
Happy reading....
Nada terbelalak ketika melihat seorang tamu wanita yang datang pagi-pagi sekali, yang lebih mengejutkan adalah seorang itu mencari suaminya. Setaunya Andra tak pernah memiliki teman wanita sebelumnya.
Sesaat nada termenung sesat, kemudian nada segera mempersilahkan wanita itu masuk, tiba-tiba dengan wajah sumringah Laras melangkah mendekatinya. dan menyapanya begitu ramah dan hangat.
Selama nada menjadi menantu Laras, dia tidak pernah melihat Laras seceria itu. Bahkan yang dia lihat hanya amarah yang terpampang di wajah Laras.
Tapi ada tak mau menganggap ini serius, toh dia juga tak mengganggu hidup Nada. Melihat mertuanya bahagia, Nada pun ikut bahagia. Karena dengan itu Mertuanya bisa meredam emosinya.
Mungkinkah ini Kinanti? seorang gadis yang selalu dipuja-puja oleh Laras, mertuanya. Karena dia memiliki sebuah warung makan yang cukup ramai, dan Laras selalu membanding-bandingkannya.
Marah? Ya jelas lah marah. Wanita mana yang tidak sakit hati kalau mertuanya memuja wanita lain, sedangkan di rumah dia yang selalu repot mengurusnya.
Melihat Laras sangat menghormati tamu tersebut, nada segera melangkahkan kaki menjauhi mereka, dia tak mau lebih sakit hati. Di jam sepagi ini Nada masih tidak ada waktu untuk memikirkan moodnya.
Nada segera masuk ke dapur dan menyuapi anak-anak, setelah itu menyiapkan sekolah Alif dan Zaskia yang selalu ikut saat Alif sekolah.
Sedangkan bayi besarnya, Andra, juga tidak bisa menyiapkan bajunya sendiri. Sungguh Nada terkadang sangat sebal dengan ini semua.
Akan tetapi, tak di pungkiri. Kesibukan inilah yang membuat Nada bisa melupakan kesedihannya. Andra masih sibuk dengan kaos dan celananya, sedang alif riweh mencari kaos kakinya. Jangan di tanya Zaskia, dia sudah sukses memporak-porandakan lemari baju milik kakaknya.
Setelah semua siap dan melewati semua keriwehan ini, Andra mulai sadar kalau ada seorang tamu yang sedang mengobrol dengan ibunya.
"Siapa Dik?" tanya Andra, karena tidak biasa ada tamu pagi-pagi seperti ini.
"Kinanti mungkin," ucap Nada sewot.
Melihat mood istrinya yang turun drastis membuat Andra gatal ingin menggodanya, sudah lama dia tidak melihat istrinya cemburu buta seperti ini.
Semua emosi istrinya di kuasai oleh ibunya, semua curhatan Nada tentang Laras dan Alif. Kadang Andra di buat cemburu oleh mereka.
"Cantik ?" tanya Andra, menatap Nada lekat.
"Iya," jawab Nada singkat, sudah terlihat tanduk di kepala Nada.
"Putih?" tanya Andra lagi,
Saat ini Nada tak menyahut, dirinya semakin sebal kepada Andra. dia bertanya dengan nada memuji, semakin membuat hatinya panas saja.
"Bunda, Alif nunggu di depan ya," kata Alif yang sudah siap dengan seragam lengkapnya.
"Iya sayang, tunggu Bunda sebentar ya. Bunda mau pake baju dulu." ucap Nada sambil memakai kemeja.
Andra hanya berdiri bersandar di tembok, dia memperhatikan tiap gerak Nada yang menandakan dirinya sudah tersulut emosi.
Nada fokus ke kaca yang memantulkan wajahnya saat ini, perlahan dia mengoles sedikit lipstik wanita nude di bibirnya.
Sesekali Nada mencuri pandang kepada suaminya yang berdiri tak jauh darinya, Andra sudah siap dengan jaket hijaunya. kenapa dia tak segera keluar?
"Kamu kok sewot banget sih, kan memang bener dia orangnya putih, cantik ..." jelas Andra sambil melangkah mendekati Nada.
"Emang, jadi pergi sana!" Nada mengusir suaminya.
"Kamu kok gitu sih," ujar Andra memeluk Nada dari belakang dan mengecup tengkuknya.
"Udah, sana pergi!'' usir Nada masih dengan emosi yang meletup.
Hingga Andra mendekatkan tubuhnya kemudian berbisik.
"Tapi aku yakin masih nikmat kamu, jadi nggak usah cemburu ya. Kan masih menggoda kamu," ucap Andra mendesah, dan sukses membuat bulu Nada berdiri.
"Udah sana," ucap Nada mengangkat kakinya dan tak sengaja mengenai pusaka Andar.
Seketika Andra menjerit, kesakitan. Reflek Nada terpingkal melihat Andra yang kesakitan, seolah amarahnya sudah tersalurkan.
"Kamu tega banget.''
Suara candaan mereka terdengar sampai ruang tamu, Laras sedikit malu ketika Kinanti juga mendengar suara tersebut.
"Mas Andra bahagia banget ya Bu," ucap Kinanti.
"Ya begitulah, istrinya masih anak-anak jadi sedikit manja." ucap Laras tersenyum ketus.
Tak selang beberapa lama, Andra dan Nada keluar kamar. Mereka tampak canggung melihat Kinanti dan Laras yang menatap lekat ke arah mereka
Tatapan mereka sudah seperti polisi yang mengintrogasi terdakwa, tajam dan dan kejam. Terutama Laras menusuk jiwa Nada saat itu juga.
"Pagi-pagi udah kesini, warungnya tutup ya?" tanya Andra.
"Sebenarnya aku mau minta tolong kamu Mas," jawab Kinanti.
Seketika langkah kaki Nada terhenti, dia segera berbalik menatap Andra. Sedangkan Andra menatap lekat Laras. dia sudah yakin kalau ini ulah Laras.
Melihat Nada dengan ekspresi sedihnya membuat Andra memutar otak, dia tak mau istrinya semakin sakit hati. Dia tak habis pikir dengan ibunya, kenapa begitu tega dengan Nada.
"Aku harus mengantar Nada, dia masih tak enak badan" tolak Andra halus.
"Kan dia bisa berangkat sendiri, jangan manja dong. biasanya juga berangkat sendiri." ucap Laras.
Mendengar ini, Nada segera melangkah kakinya keluar rumah. Kemudian menggendong Zaskia yang masih merangkak kesana-kemari, dengan menahan linangan air mata. Nada segera naik ke motor dan di susul oleh Alif.
"Ibu denger ya baik-baik, Nada istriku dan akan tetap seperti itu. dia adalah ibu dari anak-anakku, terlebih pengganti ibu yang baik bagi Alif." ucap Andra dengan nada tenang.
"Dan dia tanggung jawabku!'' ucap Andra menekan kalimatnya kemudian melangkah pergi menyusul Nada.
BERSAMBUNG.....