
Nada menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dia mencoba untuk menata hatinya agar perannya menjadi ibu kuat sukses
Nada memutar tubuhnya dan menyapa Alif dengan senyuman teduhnya.
"Sudah sayang ..." ucap Nada memamerkan deretan gigi putih.
Alif yang melihat wajah Nada yang berubah segera bangun dari tidurnya, dia mengucek matanya perlahan.
"Bunda kenapa? Matanya bengkak?" ucap Alif perlahan mendekat.
Dia melempar pandangannya ke Andra dan kemudian ke Nada secara bergantian. Sesaat Alif termenung dan segera memeluk Nada.
Matanya membelalak sempurna ketika merasa hangat di tubuh Nada, tangan mungilnya menempel di kening Nada.
"Bunda sakit? Kok panas," ucap Alif.
"Nggak sayang, Bunda baik-baik saja. Alif mau sarapan apa?" tanya Nada.
"Aku mau nasi goreng buatan Ayah," ucap Alif memamerkan senyum manisnya.
Andra yang mendengar hal tersebut segera bersiap dan memeluk Alif dari belakang. Dia mengecup pucuk kepala Alif berulang kali.
"Yaudah, Alif sama Ayah dulu. Bunda biar istirahat," ucap Andra.
Nada hanya melempar wajahnya sambil menahan air mata yang mulai merembes kembali, dia tak menyangka Alif lebih sensitif dari pada yang dia bayangkan. Padahal dia sudah susah payah untuk menyembunyikan semuanya.
"Makasih ya Sayang, Besok pasti bunda sudah sembuh," ucap Nada sambil membelai pipi chubby Alif.
Alif hanya tersenyum manis dan mengecup pipi Nada, dia melepas pelukan Andra. Bangkit dari duduknya dan memeluk Nada.
"Cepet sembuh Bunda, Alif janji nggak nakal," ucap Alif mengacungkan kelingkingnya.
"Oke Sayang, udah cepet siap-siap," ucap Nada.
Alif segera bersiap, mereka melangkah menuju dapur. Andra mulai memasak nasi goreng dan Alif masuk ke kamar mandi.
Di saat seperti ini, Alif mendadak bisa mandi sendiri. Andra tersenyum melihat tingkah Alif yang sangat peduli kepada Nada.
Dia tak menyangka Alif sangat menyayangi Nada, akankah Alif akan terus seperti ini jika mengetahui hal yang sebenarnya? Semoga saja tidak, Karena Nada juga sangat mencintai dirinya.
Andra akui, dialah yang merusak semua momen mereka. dia merasa malu kepada Alif karena tidak bisa memberikan perhatian Sepertinya ke Nada.
Setelah selesai mandi, Alif segera melangkah masuk ke kamar. Dia melihat Nada yang berbaring membelakanginya, tampak sebuah seragam yang sudah di siapkan.
Sejujurnya Alif kurang bisa memakai seragam sendiri. Akan tetapi, melihat Nada yang sedang istirahat. Membuatnya mencoba hal baru, dia tak mau merusak jam istirahat Nada.
Setelah memakai seragam sebisanya, Alif segera menggendong tas sekolahnya dan melangkah keluar kamar.
"Alif, kamu pakai seragam sendiri?" ucap Laras dengan suara melengking.
"Ssttt. iya Nek," ucap Alif menaruh jari telunjuk di bibir mungilnya.
"Kenapa?" ucap Laras sengaja meninggikan volume suaranya.
"Bunda sakit Nek, jangan keras-keras dong kalau ngomong," ucap Alif kesal.
"Sakit apanya, cuma males Bundamu tuh. Lagi marahan sama Ayah gara-gara Ayahmu nolongin Tante Kinan," ucap Laras yang melangkah mendekat dan merapikan kerah baju seragam Alif.
Seketika Alif termenung, wajah yang semula ceria mendadak berubah tanpa eskpresi. Dia melempar pandangan ke arah Andra yang menyiapkan nasi goreng di meja makan.
