Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Tak Secantik Parasnya



Setelah dokter selesai memberikan instruksi penanganan untuk pasien pria kepada asistennya, dokter beralih ke pasien wanita yang masih memejamkan mata.


Dan Nada melangkah mendekati pasien pria tersebut, dengan hati-hati Nada membersihkan cairan merah yang mulai mengering di wajahnya.


Rasa dingin yang menyentuh kulitnya membuat Andra membuka matanya, dia menatap Nada yang membersihkan lukanya.


"Maaf ya mbak, jadi ngrepotin," ucap Andra.


Nada hanya tersenyum kecil, di saat seperti ini. Pria ini malah bercanda, kondisinya saja masih mengkhawatirkan.


"Sebentar lagi asisten dokter akan datang untuk menjahit luka di kepala Mas, saya izin bersihkan dulu ya," ucap Nada mengambil kapas yang sudah di basahi sedikit alkohol.


Cairan yang mulai mengering membuat Nada sedikit kesulitan untuk membersihkannya, Andra Sedikit meringis menahan perih di kepalanya.


Luka di kepalanya masih menganga dan tanpa sengaja terguyur cairan dingin yang semakin menambah rasa perih.


"Argh ..." desah Andra.


"Maaf Mas, tahan sebentar." ucap Nada.


Di kepala Andra terdapat beberapa luka dan yang paling parah adalah luka di kepala bagian belakang, ada beberapa pecahan beling yang menempel di rambutnya. Dengan telaten Nada membersihkan satu persatu pecahan kaca tersebut.


Ada beberapa luka di pelipis dan lengannya, luka robek sedikit. Walaupun itu tidak dalam tapi sukses membuat Andra meringis kesakitan.


Setelah selesai dengan luka kepala, Nada membersihkan luka-luka kecil di wajah Andra. Luka goresan kecil, seperti luka goresan kaca.


Melihat Nada dengan jarak dekat membuat rasa perih itu sirna entah kemana, jangankan perih. Bahkan rasa sakit yang ada di kepalanya menghilang begitu saja.


Mata Nada yang bulat sempurna, hidung mancung, di tambah bibir manis yang sedari tadi bermain-main membuat Andra terasa sesak.


Beberapa kali Nada membersihkan luka dan sesekali meniup luka tersebut, ingin sekali Andra mengigit bibirnya yang seolah mengajaknya bermain juga.


"Mas ..."


"Mas ..."


"Mas nggak papa kan?" tanya Nada yang mulai cemas karena Andra tak segera menjawab ucapannya.


Andra segera tersadar dari lamunannya. dia segera melempar pandangan ke samping untuk menahan rasa malunya, dan tanpa sengaja dia melihat kinan sedang di kerumuni doter dan beberapa perawat.


Melihat reaksi Andra yang panik membuat Nada segera memberi informasi, agar Andra tidak terlalu panik.


"Pacar Mas masih pingsan, tak ada luka serius. Sebentar lagi pasti siuman," ucap Nada, dan lempar senyum getirnya.


Mendengar Nada memanaggil Kinan dengan sebutan pacar membuat Andra segera melempar pandangan ke Nada.


"Pacar?" ucap Andra mengulangi ucapan Nada.


Nada memasang wajah bingung, kenapa seolah Andra tidak mengenali pacarnya, bukankah mereka kecelakaan di mobil yang sama.


"Maaf, suster salah sangka. dia bukan pacar saya, kami hanya teman." ucap Andra membuang pandangannya.


Teman? Teman mana yang masih bersama di jam malam seperti ini, bahkan mobil mereka di temukan di kawasan yang memang banyak sekali Villa disewakan.


Bagaiama reaksi Nada? Ya sudah pasti Nada berpikir Andra bukanlah orang yang baik. Bayangkan saja, mereka ditemukan kecelakaan di satu mobil bahkan kawasan seperti itu, lebih anehnya pria ini tidak mengakui hubungannya.


Sontak Nada langsung hilang respect ke Andra, dia juga wanita dan akan merasakan sakit bila diperlakukan demikian oleh lelakinya.


Nada segera menyelesaikan tugasnya, entah mengapa suasana hatinya menjadi sedikit gerah. Setelah selesai. Nada memasang infus di tangan Andra dan Kinan.


