
Andra masuk untuk dan duduk di sebuah kursi yang sudah di siapkan oleh kantin tersebut, dia memesan seporsi nasi campur.
"Dari mana mas?" tanya Andra memulai percakapan.
"Malang mas," jawab pria itu singkat.
Andra mengangguk lirih, karena kantin cukup ramai membuat pesanan nya tidak kunjung datang. Banyak sekali pasien yang berobat kesini, jadi meskipun malam hari kantin tetap ramai pengunjung.
"Mas dari mana?" tanya pria tersebut.
"Daerah sini aja mas, anak saya baru kecelakaan." jawab Andra.
Mendengar jawaban Andra, pria itu menundukkan kepalanya. Tampak kesedihan yang mendalam, ingin sekali Andra bertanya sesuatu yang mengganjal hatinya sejak tadi.
"Istri sakit kanker," jawab pria tersebut.
Andra hanya terdiam, pantas saja dirinya memperlakukan wanita itu sangat istimewa. Orang tersebut menatap Andra lekat, masih tampak kesedihan di matanya.
"Saya cuma mau berpesan, luangkan waktu Mas untuk istri. Karena kita tidak tau apa yang selama ini dia simpan rapi, seorang istri punya cara tersendiri untuk menutupi ketidak berdaya nya dengan senyuman," ucap Pria tersebut dengan mata berkaca, seolah meluapkan kesedihan yang di pendam lama.
Andra hanya terpaku mendengar ucapan pria tersebut, mencoba mencerna pesan dari pria tersebut.
Tak di sangka pria tersebut menitihkan sebuah air mata yang langsung di halusnya, berulang kali dia mendongak kepalanya ke atas. Kemudian melempar pandangan ke Andra.
"Selama ini, 5 tahun terakhir. Saya kira semuanya baik-baik saja, Saya menyesal telah menelantarkannya. Harusnya saya lebih baik lagi ..." ucap Pria tersebut dengan suara dingin.
Andra hanya tersenyum dan mengangguk, sementara pria tersebut meraih sebuah kantong plastik yang berisi makanan pesanannya.
Seolah tau apa yang Andra hadapi saat ini, dia beranjak dari kursinya dan menepuk pundak Andra sebelum melangkah pergi.
Tak selang berapa lama, makanan yang Andra pesan di hidangkan di hadapannya. Perut yang semula lapar tiba-tiba menjadi kenyang.
Dia memilih untuk membungkus makanannya dan memesan satu bungkus makanan lagi. Tak lama kemudian dia telah sampai di kamar Alif kembali.
Dia melihat Nada sedang duduk dan menaruh kepalanya di sisi ranjang Alif, sejujurnya Andra sangat malu kepada dirinya sendiri.
Bahkan orang yang awalnya bukan siapa-siapa bisa menjadi sangat dekat dengan putranya dan bisa memberikan segalanya.
"Makan yuk," ucap Andra membelai lembut rambut Nada.
Nada terjingkat dan mengucek matanya. Sepertinya dia kecapekan, sampai tidak tau kalau ada yang masuk.
Tanpa ekspresi Nada meraih kantong pelastik yang di bawa Andra, dia segera duduk di lantai yang sudah di alasi tikar.
"Terimakasih," ucap Nada saat membuka kantong pelastik yang berisi 2 bungkus nasi dan es teh.
Kalau dulu, dia akan mengajak suaminya makan bersama. Saat ini Andra benar-benar kehilangan istrinya
Tak ada sapaan hangat atau bahkan perhatian dari kemarin, hubungan mereka bagai sayur tanpa garam. Hambar.
Andra bisa mengerti hal ini dan selalu berdo'a agar keadaan rumah tangganya baik-baik saja, saat ini dia mulai mengerti sakit hati Nada.
Sama halnya seperti dia melihat Nada begitu akrab dengan Dokter dan perawat di rumah sakit ini, padahal sebelumnya Andra tau kala mereka adalah teman baik Nada.
Sekuat apapun Andra menolak cinta Kinan, dia bagai hantu yang terus gentayangan di sekitarnya. Terlebih rasa bersalah yang seolah sudah mendarah daging.
