Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Jalani Saja



Bagai petir di siang bolong, Andra terkejut dengan ucapan Nada. Bukankah semua sudah baik-baik saja, istrinya juga bersikap biasa saja kan? kenapa tiba-tiba harus cerai.


Andra tak sanggup menahan semua pertanyaan yang bersahutan di kepalanya, kenapa semua begitu mendadak baginya.


"Nad, bukankah kau sudah memaafkan ku?" tanya Andra menggenggam jemari Nada.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi tidak untuk bersamamu lagi mas," ucap Nada.


"Nggak, kamu pasti bohong kan? Kamu cuma menggertak ku saja kan?" Andra tertawa kecil sambil mengecup punggung tangan Nada.


"Semoga Mas bisa menemukan wanita yang lebih baik lagi, maaf Mas aku sudah tidak bisa di sisimu lagi. Ini semua terlalu sulit," ucap Nada dengan mata memanas.


Ucapan Nada bagaikan cambukan api yang menyerang hati Andra, perih dan panas. Dia tak mengira Nada akan benar-benar berubah.


"Ini semua pasti gara-gara dokternya Alif kan?" tanya Andra dengan nada datar.


Nada menggeleng kepalanya lirih, dia memamerkan senyum teduhnya dan menatap suaminya yang matanya mulai berkaca.


Sebenarnya dia tidak tega dengan Andra, tapi entah mengapa rasa lelah di otak dan tubuhnya lebih dominan. Dia juga tau suaminya sering membelanya di hadapan Laras.


Tapi itu tidak semudah yang di bayangkan, semakin Andra membelanya. Semakin keras juga Laras akan bertingkah untuk membuatnya pusing.


Semakin dia sabar dan kuat, maka semakin tinggi pula beban yang harus di pikul. Sayangnya Nada bukanlah seorang malaikat yang sempurna dan penuh dengan kesabaran.


Dirinya hanya manusia biasa yang dapat merasakan marah dan lelah, dia tidak dapat berpasrah dan membiarkan dirinya dengan mudah di injak-injak.


"Maaf mengngganggu," ucap salah satu perawat dan dokter.


Seorang wanita paruh baya dengan kerudung yang membingkai wajah cantiknya, di tambah stetoskop yang menggelantung di lehernya membuat dirinya tampak begitu elegant.


"Tadi saya kesini, Adek Zaskia nya nggak ada. Jadi saya periksa ulang ya," ucap Dokter menatap Nada dengan lembut.


Nada hanya mengangguk lirih, melihat Nada sudah setuju. Dokter sedikit membuka baju Zaskia dan menaruh stetoskop di bagian bawah dan atas perut. Dengan serius Dokter mendengar bunyi lewat alat tersebut.


Dokter tersebut tersenyum menatap Nada dan Andra bergantian,


"Tidak usah khawatir, putri Ibu dan Bapak sudah bisa pulang besok. Nanti sore akan ada pemeriksaan terakhir." ucap Dokter tersebut.


"Tidak ada keluhan Bu? masalah makan atau kadang sakit di bagian tubuh tertentu?" tanya dokter tersebut dengan ramah.


"Tidak Dok, semua normal saja. Makannya juga sudah lahap," jawab Nada sopan.


"Kalau begitu, nanti selang infus bisa di lepas biar nggak rewel ya" ucap Dokter tersebut.


Nada mengangguk lirih, matanya menatap seorang asisten yang sedang menulis di sebuah lembaran map yang dia bawa.


Dia teringat akan pekerjaannya dulu, dia selalu membuntuti Satria kemanapun dia masuk ruang pasien. Kerap kali dia terbentur punggung kokohnya karena kurang hati-hati.


"Saya kira sudah cukup, Bapak Ibu bisa istirahat lagi," ucap Dokter tersebut melangkah keluar ruangan di ikuti oleh Suter yang sibuk menulis.


Nada menatap lekat punggung dokter yang menghilang di balik pintu, sementara Andra terus menatap Istrinya yang masih terpaku dengan sang dokter.


"Apa dokter tersebut mengingatkanmu dengan Satria, atau bahkan Faisal?" tanya Andra ketus.


