Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Meminta Cerai



Andra melangkah menuju taman rumah sakit. Di sana ada beberapa ibu-ibu yang juga sedang menggendong anaknya masing-masing.


Dia memilih berbelok jalan, dia tak mau bergabung dengan mereka dan menjadi orang tertampan di kumpulan tersebut.


Andra melangkah menjauh, terdapat papan yang bertuliskan spesialis dokter tertentu di setiap jalanan rumah sakit yang bercabang.


Zaskia terlihat ceria berulang kali terdengar celotehan dari mulut kecilnya, mungkin ini yang di maksud orang Jawa.


Katanya setelah anak kecil sakit atau panas, setelah sembuh mereka akan bertambah kemampuan. Dulunya dia tak mempercayainya. Akan tetapi, setelah melihat Zaskia. Ternyata hal itu bukan mitos belaka.


Andra menyusuri jalanan rumah sakit, di kanan-kiri nya terdapat banyak pasien yang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh keluarganya.


Mungkin karena ini adalah rumah sakit besar, jadi banyak sekali pasien yang berobat disini.


Setelah melewati jalanan ramai orang berlalu lalang, Andra melihat sekelebat seseorang yang amat dia kenal. Dia tidak mungkin melupakan punggung yang sangat familiar baginya.


Andra segera mengejar kemana punggung itu berjalan menjauhinya, dia segera melepas kantung infus yang menggantung di sebuah tiang yang dia bawa olenya.


Akan sangat sulit baginya mengejar orang tersebut di tengah keramaian orang berlalu lalang. Mata Andra segera menatap plakat berbentuk panah yang bertuliskan nama dokter spesialis.


"Dokter Satria, spesialis bedah." Andra membaca dengan lirih plakat yang tergantung di atasnya.


"Buat apa dia kemari? memang dia sakit apa hingga harus di operasi?" ucap Andra bermonolog.


Ingin sekali Andra melanjutkan langkahnya untuk mengejar. Akan tetapi, Zaskia mulai rewel dan tidak bisa di ajak kerjasama.


Dengan berat hati Andra segera membawa Zaskia kembali ke kamarnya. Tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita.


"Oh, maaf Mas. Nggak sengaja," ucap Wanita tersebut kemudian melempar pandangan ke arah Andra.


"Kamu?" ucap Andra membelalakkan matanya.


"Aku bisa jelaskan, aku tidak mengikuti mu serius," ucap Kinan mengangkat jemarinya membentuk huruf V.


Andra mulai jengah, dia melewati Kinan begitu saja. Sebelumnya dia sudah mengatakan kalau tidak akan bertemu ataupun bertegur sapa dengannya.


Rumah tangganya sudah terlalu hancur gara-gara dia, Dan Andra juga tidak mau mengambil resiko untuk kehilangan Nada


Padahal, kenyataan yang tanpa dia sadari. Nada telah hilang dan pergi, yang berada di sisinya saat ini hanyalah raga dan jiwanya. Hatinya untuk suaminya tercinta sudah pergi jauh.


"Mas ..." panggil Kinan.


"Aku janji, akan pergi menjauhi mu. Tapi aku ingin bertanya satu hal, tolong jawablah dengan jujur." ucap Kinan tanpa berbalik.


"Apa?" tanya Andra yang masih membelakangi Kinan.


"Apakah kau pernah memiliki rasa untukku, walaupun itu hanya seujung kuku?" tanya Kinan menahan matanya yang mulai memanas.


Andra terdiam sesaat, Zaskia terus mengoceh seolah menunjukkan kalau dia juga ingin ikut mengobrol bersama kedua orang tua ini.


"Ada, aku kira dulu hal itu adalah cinta. Tapi setelah bertemu Nada, aku baru sadar. Kalau rasa ini hanyalah sebatas rasa sayang antara kakak beradik dan tak lebih dari itu," ucap Andra tegas.


"Kau yakin? bukan karena Ayahmu sudah tidur denganku dan kau membenciku?" tanya Kinan kembali.


"Kalaupun aku jijik denganmu, bahkan sampai detik ini aku tidak akan di sampingmu ataupun mendukung segala usahamu." jawab Andra singkat dan melanjutkan langkahnya menuju kamar Zaskia.


