Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Atur Pernikahan Mereka



Sambil menunggu Kinan dan ibunya pulang belanja, gerombolan perawat wanita itu duduk sejenak. terdengar suara tawa yang renyah dari mereka.


Andra duduk di sudut ruangan, matanya terus menatap salah satu perawat yang tanpa sadar sudah mencuri hatinya.


"Qhatrin Nada," gumam Andra.


Wajah Andra menatap ponsel, tapi tidak dengan ujung matanya. Matanya menatap ke arah yang lain. Dia segera melempar pandangannya setelah mengetahui perawat yang dia lihat melangak ke arahnya.


Langkahnya kian mendekat, semakin cepat pula tempo denyut jantung Andra. Tak terasa telapak tangannya sudah basah di penuhi keringat.


"Maaf Mas, masih lama nggak ya?" tanya Nada.


"Be-bentar lagi kok mbak, tunggu aja." ucap Andra menatap wajah Nada sekilas, dirinya tak mampu menatap Nada terlalu lama. Karena wajah yang kian memanas.


Melihat Pria yang ada di hadapannya sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, membuat Nada semakin penasaran.


'Bukankah ini sore? Tapi wajah pria ini tampak memerah seperti terbakar?' Nada segera duduk di hadapan pria itu dan menatapnya lekat.


"Mas nggak papa? Wajahnya kok merah banget. Mas demam?" tanya Nada semakin mendekatkan pandangannya.


Melihat Nada yang semakin menyondongkan tubuhnya, membuat keringat Andra semakin bercucuran di keningnya. Sungguh jantungnya kini sudah tidak bisa di kondisikan.


"Mas aku periksa sebentar ya?" tanya Nada.


Sontak Andra memalingkan wajahnya dan mengangguk cepat, tersadar kalau kelakuannya itu sungguh memalukan. Dia segera menggelengkan kepalanya lagi.


Nada menahan tawanya ketika melihat tingkah aneh pria di depannya, dia seperti anak kecil yang sedang mau di suntik. Berubah pikiran begitu cepat.


Nada mengulurkan punggung tangannya ke kening pria tersebut, dirinya cukup khawatir melihat wajah yang memerah di tambah keringat yang bercucuran deras.


Andra mulai mematung, punggung tangan Nada mendarat tepat di dahinya. Sentuhan kulit lembutnya membuat Andra lupa kalau saat ini dia sedang duduk di warung.


"Mas nggak panas, tapi merah banget wajahnya," ucap Nada menatap Andra dan mengurungkan tangannya.


Nada segera duduk dan mengeluarkan ponselnya, jam istirahatnya sudah mulai habis. Dia celingukan mencari si penjual, pandangannya berhenti di hadapan Andra.


Kontak mata tak dapat di hindari, Nada menatap lekat manik mata Andra yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


Sampai ...


"Ehemmm, udah dapat kenalan aja. Cepet bener," ucap salah satu teman Nada.


Nada yang terkejut segera melempar pandangannya, sementara Andra masih terbelenggu dalam keindahan pemandangan di hadapannya.


"Kedip dong Mas," ucap teman Nada, diiringi tawa cekikikan.


Tak ada jawaban dari Andra, dia masih menatap lekat Nada yang mulai salah tingkah.


"Cantik ya?" tanya teman Nada.


"Banget," sahut Andra, masih dengan tatapan yang sama.


"Mau jadi pacarnya?" tanya teman Nada yang kian usil.


"Mau banget Mbak," ucap Andra memalingkan pandangannya ke teman Nada.


Sadar kalau dirinya sudah di kerumuni beberapa perawat membuatnya dia segera berdiri dan tanpa sadar kakinya menghantam meja yang ada di hadapannya.


Tawa teman-teman Nada pecah sudah, Andra sudah seperti pelawak di hadapan mereka. Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal dan membuang pandangannya, dia cukup memalukan Sore ini.


Di saat yang bersamaan, Kinan dan ibunya datang. Kinan memarkir mobil Andra di tepi jalan dan turun dari mobil.


Kinan melangkah masuk ke warung di ikuti oleh ibunya yang melangkah di belakangnya. Melihat langgananya datang, ibu Kinan segera berlari kecil melayani mereka.


Teman-teman Nada segera mengerumuni Ibu Kinan dan memesan pesanan mereka masing-masing, sedangkan Nada mulai bangkit dari kursinya dan mengikuti langkah temannya.


"Maaf ya mbak nggak sopan," ucap Andra, yang kemudian menghentikan langkah kaki Nada. Nada memutar tubuhnya.


"Nggak papa Mas, maafin temen-temen saya ya. Mereka cuma bercanda kok," ucap Nada tak enak hati.


Sebenarnya ada sekelebat sebuah rasa yang menggelitik perutnya, walau Nada tak sebegitu memperhatikannya.


Nada segera menundukkan kepala, dia berpamitan dan meninggalkan senyum yang menawan. Andra serasa ingin melayang ke udara ketiak mendapatkan senyuman Nada.


"Nggak bercanda juga nggak papa kok Mbak Qhatrin," ucap Andra lirih.


"Qhatrin siapa sih, hayoo," ucap Kinan dari belakang.


Tanpa sadar Kinan sudah memperhatikan Andra dari tadi. Hanya Andra saja yang terlalu fokus dengan sosok bidadari di depannya.


Kinan mengacak rambut Andra dan menggandengnya pergi menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.