"Apa?" ucap Nada dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Kami ingin kembali dengan mereka kan? itu sebabnya kau membuang ku." ucap Andra sengit.


"Kalau aku seperti itu, aku sudah menunggumu sejak dulu," jawab Nada tak kalah ketus.


Emosi Nada sudah sampai ubun-ubun, kenapa semua lelaki meras kalau dirinya yang tersakiti. Padahal dia lah yang memulai semua pertengkaran.


Apa susahnya bilang "Ya" toh anaknya juga akan di rawat dengan baik. Apa dia tidak bisa berpikir lebih jernih dan mengesampingkan masalah masa lalunya.


"Aku mau ngojek dulu!" jawab Andra tanpa ekspresi, dia melangakahkan kaki keluar ruangan.


"Jangan pergi sebelum kau memberi keputusan yang pasti." ucap Nada tegas


"Apa menurutmu aku belum memberi keputusan?" tanya Andra membelalakkan mata menatap Nada.


"Keputusan mu belum deal!" ucap Nada menarik tangan kokoh Andra.


"Baik, Zaskia tidak boleh kemanapaun. Besok dia harus tetap disini, aku yang mengurusnya saat kau mengurus Alif." ucap Andra kemudian melangkah pergi melewati Nada begitu saja.


Nada mengacak rambutnya, matanya mulai memanas. Kenapa tidak sedikitpun suaminya tau perasaan yang dia rasakan?


Apa jadinya kalau sampai Zaskia terpapar penyakit yang tak terlihat, bukankah di rumah sakit begitu banyak virus dan bakteri.


Sedangkan di rumah? bahkan Laras tidak bisa menjaga satu anak kecil dengan baik. Biasakan seorang ibu tenang saat mendapati masalah demikian.


Tak lama kemudian, datang seorang suster yang sangat Nada kenal. Dia memutar bola matanya ke atas dan melempar pandangan ke luar jendela.


"Nangis teross," ucap Laras tersenyum kecut.


"Lagian napa sih, nongol mulu," ucap Nada kesal.


Entah mengapa temannya ini selalu datang saat dirinya menangis, sampai dia selalu menyebutnya gembeng alias tukang nangis.


Nada menarik nafas dalam dan menempel ke punggung Laras, baginya dia adalah seorang kakak yang selalu memberi petuah baik selain dari ibunya.


"Apaan sih lo, nempel aja. Gue masih kerja nih!" ucap Laras menggeliat.


"Pelit banget, sebentar doang," perotes Nada.


Laras menggelengkan kepalanya lirih, dia segera melepas selang infus yang terpasang di jemari mungil Zaskia.


Zaskia sedikit terjingkat saat jarum infus di tarik perlahan oleh Laras, setelah selesai dia memberinya plester agar darahnya tidak menetes terlalu banyak.


"Jadi gimana? Lo tetep mau pulang?" tanya Laras memutar tubuhnya.


Nada melepas pelukannya dan duduk di bed ayang kosong, dia menatap putrinya yang sedang tertidur lelap.


"Menurut lo gimana?" tanya Nada meminta pendapat.


"Lah, gue mah terserah lo. Kan yang tau kondisi rumah tangga cuma Lo," ucap Laras menatap Mada dengan memicing.


"Udah deh, jalanin aja. Kecuali kalau lo beneran udah yakin. Baru deh ngurus surat cerai sekalian," ucap Laras merapikan beberapa sampah plester.


Nada termenung, perkataan Laras bagai belati tajam yang menggores hatinya. Bahkan dia juga belum yakin atas perceraian ini.


Apa yang akan di katakan oleh Nada pada Alif bila saat Alif sadar? Apakah dia sanggup menerima perpisahan ini?


Lalu apakah 5 tahun belakangan ini tidak cukup berarti bagi Andra, sehingga dia tidak bisa memberi keputusan untuk mencari jalan tengah dari semua masalah ini.


Argh ...


Kepala Nada terasa di tusuk jarum saat ini, bisakah dia hidup tanpa dukungan dari Andra? bisakah dia hidup dengan gelar janda?