"Aku mencintaimu, sampai kapanpun. Meskipun rasaku tak terbalas. Mas perlu ingat, aku akan selalu menerimamu dengan kedua tangan terbuka," ucap Kinan.


Andra tidak mempedulikannya, meskipun telinganya mendengar semua yang Kinan utarakan. Mungkin kalau dirinya mau, dia sudah pasti akan memilih Kinan dan pergi bersamanya.


Mata Kinan memanas, dia hanya mampu melihat punggung Andra yang melangkah menjauh tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.


"Mas aku akan setia menunggumu sampai hembusan nafas terakhirku," ucap Kinan lirih.


Dering ponsel berdering keras, Kinan segera membuka tas dan meraih benda pipih tersebut. Terdapat satu nama dokter yang tertera di sana.


"Hallo dok," ucap Kinan setelah menggeser tombol hijau dan menaruhnya di pipinya.


"Baik Dok, saya akan segera ke ruang rawat," ucap Kinan kembali.


Kinan menggeser tombol merah dan menaruh kembali ponselnya di dalam tas, dengan menarik nafas panjang dia mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.


Entah hidupnya akan bertahan beberapa lama lagi, yang jelas dia sudah mengutarakan semua keganjalan yang ada di hatinya.


Tidak masalah baginya kalau dia di tolak mentah-mentah oleh pria tersebut, asalkan dia sudah tau kalau dirinya menyimpan rasa yang dalam untuknya.


Di ruang yang berbeda Nada dan Andra duduk di kursi, karena tubuhnya terlalu capek. Zaskia tertidur di gendongan Andra.


"Jadi bagaimana?" tanya Nada lirih.


"Apanya?" tanya Andra mulai kesal.


Dia tau apa yang akan di tanyakan oleh istrinya, hanya saja dia masih enggan untuk membahas masalah ini.


Andra masih mengingat bagaimana kedua orang tua Nada menolaknya saat itu, takut kalau anaknya tidak di perlakukan dengan baik dengan ibunya.


Rasa cinta Nada yang mengalahkan semua persepsi kedua orang tuanya, dan dengan sangat terpaksa. Akhirnya Nada dan Andra menikah.


Bukan tidak mungkin akan ada perceraian kalau sampai kedua orang tua Nada tau masalah rumah tangganya.


"Aku tidak rela anakku di bawa ke rumahmu!" ucap Andra dengan intonasi tinggi.


"Tapi kau rela anakmu masuk rumah sakit demi tindakan konyol ibumu?" sahut Nada tegas.


"Dia bukan hanya anakmu, tapi dia juga anakku. Kau hanya menyumbang sebagian spermamu saja kan! aku yang hamil bahkan bertaruh nyawa demi menjaga nyawanya!" ucap Nada tak kalah tinggi.


"Apa menurutmu spermaku gratis? dan sembarangan orang bisa mengambilnya," tanya Andra melebarkan matanya.


"Astaghfirullah, ini bukan masalah ******. Zaskia harus mendapatkan asuhan yang terbaik selama aku mengurus Alif. Bisakah kau serius sedikit?" tanya Nada memijat keningnya.


"Aku akan merawatnya," sahut Andra penuh keyakinan.


"Oke kau yang merawat mereka, aku yang ngojek gimana?" ucap Nada tak kalah sengit.


Andra terdiam sesaat, dia tidak tega bila harus Nada mengambil alih pekerjaannya. Di sisi lain dia juga tidak mau kehilangan anaknya.


Andra hanya menatap Nada yang melihatnya dengan tatapan tajam, seolah dia akan menerkamnya bulat-bulat.


"Kamu setuju atau tidak, besok aku akan pulang dan membawa Zaskia. Setelah Alif sembuh aku akan membawa dia kembali." ucap Nada tegas.


"Dan untuk surat cerai kita, aku yang akan mengurusnya," lanjut Nada dengan suara lirih.


"Cerai?" Andra beranjak dari kursinya.


"Ya, aku sudah lelah seperti ini" jawab Nada pasrah.