Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Kau Marah Padaku?



Nada duduk di kamarnya, terlihat tetesan air yang mengalir di rambutnya. Dia melihat pantulan wajah sendu nya di cermin, dirinya tampak berantakan malam ini.


Perlahan dia membelai wajahnya yang mulai tak terawat, banyak jerawat serta kusam. Pipi yang semula tembem, kini menjadi lebih mengembang lagi. Jangankan pipi, tubuhnya pun lebih bulat dari pada sebelumnya.


Belakangan ini dia sampai lupa merawat diri, karena fokus dengan keluarga kecilnya. Ternyata selama ini perjuangannya hanya sia-sia, dia berjanji pada dirinya sendiri, kalau akan mengesampingkan urusan keluarganya lagi.


Pintu kamar Nada terbuka, Andra masuk dengan wajah sulit di artikan. Dia segera merebahkan tubuhnya di kasur bersama dengan Zaskia, kelihatannya dia cukup lelah.


Tak ada suara ibu mertuanya, kemungkinan besar saat ini dia ada di rumah sakit. Nada segera menaruh beberapa baju ganti dan keperluan selama di rumah sakit.


Setelah semua selesai, Nada berganti pakaian. Sepasang tangan memeluk pinggangnya dan berbisik lembut di telinganya.


"Maafkan aku, aku akan menceritakan semuanya. Aku benar-benar tidak ada perasaan apapun pada Kinan," ucap Andra sambil mempererat pelukannya.


"Di dalam sebuah hubungan suami-istri, bukankah memang harus terbuka? Kenapa baru sekarang?" ucap Nada lirih.


Tak ada air mata yang turun kembali, hatinya yang perih sudah tak mampu mengeluarkan air mata lagi.


"Aku bertanggung jawab pada Kinan, atas apa yang di lakukan oleh Ayahku. Dan karena hal itu juga dia kehilangan Ayahnya." ucap Andra serius, dan perlahan memutar tubuh Nada.


"Pertanggung jawaban apa yang harus kamu lakukan?" tanya Nada, dengan wajah datar.


"Selalu mendukung dan menjaganya, agar dia tidak menemui kesulitan." ucap Andra singkat.


Terukir senyum kecut di paras cantik Nada, pertanggung jawaban seperti apa itu? Kenapa Andra tidak menikahinya saja.


Sungguh alasan yang tidak masuk akal, bukankah masih ada banyak cara untuk memfasilitasi Kinan. Menjaganya bukan berarti harus bersamanya 24 jam bukan?


Apa bedanya teman dan suami? Bahkan Nada selama ini hanya menjadi teman tidur bagi Andra, sedangkan wanita lain memilliki semua perhatiannya.


Di saat ekonomi yang sangat surut seperti ini, bisa-bisanya Andra masih memperdulikan orang lain.


"Harusnya aku sangat bersyukur memiliki suami sangat baik, tapi maaf. Aku tidak bisa berjuang lebih lama lagi," ucap Nada melepas pelukan Andra.


"Aku mau ke rumah sakit," ucap Nada melangkah mendekati Zaskia.


Andra menghadang langkah Nada untuk meraih Zaskia yang masih tertidur pulas, dia tau istrinya sangat kecewa padanya. Tapi bukan berarti dia bisa membawa putri kecilnya, bagaimanapun rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk balita.


"Minggir," ucap Nada tegas.


"Apa! kau bawa Zaskia ke rumah sakit. Menurutmu ini hal yang benar?" ucap Andra menatap Nada.


Jauh di dalam hatinya, Nada tak ingin membawa pergi Zaskia. Akan tetapi, dirinya lebih tidak tenang saat putri kecilnya di rumah.


Bahkan kejadian terakhir, Alif sampai masuk rumah sakit karena kelalaiannya.


"Aku tidak mau kejadian Alif terulang," ucap Nada mendorong Andra.


Nada tetap bersih keras meraih Zaskia yang masih tertidur, yang ada di pikiran Nada hanyalah berusaha melindungi hal yang terpenting dalam hidupnya.


Andra mencengkram tangan Nada dan menariknya, dia berusaha untuk menyadarkan ego istrinya.


"Aku tau kau marah padaku karena Kinan, bukankah aku sudah menceritakan semuanya?" ucap Andra


Mata Nada kembali memanas, dia menatap lekat manik mata Andra. Di sana terlihat jelas bagaiman amarahnya saat ini.


"Aku tau kau sangat sedih memikirkan kondisi Alif, meskipun maafku tidak bisa merubah segalanya. Aku berjanji akan menjaga Zaskia untukmu." ucap Andra.


Nada memalingkan pandangannya, dia meraih tas yang sudah dia siapkan. Andra hanya menatap punggung Nada yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu.


Andra merebahkan tubuh lelahnya di samping Zaskia, perlahan dia membelai rambut tipis halus milik putri tercintanya.


"Do'akan kakak baik-baik saja," ucap Andra lirih.


****


Nada sampai di rumah sakit, dia segera melangkah menuju kamar di mana Alif di rawat. Langkah Nada terhenti saat melihat Laras dan Kinan duduk di kursi.


Sejujurnya amarah Nada belum surut, tapi apa boleh buat. Dia belum melihat kondisi putranya setelah di oprasi, Batinnya masih belum kuat untuk menyaksikan penderitaan Alif.


Perlahan Nada melangkah mendekati kamar Alif, seperti biasa. Laras tidak menyambut hangat kedatangan Nada, dia seolah tak menutup mata.


Nada sudah terbiasa dengan tingkah ibu mertuanya itu, sedangkan Kinan. Hanya duduk dengan menundukkan pandangannya, entah apa yang dia pikirkan. Akan lebih baik jika dia sudah mengerti kesalahannya.


Nada membuka pintu perlahan, telinganya sudah di sambut dengan dentingan bunyi alat pendeteksi jantung. Suara itu mengerikan, bagaikan mengundang malaikat maut untuk segera datang.


Di kepala Alif terdapat selang yang mengeluarkan cairan merah, terdapat beberapa lilitan kain kasa yang sangat tebal membalut kepala Alif.


Luka goresan terukir di wajah Alif, di tangannya terpasang selang infus Dan di telunjuknya di jepit sebuah alat.


Mata Alif masih terpejam, dia tidak pernah setenang ini. Walaupun itu saat tidur, sakit? Hati Nada sangar perih melihat ini semua.


Tanpa terasa, air matanya mengalir deras. Tiba-tiba kakinya sangat berat untuk melangkah mendekati Alif. Butuh perjuangan keras untuk dia sampai dan duduk di kursi.


"Bunda datang Nak, kamu nggak pengen bangun?" tanya Nada sambil menahan isaknya.


"Maaf ya, Bunda baru nengok kamu. Tadi Dek Zaskia harus pulang dulu." ucap Nada lagi.


Meskipun tak akan ada jawaban dari Alif, tapi Nada tetap yakin kalau dia bisa mendengar tiap ucapan Bundanya.


Terdengar pintu yang terbuka, terdengar langkah dari beberapa orang yang masuk ke ruangan rawat Alif.


"Bagaimana kabarnya Nad?" tanya Satria.


"Baik Dok," jawab Nada.


Satria hanya tersenyum simpul melihat jawaban Nada. Bahkan jawabannya berbaring kebalik dengan apa yang dia lihat. Wajah kucel, mata bengkak di tambah dandanan yang ala kadarnya. Itu jangan jauh di katakan "Baik.''


Satria memeriksa cairan merah yang keluar dari selang yang terpasang di kepala Alif,