"Bundamu tuh jahat banget sama Ayah, masa' Ayah pulang malam di marahin. Padahal kan Ayah berkerja keras." ucap Laras kembali, saat melihat Alif menatap Andra dengan mata berkaca.
Laras pikir dia kasihan kepada Andra, Ayahnya. Tapi semua yang dipikirkan oleh Laras berbanding terbalik yang ada di kepala Alif.
Dengan malas Alif melangkah menuju meja makan, dia mulai menyuap sesendok demi sendok nasi goreng dengan wajah datar.
"Nenek suapin," ucap Laras meraih piring Alif. Seketika tangan Laras di tepis oleh Alif.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Alif datar, matanya masih berkaca.
"Ayah suapin ya,?" ucap Andra, sepertinya mood Alif mendadak berubah.
Tak ada jawaban dari bibir mungil Alif, dia menikmati sarapannya dengan wajah datar. Tampak kesedihan mendalam di wajahnya, walaupun dia tak menyampaikannya.
Selama sarapan, tak ada ocehan Alif yang riang seperti biasanya. Kalau dia sarapan, sering kali dia berkisah di tengah makannya. Kadang Nada sampai membentaknya gegara tidak fokus dengan sarapan nya
Selesai sarapan Alif menunggu Ayahnya di depan, Andra yang melihat perubahan Alif menjadi sangat khawatir.
Dia segera menaiki motornya di susul Alif yang duduk di kursi belakang, masih dengan ekspresi yang sama.
"Alif kenapa?" tanya Andra.
"Nggak kenapa-kenapa yah," jawab Alif singkat.
Mungkin Alif tertular oleh Nada, yang katanya tidak kenapa-kenapa. Tetapi menyimpan luka yang cukup dalam.
"Alif mau libur aja, nemenin Bunda?" tanya Andra kembali.
"Nggak Yah," Alif masih tetap menjawab dengan jawaban yang sama.
Andra memutuskan untuk mempercepat laju motornya, tidak butuh waktu lama sampailah Alif di sekolah.
Yang biasanya banyak drama, kini Alif menjadi anak yang penurut. Dia turun dari motor dan berpamitan dengan Andra, dia mengecup punggung tangan Andra dan melangakah masuk kelas.
Seperti biasanya, Bu guru akan menunggu muridnya di depan kelas dan menyapanya penuh senyuman. Sebelumnya Alif akan membalas sapaan Bu guru dengan pelukan erat serta tawa renyah.
Tapi semua berbanding terbalik lagi, Alif hanya melewati gurunya dengan wajah datar. Terlihat Bu guru mengobrol sebentar di ambang pagar.
Setelah sesaat mengobrol, Bu guru melangkah mendekati Andra yang masih menatap kepergian Alif dari balik pagar sekolah.
"Selamat pagi Pak, tumben Bapak yang mengantar. Bu Nada kemana ya?" tanya Bu guru.
"Selamat pagi Bu, Bu Nada masih sakit, jadi saya yang mengantar," jawab Andra dengan ramah.
"Sebelumya saya minta maaf, apa di rumah ada masalah ya?" tanya Bu guru.
Seolah mengerti semua keadaan yang ada, Bu guru menatap lekat ke arah Andra sambil menantikan sebuah jawaban.
"Tidak Bu, semua baik-baik saja. Ada apa ya Bu?" tanya Andra.
"Maaf Pak, Alif tidak seperti biasanya. Yasudah kalau tidak ada masalah, nanti saya akan coba menghibur nya. Mungkin dia sedih karena Bundanya sakit," ucap Bu guru kemudian melempar senyum dan melangkah kembali ke kelas.
Bahkan Bu guru bisa merasakan perbedaan Alif. Andra memutar motornya dan melaju meninggalkan kawasan sekolah.
Dia memutuskan untuk tidak bekerja dulu, dia ingin fokus kepada Nada. Dia tak mau kondisi Masa semakin memburuk.
BERSAMBUNG.....