
Tak butuh waktu lama, dia telah sampa di rumah. Andra memarkirkan motornya dan masuk ke dalam rumah.
Matanya terbelalak saat melihat Nada sudah duduk di ruang tamu sambil memangku Zaskia. Dengan telaten dia menyuapi Zaskia dengan wajah masih berantakan.
"Kok keluar kamar, sini biar Mas yang nyuapin Zaskia," ucap Andra penuh perhatian.
Tak ada jawaban dari Nada, dia pasrah saja saat Andra mengambil Zaskia dari pangkuannya. Toh dia kan anaknya juga, jadi tak ada salahnya bila Andra ikut merawatnya.
Belum sampai 5 menit Zaskia di gendongan Andra, Laras datang dengan wajah sumringah.
"Lo nggak kerja Ndra?" tanya Laras.
"Nggak Bu, capek. hari ini libur dulu." ucap Andra.
"Yaudah kamu istirahat, Zaskia biar Ibu yang urus." ucap Laras merebut Zaskia dari gendongan Andra.
"Sini Ayah capek, seharian di atas motor. Cari uang demi kita semua. Zaskia jangan manja ya," lanjut Laras mengobrol dengan Zaskia. Padahal Zaskia tidak mengerti apa yang dia bicarakan.
Dada Nada terasa sesak, ingin sekali dia membanting mangkuk Zaskia yang ada di hadapannya saat ini juga. Bahkan Laras tak pernah menggendong Zaskia sebelumnya.
Hari-harinya hanya sibuk menonton tv dan sesekali duduk termenung sambil memperhatikan tetangga lewat, mencari bahan untuk acara ghibah nya.
Nada memijat keningnya, seketika kepalanya sangat pening. Dadanya terasa begitu nyeri. Andra yang mengetahui istrinya pucat segera menbantuya.
"Sarapan Yuk!" ucap Andra.
"Nggak Mas terimakasih, masih kenyang," ucap Nada sambil beranjak.
"Enak nggak nasi gorengnya," ucap Andra dengan wajah berbinar.
Kalau Nada sudah mau makan masakannya, kemungkinan besar dia sudah di maafkan. Dia segera membututi istrinya ke dalam kamar.
Belum sampai di kamar, ujung mata Andra sekilas melihat sepiring nasi goreng yang masih tergeletak di meja makan.
"Loh kok masih," ucap Andra lirih.
Dia membawa nasi goreng tersebut masuk ke kamar, tidak lupa dia membawa serta segelas air putih.
Tampak Nada yang duduk bersandar di tembok, jemari lentiknya masih terus memijat pangkal hidungnya. Matanya terpejam dan menundukkan wajah.
"Nasi gorengnya masih, kamu sarapan sama apa?" tanya Andra.
"Aku udah kenyang makan hati disini, rasanya seperti sambal goreng. Pedas." ucap Nada, masih dalam posisi yang sama.
Seakan tau maksud Nada Andra menaruh sepiring nasi goreng dan segelas air putih di sampingnya, dia mendekati Nada dan memeluknya erat.
Nada segera mendorong tubuh Andra, dia masih tak bisa menerima. Tubuh yang selama ini dia miliki telah terjamah bebas oleh wanita lain.
"Maaf Nad, tapi anggapan mu itu salah. Aku nggak ngapa-ngapain sama Kinan," ucap Andra.
Nada membuka matanya yang terpejam, dia menatap lekat suaminya. Meski matanya sedikit perih dia mencoba untuk menatap paras tampan yang selama ini menemaninya.
"Kalau Faisal mengundang reuni, dan aku di jemput sama dia. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nada.
Andra terdiam sesaat, mendengar nama itu. Dirinya teringat akan satu ucapan lelaki tersebut, sempat Andra dan dia berkelahi karena satu ucapannya.
"Kenapa kamu bahas dia, masih banyak kan temanmu?" ucap Andra.
