Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Aku Bisa Tanpa Kalian



Satria dan beberapa suster lainnya sedang memeriksa kondisi Alif, mereka mencatat di sebuah lembar putih. Setelah selesai. Perawat pergi dari ruangan, hanya tertinggal Satria dan Nada di dalam.


Satria menatap Nada sedih, dia tidak menyangka nasipnya akan seburuk ini. Meskipun dia tak pernah bertemu dengannya selama ini.


Tapi, dia cukup banyak mendengar dari mulut-mulut rumah sakit. Hampir setiap hari, tema rumah tangga Nada tak luput dari bahan gosip.


Banyak teman perawat yang menyayangkan hal ini, Nada merupakan perawat berbakat. Harusnya dia bisa menitih karir dan merawat keluarga kecilnya.


"Sudah makan belum?" tanya Satria.


"Sudah Dok," jawab Nada singkat, tatapan matanya masih menatap Alif yang tertidur pulas.


"Bila dia bisa melewati 4 hari dengan baik-baik saja. Pasti keadaanya akan membaik, Pendarahan di kepalanya juga tidak keluar." ucap Satria


"Terimakasih Dok, Dokter Satria sudah berjuang keras demi putra saya?" ucap Nada dengan mata berkaca.


Jemari lembut Dokter Satria menghapus tetesan air mata yang menetes di ujung mata Nada, dia tak tega melihat wanita di hadapannya begitu hancur saat ini.


Melihat Satria yang memberikan perhatian lebih, Nada segera menepis tangannya. Dia sudah melupakan masa lalunya dan lebih fokus dengan kesembuhan buah hatinya


"Maaf Dok," ucap Nada melempar pandangan.


"Maafkan aku, harusnya aku datang lebih awal." ucap Satria menundukkan pandangan.


"Mungkin Allah tidak mentakdirkan kita untuk bersama, aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku. Aku harap Dokter juga bisa mendapatkan keluarga kecil yang bahagia," ucap Nada tersenyum kecil.


Satria menatap lekat Nada, wajahnya dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah di membaca pikiran wanita di hadapannya.


"Jangan berpura-pura lagi, aku muak melihatnya. Karena kau tidak berbakat dalam bidang ini." ucap Satria mengacak rambut Nada.


Nada kembali tersenyum, dia mendongakkan kepalanya menatap Satria yang sedang lekat menatapnya.


"Terimakasih atas semua perhatiannya, tolong tinggalkan aku sendiri." ucap Nada lirih.


Saat ini otaknya tidak mau memikirkan masa lalu, meskipun di dalam hatinya juga merasakan hal yang sama dengan Satria.


Dia memang bukan aktor yang handal, Nada hanya ingin memberikan hal yang terbaik bagi anaknya. Karena semua anak kecil itu tulus, jahat. Kalau dirinya mementingkan egonya.


Bila di suruh memilih, dari awal Nada pasti akan memilih untuk pergi dari kehidupan Andra. Tapi takdir mempertemukannya kepada Alif, bayi usia 3 bulan yang harus menderita karena kekurangan kasih sayang.


Saat itulah, Nada bertekad untuk merawat Alif


Di tambah ada Andra yang single Dady dengan segala pesonanya.


Bukan dari segi materi, Andra datang dengan segala kelemahan dan hatinya yang begitu tulus mencintai Nada.


Flashback ...


Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang dari bangsal anak. Bahkan sampai terdengar dari bangsal ibu melahirkan, beberapa orang di buat tak nyaman karenanya.


Nada yang tak tahan mendengar seorang bayi yang begitu tersiksa, membuat dirinya mencari asal suara tangisan bayi tersebut.


Nada keluar dan melangkah menuju bangsal anak, dia melewati beberapa kamar. Dan melihat satu pria yang sedang mencoba menenangkan bayinya.


Nada melangkah mendekati pria tersebut, dia menyapu sekitarnya dengan pandangan tajam. Di kamar hanya terdapat 2 pasien, harusnya paling tidak ada seorang yang membantunya.


"Bayinya kenapa Pak?" tanya Nada lembut.


Pria tersebut mendongakkan pandangannya ke arah Nada, sehingga tatap mereka saling bertemu. Keduanya terdiam sesaat, mencoba mengingat memory yang tersimpan.