Andra memutuskan untuk duduk bersama Nada dan makan bersama, menunggu dia mengajaknya. Adalah hal yang mustahil.
"Nanti kamu pulang aja, biar Mas yang nungguin Alif." ucap Andra.
Nada hanya diam, dia masih fokus dengan nasi yang di makannya. Seolah telinganya tak mendengar ucapan Suaminya.
"Nad, aku tau kamu masih marah. Tapi kamu juga butuh istirahat," ucap Andra.
Nada mengehentikan acara makannya, dia melempar pandangan ke arah suaminya yang menatapnya lesu.
"Terkadang, capek itu bukan karena pekerjaan rumah ataupun mengurus anak. Aku sudah biasa seperti ini, Mas juga tau kan. Jadi nggak usah khawatir." ucap Nada tanpa ekspresi.
Andra menghela nafas, ternyata Nada benar-benar serius dengan ucapannya. Dia hanya tak tega melihat istrinya lelah, tapi itu semua tidak di sebut baik oleh Nada.
"Zaskia juga butuh kamu, kesehatanmu juga penting Nad," ucap Andra membelai lembut pipi Nada.
Dulu, Nada sangat mengharapkan situasi seperti ini. Tapi semua terasa hambar saat dia mendapatkannya. Tatapan matanya menuju tangan Andra yang menyentuh pipinya.
"Aku nggak suka tubuhku di sentuh oleh tangan kotor seperti ini." ucap Nada melepaskan tangan suaminya yang menempel di pipinya.
"Kamu boleh marah, nggak suka, bahkan minta cerai dariku. Tapi yang perlu kamu tau, aku tidak akan menceraikan mu sampai kapanpun." ucap Andra tegas.
Nasi yang melewati tenggorokan Nada berhenti mendadak, membuatnya terbatuk dan sesak. Andra segera memberikan segelas es teh yang berada di sampingnya.
"Pelan-pelan Nad," ucap Andra menggosok punggung Nada.
Nada segera menepis tangan Andra, mata Nada memanas sama seperti hati dan pikirannya.
"Kalau kamu nggak mau menceraikan ku, aku yang akan pergi dari hidupmu." Ancam Nada.
Andra tak bergeming dia kembali di posisi duduknya semula dan mencoba untuk tenang.
"Aku tau, aku salah. Dan aku tidak menutup mata soal sakit hatimu, tapi. Bisakah kita berkerja sama sebentar saja, Alif sangat butuh dukungan kita. Kau boleh marah dan ceria. Setelah semua masalah ini selesai," ucap Andra tanpa ekspresi.
Sedetik Nada tidak menyangka Andra akan mengucapkan kata yang begitu indah, sejak kapan dia mengerti lukaku? Semoga saja ini bukan tipuan.
Nada segera membereskan kertas nasi bungkus yang masih ada beberapa makanan, perutnya masih lapar. Hanya saja mulutnya masih sulit untuk mengunyah makanan.
"Aku tidak mau pulang, Kau saja yang pulang. Zaskia ada susu formula kan? dia juga terbiasa seperti ini." ucap Nada.
Awalnya Zaskia tidak menyukai susu formula, entah mengapa belakangan ini mertuanya bisa sukses membujuknya meminum susu itu.
Akibatnya sekarang, dia mulai terbiasa dengan susu formula. Jarang makan, atau bahkan minum ASI. Hal ini cukup membuat emosi Nada kian melonjak.
Apakah Mertuanya itu tidak tau kondisi keuangan mereka? Sampai harus bersandiwara seperti ini. Dia mulai muak dengan isi rumah ini.
Semua harga sembako melonjak parah, apa lagi susu Zaskia. Dan sekarang dia harus melihat mertuanya malah menyarankan susu yang amat bagus dan yang tentunya cukup menguras kantong.
Nada terlihat sangat emosi, sepertinya sulit untuk Andra membujuk Nada. Sampai akhirnya dia yang memilih mengalah dan pulang ke rumah kembali.