Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Bab > 43



Nadia dan Andra keluar dari ruangan Satria, keduanya dapat bernafas lega karena kondisi Zaskia akan segera pulih. Mereka memutuskan untuk pergi ke ruang rawat putri kecilnya yang berada tak jauh dari ruangan Satria.


Tak ada obrolan, hanya keheningan yang menemani langkah mereka sampai ke bangsal tempat Zaskia di rawat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Nada mencari kamar Zaskia, akan tetapi sesampainya disana. Tak ada seorang anak kecil di sana, kasurnya kosong. Sepertinya belum ada yang menempatinya.


Nada mulai panik, begitupula Andra. Dia segera pergi ke post suster jaga, Sedangkan Nada melangkahkan kaki menyusuri bangsal tersebut hingga ...


Nada melihat seorang suster yang menggendong balita, sepertinya dia familiar dengan anak kecil yang di gendongannya.


Dia segera melangkah mendekati suster tersebut dan menepuk pundaknya, saat suster itu berbalik.


"Bunda," ucap Zaskia lirih.


Tampak mata jernih putri kecilnya berkaca, tampaknya dia sangat ketakutan. Tanpa buang waktu lagi Nada segera meraih Zaskia dari gendongan suster tersebut.


"Zaskia, maafin Bunda ya nak." Nada meraih Putri kecilnya yang berada di gendongan suster.


Nada mendekap erat Putrinya yang masih lemah, dia merasa bersalah telah meninggalkan nya di rumah. Akibat keteledorannya Zaskia jadi sakit.


Andra merasa lega karena Nada sudah bertemu dengan Zaskia, dia segera berlari kemari karena salah satu suster bilang kalau Zaskia rewel dan di ajak jalan-jalan dengan suster lainnya.


Andra segera berlari kecil, mendekati mereka.


"Makasih ya Sus," ucap Andra melempar senyum.


"Sama-sama Pak, Bu. Ruangan Zaskia di sebelah sana, Saya melanjutkan tugas kembali." Telunjuk suster mengarah ke ruangan yang tidak jauh mereka berdiri, kemudian melangkah pergi.


"Zaskia sama Bunda dulu, Ayah mau ke Kak Alif sebentar." ucap Andra mengecup pucuk kepala Zaskia dan Nada bergantian.


Nada masih tak merespon semua sikap lembut Andra, semakin lembut sikap Andra kepadanya, hatinya makin remuk saja.


Meskipun hatinya remuk, Nada tetap berusaha biasa saja. Seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka, cukup Alif yang peka dengan keadaan karena sering nya dia melihat perlakuan Ayahnya kepada Bundanya.


Tidak dengan Zaskia, dia harus menjadi anak ceria dan bebas dari segala macam tekanan. Nada tak ingin gagal dalam mengurus anaknya untuk kedua kali.


Nada menggendong Zaskia dan mencoba menenangkannya, perlahan dia melangkah menjauhi Andra yang masih berdiri menatap Nada.


Dia tau, sekuat apapun dia berusaha meraih perasaan Nada kembali. Bila istrinya tidak bisa menerimanya sekarang, pasti suatu saat dirinya akan di terima kembali. Walaupun entah kapan.


Andra melangkah menuju ruang HCU, ruangan khusus dimana banyak pasien yang di rawat secara intensif. Kata orang ruangan tersebut steril dan tidak ada pasien yang boleh di jaga oleh keluarga.


Di sana ada perawat khusus untuk menjaga pasien-pasien tersebut, sehingga pihak keluarga hanya boleh menunggu di luar ruangan.


Ruangan tersebut cukup luas, tapi melihat banyak orang yang duduk di pinggiran ruangan membuat Andra berpikir keras. Ternyata apa yang dia dengar adalah benar.


Andra melewati beberapa orang yang menggelar tikar di pinggiran jalan, tepat di samping ruangan HCU. Mungkin karena memang aturan tidak memperbolehkan mereka masuk, sehingga mereka memilih untuk duduk di pinggiran jalan.