Di sisi lain, hati yang tiba-tiba berbunga mendadak kering sudah, ketika melihat pria yang mengaguminya telah menggandeng wanita lain.


"Cie, yang patah hati." ucap Teman Nada.


"Siapa yang patah hati, pacaran aja nggak," sahut Nada.


"Cie, yang ngarep jadi pacar," sahut temannya lagi.


"Hust, diem. Itu tadi calon mantunya Bu Darsih loh," sahut salah satu teman Nada.


Sebenarnya Nada tak terlalu menanggapi omongan kawan-kawannya, entah mengapa hati Nada serasa remuk begitu saja.


Setelah semua pesanan selesai, Nada dan teman-temannya melangkah kembali ke rumah sakit. Di tempat yang berbeda, tepat di mobil yang melaju meninggalkan kota.


"Makasih ya Ndra, udah mau jadi pacar gue," ucap Kinanti.


"Nyokap gue emang gila. Seenggaknya,ngue bisa selamet dari rentenir gila itu." ucap Kinan merebahkan tubuhnya di kursi mobil yang sudah di rubah posisinya.


"Oke, sama-sama plend," ucap Andra enteng.


Keluarga Kinan terbelit hutang, hasil kerja Kinan pun seakan tak sanggup menutup hutang piutang mereka. Sebenarnya Andra sudah ingin menolong keluarga Kinan.


Akan tetapi, Kinan sungguh tidak enak hati. Kalau sampai ibunya tau kalau Andra yang menolongnya, pasti saat itu juga dia dan Andra akan di nikahkan.


Selama ini Andra sudah sangat baik mau menolongnya, mendapatkan pekerjaan yang layak di kantor milik Andra di tambah tempat tinggal yang gratis.


Suka? Siapa yang nggak suka, lebih tepatnya tertarik dengan Andra. Karirnya yang gemilang di perusahaan tekstil impor ekspor, dan parasnya yang menunjang kesempurnaannya.


Dengan postur tubuh 180cm, kulit kuning langsat khas milih Asia. Di tambah lagi rambut ikal tebal, alis dan mata yang cukup tajam membuat dia terlihat berkharisma.


Hanya saja beberapa menit yang lalu dia terlalu terpesona dengan bidadari yang lewat, jadi kharismanya menghilang begitu saja.


"Kalau Lo mau nikah bilang aja, nanti gue cari pacar." ucap Kinan enteng.


"Yakin Lo rela?" kekeh Andra.


"Emang Lo yakin mau sama gue?" sahut Kinan.


"Mau lah ..." sahut Andra.


Mendengar sahutan Andra membuat jantung Kinan berhenti berdetak, seolah semua do'anya terkabul saat ini juga.


"Tapi bo'ong. serius banget tuh muka," ucap Andra mengacak rambut Kinan.


Melihat wajah Kinan yang mulai kusut membuat Andra tersenyum kecil. Andra tau kalau Kinan menyimpan rasa untuknya, dia bukan anak kecil yang tak bisa merasakan perbedaan sikap.


Wajah Kinan yang selalu memerah saat di dekatnya, perhatian-perhatian kecil Kinan yang membuat Andra melayang sesaat. Semua itu bisa Andra rasakan selama ini, tapi tidak dia ungkapkan.


Dia tidak mau menjalin suatu hubungan yang akan membuat persahabatan mereka hancur. Bukankah cinta bisa merubah segalanya, bahkan saat cinta itu terluka.


Bohong kalau hati yang patah bisa tersambung kembali. Tak ada yang bisa berdamai dengan mantan. Hanya seorang itu yang bisa mengelola emosinya sehingga semua terlihat baik-baik saja saat bersama.


Kinan terlalu berharga. Dia tak mau melukainya lagi. Keluarganya sudah cukup membuat Kinan sengsara. Dan saat ini adalah tanggung jawabnya untuk membayarnya.


Andra bisa menolong Kinan kapanpun dimanapun, Dia bisa memberi barang apapun yang Kinan minta. Hanya saja tidak dengan hatinya, meskipun terkadang Andra terhanyut oleh suasana.


"Lo udah gue anggap seperti kakak gue, jadi nggak perlu ada hubungan yang memperjelas semuanya," ucap Andra tersenyum tipis.


"Kapanpun, dimanapun Lo butuh gue. Gue akan datang, tapi itu bukan ..." ucap Andra terpotong.


"Bukan cinta, Lo nggak bisa nerima gue karena gue miskin kan," sahut Kinan dengan mata berkaca.


Andra menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya di tepi jalan, dia memutar pandangannya dan menatap lekat Kinan.


"Maaf, gue ...." ucapan Andra terhenti.


"Jangan kasih harapan lebih ke gue, jadi ..." ucap Kinan.


"Sampai kapanpun, Lo akan jadi kakak gue," ucap Andra dan melajukan mobilnya kembali.


Begitu banyak rahasia yang tersimpan di hidup Andra, hal ini membuat kehidupannya berjalan dengan diiringi rasa ketakutan mendalam.


Dia tak tau kapan rahasia ini akan terungkap, yang jelas. Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keluarga Kinan.


Di sisi lain, tepat di sebuah rumah megah. Ada seorang wanita dengan tampilan yang cukup glamor. Semua benda yang menempel di tubuhnya memilik harga Yang fantastis.


"Atur pernikahan mereka!''


BERSAMBUNG....