Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Ibu Tega



Mungkin ini yang di sebut kekuatan seorang ibu, dia bisa tersenyum riang disaat hatinya hancur remuk.


"Sama Bunda aja ya, kita pulang sendiri," ucap Alif merengek.


"Ok, kalau gitu salim sama ayah dulu! Ayah langsung pergi kerja, buat beli sepatu," ucap Nada tersenyum.


"Tadi kan udah di kasih sama tante Kinan?"ucap Alif bingung.


"Itu kan dari tante kinan, Bunda juga pengen dong beliin sepatu buat anak Bunda tersayang ini," ucap Nada mengelus pucuk kepala Alif


Mendengar ucapan Nada Alif segera melempar pandangan ke Andra dan melangkah mendekatinya.


"Sepatu dari tante Kinan di kembalikan aja Yah. Aku nunggu sepatu dari bunda aja, biar di pakai sama anak-anak panti asuhan,"ucap Alif sambil memamerkan gigi putih yang sebagian telah menghitam karena kebanyakan makan permen.


Mendengar itu Andra terbelalak, dia tak menyangka putranya akan mengatakan hal yang demikian,


"Kamu yakin? Kan sepatumu sudah rusak?" tanya Andra lebih meyakinkan putranya,


"Pasti lebih bagus yang di belikan bunda," ucap Alif penuh keyakinan.


Nada memeluk erat alif dengan air mata yang menetes, bahkan putra yang bukan lahir dari rahimnya saja mengetahui bagaimana cara membuat perasaanya senang.


Melihat kedekatan Nada dan putranya membuat Andra tak ingin merusak momen mereka, mungkin saat ini memang Nada sedang butuh kedua anaknya dibandingkan dia.


Andra memutuskan untuk pergi setelah berpamitan dengan kedua anaknya. Dia melangkah menuju parkiran motor kemudian melaju menuju panti asuhan, dimana ibu dan Kinan menunggunya.


Andra telah sampai di panti asuhan, tampak Kinan dan ibunya berdiri di depan pintu gerbang, melihat kedatangan Andra seoang diri membuat keduanya saling bertatap.


Dada laras mulai kempas kempis menahan amarah yang akan mledak saat ini juga.


"Mana Alif?" tanya Laras dengan nada tinggi.


"Alif sama Nada di taman kota, mereka akan kembali nanti sore." ucap Andra tapa ekpresi,


"Dasar mantu kurang ajar banget! Di suruh kesini malah enak-enakan di taman"ucap laras dengan emosi meledak.


"Bukan Nada yang salah," ucap Andra menatap Laras.


"Maksud ibu apa, ngasih sepatu ini ke Alif?'' tanya Andra mentap tajam Kinan.


"Itu dari Kinan lah, katanya Alif butuh sepatu?" jawab Laras enteng.


"Maaf, tapi Alif masih memiliki orang tua yang utuh, bukan yatim piatu." ucap Andra menyodorkan tas pelastik ke arah kinan.


"Maksudku bukan seperi itu, Mas," ucap Kinan menatap Andra.


"Jadi maksudmu ikut menghancurkan rumah tanggaku, sama seperti misi ibuku?" sindir Andra dengan suara yang melengking.


"Maksud kamu apa nuduh Kinan seperti itu, hah?" ucap Laras tak terima.


"Lalu saat ini ibu mau mengulang kesalahan yang sama? Menghancurkan keluargaku disaat aku sudah memiliki kebahagiaan yang utuh?'' jelas Andra menatap lekat Laras,


"Mas, aku nggak serendah itu ya!'' ucap Kinan yang tersulut emosi.


"Bagus kalau kamu nggak serendah itu. Jadi jangan dekat-dekat dengan ibuku lag!?" Andra. melajukan motornya meninggalkan keduanya,


Otak Andra sedang kacau saat ini, dia tak menyangka ibunya bisa sekejam itu dengan Nada. Bisa menemukan wanita setulus Nada merupakan anugrah terindah bagi Andra, dan dengan mudahnya Laras mau menghancurkannya begitu saja.


Di sisi lain, tepat di taman kota, Nada sedang duduk di kursi yang tak jauh dari anak-anaknya bermain. Dia melihat beberapa pedagang asongan yang belalu lalang di sekitarnya. Ada penjual mainan anak-anak,


Anehnya anak-anaknya tidak menaruh perhatian dengan semua mainan, mereka masih asik dengan mainan rumah balonnya.


Nada terpanah dengan penjual keripik singkong yang membuka stand di bawah pepohonan, begitu banyak pembeli yang mengantri disana.


Melihat hal itu Nada menjadi penasaran dan ingin mencobanya, dia ikut mengantri di barisan pembeli, hingga akhirnya nada sampai di depan sang penjual


Ternyata di hadapannya bukan hanya keripik singkong, banyak keripik sayur mayur disana, mulai dari pepaya, terong, oyong dan talas,


Tak hanya itu, di sebelahnya juga ada kripik buah kering seperti nangka, salak, apel dan masih banyak lagi. Mata nada tertuju pada sebuah kripik yang ada di hadapannya, kripik pare.


Nada mengulurkan uang 10rb, dia mendapatkan sebungkus pelastik kripik Pare, dengan bumbu yang di taburkan ke dalam


Nada segera melangkah menunju anak-anaknya. Alif sudah celingukan mencari keberadaannya, Nada segera melagkah mendekati putranya yang kebingungan itu,


Melihat ibunya datang membuat Alif sedikit tenang.


"Bunda dari mana?" tanya Alif dengan mata berkaca.


Mungkin dia takut kalau dirinya dan adiknya di tinggal di sini.


"Kok nangis sih?" tanya Nada tersenyum ramah.


"Nih bunda bawa cemilan," ucap Nada menyodorkan sebungkus kripik pare dengan bumbu keju di atasnya, dia tak berani memberi bumbu pedas karena kedua anaknya tidak suka pedas


Alif keluar karena bermain di susul Zaskia yang merangkak mengikuti langkah kakaknya, mereka duduk di bawah pohon yang rindang sambil menikmati keripik tersebut


Awalnya, Nada sangat ragu saat dirinya mencobanya, tapi saat dia menggigitnya ternyata rasa pahit pada pare tidak terasa sama sekali.


Alif dan Zaskia bahkan sangat menyukainya, kebetulan di kebun belakang rumahnya dia menanam sebuah pare dan akan segera panen. Meskipun tak seberapa tapi cukup untuk mencoba resep ini.


"Wah enak bunda, yuk beli lagi!" pinta Alif. Sayangnya dia tak membawa uang lebih sehingga Nada memutuskan untuk segera pulang.


Jam yang melingkar di tangannya juga menunjukkan pukul 1 siang, sudah saatnya tidur bagi Zaskia dan Alif. Dengan berat hati mereka memutuskan untuk pergi dari taman.


BERSAMBUNG.....