"Sama, kenapa harus Kinan? Toh kau juga bisa melempar orderan Kinan ke teman ojekmu kan?" tanya Nada dengan wajah datar.
"Aku sudah berusaha semampuku, menutup telinga dan mata. Tapi, semakin aku tutup semakin keras pula suara tersebut," ucap Nada tersenyum kecut.
"Hubungan kita hanya menantikan kehancurannya saja, tak ada lagi yang bisa di pertahankan." ucap Nada, sambil mengelap tetesan air mata yang jatuh.
Andra kembali mendekat, Nada segera menggeser duduknya. Melihat Nada yang menolaknya membuat Andra memutuskan untuk beranjak dari kamarnya.
Percuma juga dia menjelaskan, sedangkan Nada masih di dalam mood yang tidak baik. Dia melangkah keluar rumah mencari ibunya, mungkin bermain dengan Zaskia bisa mengurangi penatnya.
Andra mencari di setiap sudut rumah, tapi dia tak menemukan Ibunya. Hingga akhirnya dia mendengar suara ibunya di tetangga sebelah.
Andra melangkahkan kakinya mendekat, langkahnya terhenti saat dia mendengarkan ibunya bergosip.
"Ya Allah, saya kasihan sekali degan Zaskia. Ibunya tidak pernah mengurusnya," ucap Laras mengelus pucuk kepala Zaskia.
"Loh kan setiap hari di rumah. Kelihatannya Nada nggak pernah main-main." ucap salah satu tetangga.
"Ya jelas lah, dia kan cuma rebahan sambil main hp. Nggak pernah mau masak dan beberes rumah, kalau bukan saya. Siapa lagi," ucap Laras.
"Astaghfirullah, padahal dia cantik dan ramah," Sahur seseorang.
"Buat apa cantik tapi nggak bisa masak dan ngurus rumah? Saya sampai kasihan sama anak saya Bu," ucap Laras.
"Kenapa Bu?"
"Sudah bekerja keras, pulang malam. Eh di sambut dengan omelan sama si Nada, setiap hari ngomel mulu. Sering baget anak saya di tuduh selingkuh, padahal apa ..." ucap Laras menggantung kalimatnya.
Para tetangga yang ikut berkumpul semakin menatap Laras dengan seksama, seolah sedang berkisah. Tanpa dia tau Andra sudah berdiri di belakangnya.
"Apa Bu?" ucap salah satu orang yang tidak sabar menunggu jawaban Laras.
"Padahal dia yang selingkuh, tiap malam telfon entah sama siapa, besoknya keluar pagi pulang sore," ucap Laras dengan mantap.
"Astaghfirullah ..." ucap para ibu-ibu serentak.
"Astaghfirullah ibu!" ucap Andra yang sudah tak tahan mendengar fitnah ibunya tersebut.
Tanpa basa-basi Andra segera meraih Zaskia dari gendongan Laras dan membawanya pergi. Langkahnya terhenti dan membalikkan badannya.
"Istighfar Bu, dosa. inget umur." ucap Andra yang menggelengkan kepala lirih dan melanjutkan langkahnya kembali.
Seakan tak puas dengan kisahnya tadi, Laras masih enggan beranjak. Terlebih para ibu-ibu terlihat percaya dengan apa yang di ucapkan Laras.
Mereka tidak tau seperti apa Nada, karena Nada sangat jarang keluar rumah. Jadi otomatis, mereka lebih percaya Laras dari pada Nada.
Laras malah duduk di emperan rumah tetangganya dan melanjutkan kisah palsunya.
"Ya kaya gitu Bu, dia terlalu manjain istrinya. Sayang banget sama anaknya, padahal entah? itu anaknya atau bukan," ucap Laras.
"Astaghfirullah, ibu. jangan gitu, nggak mungkin Nada seperti itu."
"Eh memang depannya aja baik alim, padahal suka main dukun."
"Astaghfirullah," ucap ibu-ibu serentak.
BERSAMBUNG....