perilaku suaminya tersebut.