Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Hilang Urat Malu



Setelah melewati jalanan yang cukup sepi, dan berhasil pulang menggunakan ojek. Andra segera masuk ke rumah.


Melihat mood Nada yang jelek, membuatnya memutuskan untuk pulang lebih cepat. Semakin lama dia berada di sana, semakin kacau pula moodnya.


"Kok baru pulang?" Tanya Laras.


Andra mengerutkan alisnya, bahkan seharusnya saat ini dia masih di rumah sakit. Malam ini Ibunya menunjukkan gelagat aneh yang membuat Andra curiga.


Dia menatap lekat Laras, mencari sisi kebohongan nya. Pasti ada yang tidak beres.


"Dimana Zaskia?" tanya Andra sambil menyusuri tiap sudut ruangan dengan mata tajamnya.


"Zaskia lagi di kamar ibu, masih tidur." jawab Laras. Dia segera melangkah menuju kamar Laras, mencari sosok gadis kecil yang amat dia rindukan.


Andra membuka pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara yang mengganggu putrinya, Dia melihat putrinya yang sedang tertidur lelap dan melangakah untuk duduk di sampingnya.


Andra sedikit terkejut karena merasakan suhu panas di kening putrinya, merasa tidak yakin, dia kembali mengecek suhu tubuh Zaskia dengan punggung tangannya.


padahal Andra baru saja meninggalkan Zaskia Tadi siang dengan kondisi baik-baik saja, tapi saat ini dia sudah tidak terurus seperti ini?


Andra sangat panik. Melihat kepanikan putranya, Laras segera meraih ponselnya. Akan tetapi segera dicegah oleh Andra, dia meraih tangan Laras kuat.


Andra tau, di saat seperti ini. Ibunya pasti akan mencari seribu alasan agar wanita itu datang.


"Jangan hubungi dia!'' pinta Andra tegas.


Laras tak mempedulikan omongan Andra, dia tetap meraih benda pipih di saku celananya dia menekan sederet nomor dan menggeser tombol hijau.


"Cukup Bu! Aku tidak mau seperti ini! Kasihan Nada," ucap Andra.


"Kasihan? Kamu aja nggak dikasihani kok! Kanapa harus kasihan sama dia." jawab Laras dengan memalingkan wajahnya.


"Tolong Bu jangan rusak rumah tanggaku lagi, apa Ibu tidak kasihan dengan Alif?" pinta Andra menatap lekat Laras.


"Emang kenapa Alif, dia sangat menyayangi Kinan," jelas Laras tidak mau kalah.


Melihat ibunya yang keras kepala membuat Andra jengah, Dia segera meraih Zaskia yang terlelap sambil membawanya pergi dari kamar tersebut.


Andra membawa Zaskia ke kamar dan merebahkannya di kasur, dia bingung harus melakukan apa karena dia memang tidak pernah mengurus Zaskia sebelumnya.


Semua kerepotan di rumah dan Anaknya yang mengurus adalah Nada, tapi sekarang dia tidak bisa mengandalkan nya lagi. Dia berusaha berpikir keras hingga akhirnya mengingat sesuatu.


Dia mencari sebuah obat yang biasanya Nada pakai untuk menurunkan demam Zaskia, untungnya obat itu masih ada di tempatnya.


Andra segera membaca resep obat dan meminumkannya ke Zaskia, untung saja putrinya baik. Dia tidak rewel saat di beri obat.


Setelah selesai memberi obat, Andra segera melangkah ke dapur untuk membuat segelas susu hangat, agar suhu di badannya lekas turun.


Saat ini Zaskia sudah tertidur kembali setelah minum segelas susu. Melihat putrinya yang sudah tertidur pulas, dia merebahkan tubuhnya ke kasur dia menatap langit kamar dengan tatapan kosong.


Haruskah rumah tangganya berakhir dalam waktu dekat? Apakah tidak ada sedikit maaf dan kesempatan untuknya lagi dari Nada?


Atau setidaknya dia bisa lepas dari Kinan, dia sudah muak dengan keberadaanya yang membuat rumah tangganya semakin keruh.


Andra mengucek matanya dan melihat jam yang menggantung di dinding. Di sana menunjukkan waktu jam 03.00 pagi, dia tak menyangka karena letih tidurnya sudah seperti orang mati.


Karena panik dia segera mencari putrinya yang beberapa waktu lalu demam, terdengar hembusan nafas lega ketika Andra menemukan Zaskia masih terlelap di sampingnya.


Andra mengecek suhu badan putrinya kembali, senyum cerah terukir di wajah Andra. Panasnya mulai menurun, dengan lembut Andra mengecup kening Zaskia.


"Maafkan Ayah ya Nak, gara-gara Ayah, Semuanya jadi rumit." ucap Andra lirih.


Mendengar ketukan yang semakin keras membuat Andra terganggu, dia khawatir kalau Zaskia terbangun.


Dengan malas Andra beranjak dan melangkah menuju pintu. Perlahan dia membuka pintu, matanya semakin terbelalak ketika melihat seseorang yang ada di hadapannya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Andra ketus.


"Aku dipanggil ibu, untuk membantumu mengurus Zaski," jawab Kinan tersenyum ramah.


"Apa? Jam segini kamu repot-repot datang kemari, hanya untuk mengurus Zaskia. Apakah kau sudah tidak mempunyai urat malu lagi?" ujar Andra menghela nafas kasar.


Dia mulai jengah dengan perilaku Kinan yang semakin hari, semakin melonjak. Membuat dirinya mulai hilang respect untuknya.


"Kamu Kok gitu sih ndra?" tanya Laras melerai putranya dan gadis pilihannya.


"Ibu yang kenapa? Kenapa Ibu sampai melakukan hal seperti ini. Ibu nggak kasihan sama Nada?" Andra berkacak pinggang.


"Dan kamu! Apa kamu tidak tahu malu, berulang kali datang kesini sudah seperti rumah sendiri. Padahal ibuku pernah merendahkankan mu?" tanya Andra menunjuk Kinan.


"Apakah kau tidak bisa menerimaku lagi?" tanya Kinan memasang wajah melas.


"Apa!" ucap Andra, dengan suara tinggi.


"Sejak kapan aku menerimamu? Sejak kapan Aku bilang kalau aku menjalin hubungan serius padamu! Kapan!" ucap Andra sudah tak mampu menahan amarahnya.


Saat ini rumah tangganya sudah di ujung tanduk, di tambah kedua buah hatinya yang ikut terkena imbas.


"Tapi kau berjanji akan menjamin masa depanku kan?" ucap Kinan tak mau kalah.


"Apa kurang semua pengorbananku untukmu? Sebuah warung untuk usaha, kehidupan yang mewah, dan itu berjalan sampai detik ini." ucap Andra membalikkan tubuhnya, dan melotot ke arah Kinan.


mendengar hal tersebut Laras membelalakkan matanya, dia tidak menyangka di ekonomi yang sesulit ini Andra bisa memilah uang sampai sebanyak itu. Hanya untuk seorang seperti Kinan.


"Maksud kamu apa Ndra?" ucap Laras menatap lekat Andra.


mungkin sudah saatnya rahasia ini diungkap. Karena semakin hari ibunya semakin gila harta dan tak bisa tertolong, dan yang terparah. Dia menghalalkan segala cara.


Andra bersandar di pintu. Dia menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan mencoba untuk memberikan ketegaran kepada Laras.


"Papa memperkosa Kinan, oleh sebab itu aku menjalankan bisnis ini untuk bertanggung jawab pada Kinan." ucap Andra melebarkan matanya ke Laras.


"Apa!"