"Suster Qai ..." Andra mengingat nama yang selalu di ingatnya.


"Nada, panggil saya suster Nada." kata Nada melempar senyuman.


Melihat keringat Andra yang bercucuran di keningnya, seolah memberi tahu Nada sudah berapa lama dia menggendong serta diliputi rasa khawatir.


"Bisa berikan ke saya Pak?" tanya Nada.


"Silahkan Sus," ucap Andra menyodorkan bayinya ke Nada.


Melihat bayi yang begitu lucu dan tampan membuat Nada gemas dan segera menggendongnya keluar kamar, hanya butuh beberapa menit dia mampu menenangkan bayi tersebut.


Mulai saat itulah terjalin kedekatan Alif dan Nada, meskipun mereka tidak ada hubungan darah. Tapi mereka membutuhkan satu sama lain.


"Yaudah, jangan lupa istirahat dan makan. Aku pamit." ucap Satria melangkah pergi.


Nada tak bergeming, matanya terus menatap Alif dengan tatapan kosong. Hari mulai sore, ucapan Satria mengingatkan akan dirinya yang belum mengisi perut sejak tadi pagi.


Jangankan isi perut, sampai disini dalam keadaan sehat saja sudah sangat bersyukur. Bahkan meriang yang dia alami mendadak menghilang entah kemana.


Terdengar langkah kaki yang masuk ke ruangan, Mada mengabaikannya. Toh dokter dan suster juga sudah keluar, di dengar dari hentakannya. Dia sudah tau siapa yang akan datang.


"Ibu mau pergi dulu, jagain tuh! Makanya jangan bawel, biarin Andra sama Kinan bersatu. Orang mereka cocok kok," ucap Laras melangkah meraih tasnya.


Laras membuang muka di hadapan Nada, dia melangkah begitu saja keluar kamar. Tak selang berapa lama Kinan masuk.


Wajahnya tampak begitu sedih, sepertinya dia sudah menyesal. Meskipun begitu, itu semua tak merubah apapun yang terjadi.


"Semoga Alif segera sadar," ucap Kinan lirih.


Tak ada jawaban dari Nada, dirinya masih enggan untuk meladeninya.


"Aku tidak mengapa ini semua bisa terjadi, aku ..." ucap Kinan terputus.


"Pergi! Mungkin dengan begitu semuanya akan lebih baik." ucap Nada.


Laras yang mencuri dengar di balik tembok segera melangkah masuk. matanya memancarkan amarah yang begitu besar.


Dia menunjuk Nada dan meluapkan semua emosinya, akan sangat sulit bila Kinan nantinya akan menjauh dari kehidupan Andra.


Bagaimanapun, selama ini dialah yang mencukupi kebutuhan Andra. Terutama sifat boros Laras, yang Nada tidak ketahui.


"Atas dasar apa kamu mengusir Kinan, yang harusnya pergi dari hidup Andra itu kamu loh." ucap Laras dengan mata melotot.


Nada bangkit dari duduknya dan menatap Kinan dan Laras secara bergantian. Dia mulai muak dengan adegan ini.


"Pergi! Aku sama sekali tidak membutuhkan kehadiranmu. Bahkan Kamu!" ucap Nada menatap Kinan kemudian bergantian Laras.


"Tanpa kalian aku bisa hidup, bahkan lebih baik!" ucap Nada lagi.


"Andra? Ambil! Aku tidak butuh." kata Nada dengan amarah yang meletup-letup.


"Kau!" ucap Laras mengacungkan telunjuk ke hadapan Nada.


Kinan segera menyeret Laras untuk pergi dari kamar, akan sangat lebih memalukan lagi bila terus berada disini dan cari ribut.


Kondisi Nada saat ini tidak baik-baik saja, mengancamnya sama saja dengan cari ribut yang berkepanjangan.


"Bu, aku ingin mengobrol dengan Nada. Tolong ibu jangan ikut campur dulu!'' pinta Kinan dengan lembut.


Dengan menahan amarahnya Laras melangkah keluar kembali, sementara itu Kinan berdiri di hadapan Nada dengan tatapan tenang.


"Sebenarnya aku ...."