
Berulang kali dia menghapus air mata dan mencoba menghentikannya. Dia tak mau kedua anaknya melihat dirinya serapuh ini. Terutama Alif. Dia sangat peka kepada semua perubahan Bundanya.
Dia mengesot ke dekat kedua anaknya yang tertidur pulas, lalu menciumi kening dan tangan kedua anaknya, berusaha mencari secerca kekuatan yang masih tersisa di dirinya.
"Terima kasih ya nak, meskipun kamu bukan putra kandung bunda tapi kau sangat baik," ucap Nada bermonolog sambil mengurus pucuk kepala Alif.
"Bunda janji akan selalu ada di sampingmu dan tak akan membiarkan seorangpun merenggut kebahagiaanmu," ucap Nada, sambil menahan Isak.
Tubuh Nada yang sudah terlalu lelah, jiwanya yang sangat terpuruk di tambah tangisannya yang membuat semua tenaganya terkuras habis.
Dia merebahkan tubuhnya di antara kedua anaknya dan tak lama akhirnya Nada terlelap di dalam tangisnya. Masih terdengar isaknya yang perlahan kian lirih. Kemudian lenyap.
Jam menunjukan pukul 17.00 sore, Nada terbangun dengan mata yang bengkak dan badan yang letih. Dia melempar pandangan ke jam dinding.
Waktu sudah sore, sedangkan dirinya baru bangun. Kalau dulu dia segera bangun dan meminta maaf kepada Ibu mertuanya, tidak saat ini.
Dia membangunkan anaknya satu persatu, setelah keduanya bangun dia segera menggendong mereka masuk ke kamar mandi.
Saat dia keluar kamar, tampak Laras yang sedang berdiri di dapur. Mungkin dia sudah lapar, tapi Nada tak segera bangun, sehingga dia memasak mie instan.
Nada tak mempedulikan itu semua, dirinya sudah sangat muak dengan semua ini. Dan dia sudah tidak bisa berperan menjadi peri baik hati lagi.
Dengan telaten Nada memandikan kedua Anaknya, sesekali terdengar suara ceria dari dalam kamar mandi. Hari ini mood Alif memang sangat baik, biasanya dia sangatlah pendiam. Tapi tidak saat ini, tawa renyahnya menggema di seluruh sudut rumah.
"Kalau mandi, mandi aja. Berisik banget sih," ucap Laras sewot.
Seketika Nada menaruh jari telunjuknya di bibir dan menatap kedua anaknya. Dia memberi isyarat kalau neneknya sedang marah dan saat ini mereka harus diam.
Setelah selesai mandi, Nada segera masuk kembali ke kamar dan mengurus kedua anaknya. Dan hal yang paling dia sukai adalah, menguncir rambut kriting punya Zaskia.
Tak butuh waktu lama Andra membuka pintu, wajahnya tampak sangat cemas dengan nafas yang ngos-ngosan. Sepertinya dia baru saja berlarian jauh.
Dia mengedarkan pandangan mencari sosok yang saat ini dia khawatir kan, tapi nihil. Yang dia temui hanya sang ibu yang merusak moodnya belakangan ini.
Andra masuk ke rumah dan melewati ibunya begitu saja, dia masih sangat emosi dengan Laras dan sikap egoisnya itu.
Andra membuka pintu kamar, tampak anak-anaknya yang sedang belajar di temani Nada di sampingnya. Andra melangakah masuk sambil mengucapkan salam, kedua anaknya berhamburan memeluk sang Ayah.
Andra mencium kening anaknya satu persatu, dia semakin senang ketika melihat Nada tampak lusuh. Bajunya masih sama yang di pakai tadi pagi, itu artinya dia belum membasuh tubuhnya.
Wajahnya tampak berantakan dengan bekas air mata yang mengering di bagian pipi bawah, mata juga sembab. sedang hidungnya tampak merah.
"Kamu kenapa?" tanya Andra.
"Bunda sakit yah, tadi habis makan es serut di taman. Tapi Alif sudah ngasih bunda obat," oceh Alih menceritakan semuanya.
Andra hanya menatap pilu istrinya, seperti biasanya dia hanya mampu menghibur istrinya tanpa bisa mewujudkan keinginannya.
"Makasih ya Alif," ucap Nada memamerkan senyum teduhnya.
Nada hanya mengangguk dan bangkit dari duduknya, dia meraih handuk yang tergantung di belakang pintu dan keluar kamar.
Tinggal Andra dan anak-anaknya di kamar, karena penasaran dia mencoba bertanya dengan anaknya.
"Bunda kenapa?" tanya Andra.
"Nggak tau yah, bangun tidur sudah seperti itu. Pasti gara-gara Oma," ucap Alif polos.
Ya begitulah, sekuat apapun Nada menutupi kesedihannya. Alif tetap tau kalau Bundanya bersedih, dan pemandangan ini sudah sering dia jumpai.
Setelah Neneknya mengomel, Bundanya selalu menangis di kesepian. Biasanya saat bundanya menemani tidurnya, Alif belum benar-benar tertidur. disitulah dia melihat bundanya sangat sedih.
"Yasudah, kita belajar lagi." ucap Andra.
Belum selesai belajar perut Alif keroncongan, sampai terdengar di telinga Andra. Hingga akhirnya mereka saling tatap.
"Alif belum makan?" tanya Andra.
"Belum yah, pulang dari taman kita langsung tidur. Terus baru aja bangun. Mandi trus belajar," ucap Alif sambil memainkan jarinya seperti menghitung aktifitasnya sejak tadi siang.
Andra hanya tersenyum kecil melihat tingkah putranya,
"Bunda juga belum makan?" tanya Andra.
"Sepertinya Belum Yah," ucap Alif polos.
"Yaudah, yuk kita masak," ajak Andra yang segera berganti pakaian.
Sejenak Alif menatap ragu ke arah Ayahnya, biasanya hanya bundanya yang memasak. Alif tidak yakin kalau Ayahnya bisa memasak masakan enak.
Menatap Alif yang menatapnya dengan tatapan aneh membuat perut Andra tergelitik. Kelihatannya bakatnya mulai di remehkan dengan putranya.
"Jadi kamu nggak percaya sama Ayah?" tanya Andra menaik turunkan alisnya.
Alih tetap menatap Ayahnya ragu, dia sedikit menganggukkan kepalanya lirih.
"Kita masak nasi goreng, di jamin lebih enak dari masakan bunda," ucap Andra penuh percaya diri.
Andra segera melangkah ke luar kamar, setelah berganti pakaian. Sedangkan Alif dengan ragu mengikuti langkah Ayahnya, di susul Zaskia yang merangkak di belakang Alif.
Mereka sudah sampai di dapur, dan selalu begini. Zaskia sudah mulai beraksi memporak-porandakan lemari piring, satu persatu panci dia keluarkan.
Sedangkan Alif dan Andra sibuk membagi tugas. Alif menyiangi bawang sedangkan Andra mengiris bawang yang sudah di siangi dan cabe.
Tidak lupa mereka memberi bahan pelengkap seperti sawi, karena Nada yang cukup kreatif. Mereka bisa mengambil sayuran segar di belakang rumah, seperti sawi dan daun bawang.
BERSAMBUNG....