Tak lama kemudian, datanglah perawat yang bertugas menjahit luka dalam yang berada di kepala Andra. Nada segera duduk kembali di kursinya.


Nada mulai mencatat apa keluhan yang dirasakan Andra, sayangnya Kinan tidak kunjung siuman sampai petugas datang, jadi Nada tidak bisa mengisi buku rekam medis.


Tak selang berapa lama, mereka di pindahkan ke ruangan rawat khusus pasien, sementara Nada masih duduk termenung di ruang UGD.


Nada mulai megatur konsentreasinya, dan berusaha membuang perasaan gila yang ada di pikirannya. Memang benar apa kata Laras, seharusnya dia tidak menggangu hubungan orang.


Secara tidak langsung dia sudah jadi pelakor, hatinya di selimuti rasa bersalah kepada gadis cantik yang baru saja dipindahkan tersebut.


Tanpa terasa hari mulai gelap, Nada segera bergegas untuk membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Dia melangkah menuju lokernya.


Dirinya melangkah keluar ruang UGD, sudut matanya menatap seorang yang sedang melangkah melewatinya begitu saja.


Dilihat dari pakaian dan cara bicaranya sepertinya dia adalah orang kelas menengah ke atas, di tambah sikap sombong yang terpancar jelas dari wajahnya.


Nada mencoba mengalihkan pandangannya, dan melihat temannya, Dina. Perawat yang satu sifat dengannya. Tampaknya dia sangat lelah melihat cara berjalannya yang setengah diseret.


Mungkin yang di ceritakan Laras tadi benar adanya. Karena Dina bertugas membantu persalinan di ruang bersalin.


"Astaghfirullah, udah kaya zombi aja," kekeh Nada.


"Diem lo, badan gue remuk semua yang lahiran siapa? Eh yang patah tulang siapa?" keluh Dina.


"Ya Allah, semoga besok pasiennya nggak bar-bar," lanjut Dina sambil melangkah mendekati lokernya.


"Udah dong ngeluhnya, yuk pulang. Gue tunggu di depan ya," ucap Nada melangkah keluar rumah sakit.


Tidak sengaja Nada menabrak seorang yang sangat cantik, sama persis seperti artis drakor di tv. Tinggi sekitar 175cm, kulit putih bersih, rambut panjang halus yang tergerai. Di tambah parfum mewah yang memanjakan indra penciumannya.


Sejenak Nada membatu melihat seorang bidadari di hadapannya, sungguh ini bagaikan mimpi baginya,


"Punya mata nggak sih?" ucap wanita tersebut dengan nada kasar.


Memang benar yang dikatakan orang, semua manusia tidaklah sempurna. Sama seperti gadis di hadapannya mempunyai paras cantik, sayang attitude-nya tidak secantik parasnya,


"Maaf Mbak, saya nggak sengaja," ucap Nada menundukkan kepala.


"Untung aku sibuk, kalau nggak udah aku laporin ke atasan kamu," ucap wanita tersebut mendorong pundak Nada dan melewatinya begitu saja.


Dina yang melihat temannya di rendahkan segera melangkah mendekat, dia melewati nada dan mengejar wanita sok cantik tersebut.


Sayangnya Nada segera meraih tangan Dina dan menariknya, Nada menggeleng lirih dan menarik tangan Dina untuk mengikuti langkahnya menuju ke pintu keluar.


"Nad lo tuh kebiasaan, jadi orang jangan sabar-sabar dong. Tuh kan diinjak-injak jadinya, orang tadi kok yang salah," ucap Dina.


"Udahlah biarin, gue udah capek, ngantuk banget," ucap Nada.


Dina tau itu adalah dusta belaka, sikap Nada yang selalu mengalah membuatnya sedikit gemas, berulang kali dia kena teguran pengawas bangsal hanya karena para pasien tidak tau terima kasih yang selalu mengadukannya.


Padahal Nada merupakan perawat yang paling sabar. dalam menangani pasien, ya meskipun Nada tidak selalu ada di ruang rawat. Tapi tetap saja Nada yang selalu kena omelan.


BERSAMBUNG....