Sebenarnya Andra ragu untuk masuk, tapi dirinya ingin melihat kondisi putranya saat ini. Dia tidak tega harus membiarkan Alif sendirian di kamar.


Andra mengesampingkan pikirannya yang tak penting, dia masuk ke ruang tersebut. Entah keputusan suster boleh atau tidak, Andra harus bisa melihat Putranya walau hanya sekejap.


"Maaf Pak, mau kemana ya? Disini ruangan sterill, jadi tidak sembarangan orang boleh masuk," ucap seorang perawat.


"Saya mau melihat anak saya sus, sebentar saja," Pinta Andra memelas.


"Di mohon kerja samanya Pak, di dalam juga banyak pasien dengan penyakit berat dan keluarganya menunggu di luar. Anda bisa masuk kalau perawat memanggil," Ucap Perawat memberi penjelasan.


"Sus, tolong. Di dalam putra saya sendirian, kondisinya kritis. Saya mohon hanya sebentar saja," Pinta Andra dengan mata berkaca.


Sang perawat tersentuh melihat permohonan Andra, dan akhirnya dia memperbolehkan Andra masuk ke dalam.


Andra mengikuti langkah perawat yang melangkah melewati barisan tempat tidur yang hanya di batasi kelambu berwarna putih.


Di tempat ini lebih mengerikan dari pada tempat rawat Alif sebelumnya, Banyak pasien yang merintih kesakitan. Dan tak ada yang mengurus mereka, bahkan tak ada suster yang berharga di sampingnya.


Hati Andra teriris melihat ini semua, bagaimana kondisi putranya nanti bila di rawat di ruangan seperti ini.


Dengan menahan rasa sungkannya Andra mencoba bertanya,


"Sus, kenapa tidak ada yang boleh di rawat oleh keluarga mereka?" tanya Andra lirih.


"Disini ruangan steril Pak, terkadang keluarga yang menunggu sering keluar masuk ruangan dan mereka tidak tau virus apa yang menempel pada tubuh mereka, dan di dalam juga tidak di perbolehkan menggunakan ponsel. Jadi tidak ada aliran radiasi yang mencemari ruangan ini, setiap perawat yang masuk pun juga akan berpakaian khusus," Suster menjelaskan dengan terperinci.


Andra hanya mengangguk kepalanya lirih, matanya masih terus memantau setiap sudut ruangan. Saat dia sadari, ternyata di setiap kasur terdapat alat lengkap di sampingnya.


Seperti alat pendeteksi jantung dan beberapa alat lain yang terpasang di dada dan jari telunjuk pasien. Dia juga baru sadar, terbata pasien juga di bedakan antara pria dan wanita.


Setelah beberapa langkah berjalan, akhirnya sampai juga di tempat Alif terbaring. Disini Alif nampak menderita sekali, Andra sampai tak tega melihatnya.


Di hidungnya terpasang selang oksigen, belum lagi tangan yang di pasang infus, dan begitu banyak kabel yang di pasang di dadanya.


Belum lagi balutan perban yang melingkar tebal di kepalanya dan beberapa bagian tubuh lain, kalau pun bisa. Pasti dia lebih memilih untuk menggantikan posisi Alif saat ini.


"Adiknya ketabrak apa Pak?" tanya Suster.


"Mobil sus, saat dia nyebrang nggak lihat jalan," jawab Andra perih.


Andai saja dia jujur kepada Nada lebih awal, pasti kejadiannya tidak seperti ini. Harusnya dia tau, betapa besar cintanya kepada Nada.


Dia selalu tak tega melihat Nada bersedih, sering kali Andra melihat kalau Alif lebih mementingkan perasaan Bundanya dari pada dirinya sendiri.


Mata Andra berkaca, tanpa dia sadari tetes air matanya membasahi pipi. Dia sangat menyesal karena tidak bisa mengerti apa yang di maksud Alif.


Malah dengan terang-terangan dia membela Kinan dan menyudutkan Alif, padahal dia tau semalam Bundanya bersedih karena orang yang sama.


Andra melangkah mendekat dan mencoba meraih Alif,


"Siapa yang suruh dia masuk?"