
Nada mengernyitkan matanya, seperti biasanya. Mata Nada sulit untuk di buka. Jangan tanya mengapa? dirinya habis menangis hebat semalaman.
Nada melempar pandangannya ke arah jam yang menempel di dinding, jam menunjukan pukul 12. 15 malam. Sudah lewat tengah malam.
Sedangkan suaminya belum juga kembali, sakit yang dirasakannya sudah menumpuk terlalu banyak. Hingga hatinya sudah tak bisa merasakan lagi adanya cinta di antara mereka.
Tangan mungil Alif memeluk perut Nada, seolah dia tak ingin lepas walau hanya sesaat. Nada mulai bangun perlahan dan menggeser tangan Alif.
Akibat menangis terlalu lama membuat perut Nada keroncongan, Bukankah menangis merupakan pekerjaan yang menyita energi cukup banyak.
Nada segera bangun dan meraih ponselnya, dia menggeser layar di ponselnya. Begitu banyak pesan dan panggilan dari nomor yang sama.
Sayangnya Nada sudah kehilangan semangatnya, telinga nya sudah enggan mendengarkan semua alasan yang tak masuk akal darinya.
Semua bagi Nada hanya omong kosong belaka, yang dia tau hanyalah. Suaminya lebih memilih pergi menemani wanita lain di tengah malam, dari pada harus mempertahankan rumah tangganya yang mungkin akan segera hancur.
Nada memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur, mencari makanan untuk mengganti sumber tenaganya yang hilang.
Nada membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran, seperti sawi dan kol. Tidak lupa beberapa cabe rawit dan bawang.
Moodnya kini mulai berantakan dan dia harus segera menjaga kewarasannya, dia mengambil beberapa kerupuk dan mie instan.
Setelah semua bahan di rasa siap, Nada mulai menyalakan kompor dan menaruh sepanci air di atasnya.
Mendengar suara bising di dapur, Laras segera melangkah menuju dapur. Dan jangan di tanyakan lagi apa yang akan di perbuatanya.
"Laper ya, setelah ngamuk tadi?" ucap Laras dengan intonasi yang menjengkelkan.
"Iya Bu, ibu mau. Mungkin ibu juga butuh tenaga untuk mengomel besok?" tanya Nada, melempar pandangan sinis.
"Dasar, suami belum pulang sampai jam segini. Malah enak-enakan nambah lemak" ucap Laras.
Dulunya saat Nada menerima ucapan demikian, Nada akan bersikap lembek. Menangis dan berulangkali meminta maaf, Bahkan. Nada akan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan aktifitas makannya.
Untuk saat ini, Nada sudah cukup muak dengan semuanya. Dia sudah tidak bisa diam dan terus membisu, bukankah 3 tahun adalah waktu yang cukup panjang.
"Ibu, bukankah di luar sana Mas Andra sudah menikmati ranjang hangat wanita bayaran ibu itu. Dan haruskah aku jadi orang bodoh yang menantikan kedatangannya?" tanya Nada dengan acuh.
"Ibu, aku sudah bilang ke ibu tadi kan. Bila ibu ingin Mas Andra menikahi wanita pilihan ibu itu, harusnya Ibu suruh mas Andra menceraikan ku. Setidaknya aku tidak jadi wanita bodoh yang terkurung disini." ucap Nada melangkah mendekati mertuanya.
"Bukankah ibu juga rugi bila harus memelihara aku disini?" ucap Nada kembali.
Ingatannya kembali akan tahun-tahun awal saat dia datang di rumah ini, semua butuh pengorbanan. Bahkan Nada sampai hampir keguguran salah mengandung Zaskia.
Kerap kali Nada mendengar sindiran halus saat dirinya mulai sarapan, ataupun menikmati makanannya. dan otomatis makanan tersebut tidak tertelan sempurna.
Sempat Nada membeli sarapannya diam-diam dan membawanya ke dalam kamar. Untuk apa? agar dia bisa sarapan dengan tenang tanpa harus mendengar ocehan mertuanya itu.
Hal ini yang membuat janin di perut Nada kurang gizi hingga harus opname, hatinya semakin teriris saat ternyata yang merawatnya adalah teman-temannya dulu.
Mereka bilang apa?
"Lo kan perawat, masa' ngurusin bayi Lo sendiri nggak bisa sih"
Semua teman Nada menanyakan hal yang serupa, dan inilah Nada. Dia hanya bisa tersenyum manis sambil memindah topik pembicaraan.
Waktu istirahat? Jangankan waktu istirahat. Bahkan saat dia mengerjakan pekerjaan rumah saja mertuanya selalu mengoceh.
Saat ini Laras hanya menatap Nada tajam, dia tidak tau mengapa mulut menantunya itu sangat licin seperti minyak goreng.
"Jadi bagaimana? Apakah ibu mau makan bersama denganku, merayakan kemenangan ibu.?" tanya Nada sedikit berbisik.
Mendengar semua ocehan Nada membuat telinga Laras semakin panas, dadanya kembang-kempis. Ingin sekali dia memakinya. Tapi semua yang di ucapkannya adalah benar.
Laras segera berbalik dan melangkah menuju kamar, tidak lupa dia membanting pintu sebagai wujud amarahnya.
Setelah kepergian Laras, Nada melanjutkan untuk memasak. Dia memasukkan semua bahan, tanpa terkecuali. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, masakannya matang.
Dia menuangkannya kedalam mangkok dan membawanya ke kamar, dia tak mau me time nya di rusak oleh Laras.
BERSAMBUNG...