Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Sudah Cukup!



Nada segera mencari angkutan umum untuk segera pulang, dia menuntun Alif dan menggendong Zaskia ke tepi jalan,


Sekitar beberapa menit berlalu, akhirnya angkutan yang mereka tunggu lewat, mereka segera naik untuk pulang.


Karena jarak ke rumah mereka lumayan jauh, tidak terasa Zaskia dan Alif tertidur. dengan hati-hati Nada menggendong keduanya dan turun dari angkutan umum.


Dengan tertatih Nada melangkah menuju rumah, untung saja jarak antara rumah dan tepi jalan tidak lah jauh.


Nada segera membuka pintu rumah, betapa terkejutnya Nada setelah melihat Laras sudah duduk di ruang tamu dan membaca majalah.


Di saat yang bersamaan Laras menatap tajam Nada, seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Nada tak begitu memperhatikannya. Dia segera masuk dan melangkah menuju kamar.


Itu tidaklah aneh karena memang Laras memiliki kunci serep, Jadi sewaktu waktu dia pulang kapanpun pasti bisa masuk rumah.


Langkahnya terhenti saat Laras menghadangnya, wajahnya sudah merah padam menatap Nada. Seakan tau hal ini akan terjadi Nada tetap bersikap tenang.


"Kalau ibu ada masalah denganku selesaikan nanti, anak-anak sedang tidur. Aku tidak mau menganggu mereka," ucap Nada menatap Laras tenang.


Laras tetap berdiri tegak di hadapannya, tidak ada niatan untuk bergeser sedikitpun.


"Apa perlu aku berteriak di hadapan ibu?'" tanya Nada


Nada menatap Laras tidak kalah tajam, amarahnya juga menyelimuti hati dan pikirannya saat ini. Bila Nada bukanlah orang yang sabar, pasti dia sudah mengacak-ngacak wajah Laras


Melihat tingkah Nada yang tak seperti biasanya, Laras segera menggeser tubuhnya. Dia kembali duduk di sofa dan membiarkan Nada lewat.


Nada segera masuk ke kamar dan menggeletakkan kedua anaknya di kasur, dengan hati-hati Nada melepas sepatu Alif dan Zaskia.


Tampak sepatu Alif yang berlubang sebesar ibu jari, sebenarnya Nada merasa bersalah karena dirinya sangat egois.


Setelah keduanya di rasa nyaman, Nada segera pergi keluar, dia duduk di ruang tamu, tepat di hadapan Laras yang sedang membaca Majalah.


Melihat Nada yang sudah siap menerima semua omelannya membuat Laras menutup Majalah dan menatap lekat Nada.


"Kau bilang apa ke Andra, kau menghasutnya untuk membenciku?" tanya Laras dengan suara lantang.


Nada hanya tersenyum kecut, dia tidak menyangka suaminya akan bertindak secepat ini. Dia sudah mual dengan segala yang terjadi di rumah ini.


Sudah 3 tahun dia berjuang disini, akan tetapi tak ada seorang pun yang menghargai pengorbanannya.


"Saya hanya bilang kalau saya tidak bisa tinggal dengan seorang yang bermuka dua," ucap Nada.


"Kurang ajar ya kamu," ucap Laras beranjak dari kursinya.


"Lebih kurang ajar siapa, dengan seorang yang berusaha menghancurkan rumah tangga anaknya demi egonya," ucap Nada tak kalah lantang.


Dia sudah tidak dapat menahan segala luka yang dia terima di rumah ini, terutama pada kelakuan mertuanya. Salahkah bila dia harus menyerah saat ini?


"Aku nggak ngerti jalan pikiran ibu kemana ya, jelas Ibu bisa menjodohkan Mas Andra dengan siapapun itu. Asalkan sudah menceraikan ku," lanjut Nada dengan nafas yang memburu.


"Dan untuk kali ini saya tidak bisa bersabar, cukup Bu, kelakuan gila ibu itu!'' ucap nada menunjuk Mertuanya.


"Ibu cerewet, mengumbar fitnah yang bertebaran, bahkan benci sama aku. Aku nggak akan peduli. Tapi saat Ibu membuat Anak-anakku tersiksa, jangan salahkan aku kalau aku juga bisa buat ibu lebih tersiksa dari pada mereka." ucap Nada.


Laras hanya menatap menantunya yang kian berani ini, dia terasa melihat Nada yang berbeda. Biasanya Nada akan menangis dan meminta maaf atas kesalahannya. Dan saat ini berbanding terbalik.


"Setiap sabar ada batasnya Bu, aku menghormati Ibu sebagai mertua. Aku biarkan ibu menginjak-injak ku. Tapi tidak dengan Anakku." ucap Nada dengan mata berkaca.


Laras seakan mati kutu tak bisa menjawab semua ucapan Nada, dia terdiam dan hanya menatap Nada.


Karena tubuh Nada sudah sangat lelah, dan semua emosi yang dia pendam sudah di utarakan. Dia memutuskan untuk masuk ke kamar.


Langkah Nada terhenti saat dirinya hampir masuk ke kamar, dia memutar badannya.


"Suruh mas Andra ceraikan aku, selebihnya itu terserah ibu. Aku tak akan mempersulitnya." ucap Nada, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


Jangan tanya bagaimana sakit hati yang dirasakan oleh Nada. Beberapa tahun ini dia sudah mencoba berdiri di hujan badai lebat.


Namun sepertinya kekuatannya sudah sampai di titik tertingginya, dia sudah tidak dapat membendung semuanya lagi.


Nada menutup pintu, kemudian bersandar di balik pintu. Air matanya tak mampu dia bendung, hatinya begitu remuk dan hancur. Dia menekuk kakinya dan menangis sesenggukan.


Entah mengapa kekuatannya berkurang drastis saat melihat Andra bersama Kinan. Bila dia bisa kuat menerima semua cobaan dari mertuanya, tapi tidak dengan suaminya.


Nada menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi, dia mencoba agar suaranya tidak terdengar dari luar. Dadanya terasa sesak, pundaknya naik turun menahan tangisan yang semuanya tak dia lepaskan.


BERSAMBUNG.....