Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Bunuh Aku Nad



Andra segera mengemasi barang-barang yang akan dia bawa ke rumah sakit, seperti baju ganti Alif dan Nada. Tidak lupa dia meyiapkan air panas di termos yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Karena situasi rumah yang tidak kondusif, membuat Andra memilih untuk membawa Zaskia bersamanya. Dia tak tau kapan Ibunya akan keluar kamar hari ini.


Andra segera meraih gendongan kangguru dan meraih Zaskia yang tertidur. Dia terkejut ketika jemarinya merasakan suhu panas di tubuh Zaskia.


"Astaghfirullah, Nak ... Kamu kenapa nak?" ucap Andra menggoyangkan tubuh lemas Zaskia.


Melihat Zaskia yang tidak segera merespon membuat Andra semakin panik dan segera berangkat ke rumah sakit.


Dia naik ke motor dan menyelimuti Zaskia dengan selimut tebal. Dia melajukan motor dengan kecepatan kilat, sesekali dia menepuk pipi Zaskia yang mulai memerah akibat suhu badan yang panas.


Setelah sampai, Andra segera membawa Zaskia ke ruang UGD untuk di beri penanganan. Entah mengapa setiap dia ke rumah sakit, selalu bertemu dengan orang yang sama.


Sebenarnya Andra sangat sebal, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk merespon ego negatifnya. Zaskia butuh perawatan secepatnya.


"Zaskia kenapa Ndra?" tanya Faisal.


"Udah periksa aja, repot banget." ucap Andra yang tak bisa menutupi emosinya


"Menurut lo gue cenayang yang bisa nebak sakitnya Zaskia," ucap Faisal nggak kalah sewot.


"Udah, udah pada keluar sana! Zaskia biar gue yang urus." ucap Laras, teman dekat Nada.


Faisal dan Andra segera keluar ruangan dan membiarkan perawat lain untuk memeriksa Zaskia. Setelah memastikan Zaskia aman, Andra segera menuju ruangan Alif.


Langkanya lunglai setelah melihat ruangan Alif tertutup rapat, dan meninggalkan Nada di luar dengan menangis sesenggukan.


Dengan langkah berat Andra mendekati Nada,


"Mas, Alif Mas ..." ucap Nada histeris.


"Udah, Mas yakin Alif akan selamat. Kamu juga tau kan Dokter disini sangat hebat," ucap Andra memeluk erat Nada. Mencoba saling menguatkan.


Beberapa saat lalu Nada Mengabarkan kondisi Alif yang menurun, detak jantungnya sangat lemah. Saat dia sampai disini, ternyata kondisinya malah semakin parah.


Andra menuntun Nada untuk duduk di kursi, begitupula Andra. Saat ini kekuatannya tak cukup kuat untuk menopang tubuh lemasnya.


Kedua anaknya sedang di rawat, dia benar-benar tak bisa memaafkan dirinya sendiri bila sampai terjadi apapun pada kedua buah hatinya tersebut.


Otak Andra melayang jauh, mencari kalimat yang tepat untuk mengabarkan bagaimana kondisi Zaskia. Karena cepat atau lambat, dia pasti mencari bayi mungilnya tersebut.


Isakan Nada terdengar memilukan, baru kali ini dia mendengar istrinya menangis seperti ini. Berulang kali dia mengecup pucuk kepala Nada, tapi tangisnya tidak kunjung berhenti.


Keduanya terperanjat ketika mendengar suara pintu terbuka, beberapa orang memakai pakaian putih keluar. Salah satu di antaranya adalah Satria.


Nada segera berlari kecil mendekati Satria,


"Dok, bagaimana keadaan Alif. Dia baik-baik saja kan?" Tanya Nada di tengah tangisnya.


Belum sempat Satria menjawab, beberapa suster mendorong ranjang yang berada Alif di atasnya. Seketika Nada hendak mengejar suster, tapi segera di hadang oleh Andra.


"Nad, tenangkan dirimu. Alif baik-baik saja." ucap Andra mendekap erat tubuh mungil Nada.


Karena tenaga Nada yang amat kuat membuat Satria ikut menenangkannya, dia mencengkram erat kedua pundak Nada dan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Agar dia sadar, yang dilakukannya ini malah akan menimbulkan keributan.


"Nad, Alif harus di pindahkan ke ruang ICU, dia butuh perawatan intensif." ucap Satria sedikit meninggi.


"Tapi Dok, anak saya ..." ucap Nada mendadak kehilangan tenaga.


Andra segera menopang tubuh lemas Nada dan menuntunnya untuk duduk kembali,


"Tenanglah Nad, Alif akan baik-baik saja. Aku jamin. Saat ini kondisi jantungnya sedang tidak sehat, jadi dia butuh sedikit ketenangan dan perawatan yang lebih memadai," ucap Satria menjelaskan.


"Saya mohon kalian berdo'a untuk kesembuhan Alif, begitu banyak keajaiban di sini. Jadi jangan patah semangat." ucap Satria kemudian melangkah pergi.


Nada kembali terdiam, tatapannya kosong. Air matanya terus mengalir. Rambutnya berantakan,


"Aku belikan sarapan ya?" tanya Andra lembut.


Masih tak ada jawaban dari Nada, dia masih menatap kosong ke arah lantai rumah sakit. Dengan air mata masih mengalir deras.


"Aku mohon Nad, jangan seperti ini." ucap Andra menghapus air mata Nada yang bercucuran.


"Aku harus bagaimana lagi Nad, maafkan aku ..." ucap Andra sambil berlutut di kaki Nada.


Berulang kali dia mencium jemari Nada yang dia tangkup di tangan besarnya,


"Lakukan apapun padaku Nad, asal kamu jangan seperti ini." ucap Andra dalam isaknya.


Nada tetap tak merespon, nyawanya seakan melayang entah kemana.


"Kekuatan seorang ibu ada pada anaknya, apa yang harus aku lakukan kalau terjadi apa-apa pada putraku?" ucap Nada tanpa ekspresi.


"Bunuh aku Nad, kalau sampai terjadi suatu buruk pada Alif," ucap Andra mantap.


"Bahkan kematian tidak akan mengubah situasi ini," ucap Nada.


Andra duduk di kursi dan bersandar, saat ini dia tak tau lagi harus berbuat apa. Hidupnya berantakan bagai habis di terpa angin ****** beliung.


Faisal melangakah ke arah Andra dan Nada yang sedang duduk di bangku, keduanya tampak lesu dan lemas.


Dia membawa tas punya Andra yang tertinggal di ruang UGD, melihat kedatangan Faisal. Andra menggelengkan kepalanya lirih, semoga saja Faisal mengerti maksudnya.


"Tas Andra ketinggalan," ucap Faisal menyodorkan beberapa tas.


Beda dari biasanya, kehadiran Alif akan di sambut baik oleh Nada. Tapi saat ini ...


"Nad, Lo baik-baik aja kan?" tanya Faisal khawatir.


Nada tetap sibuk dengan lamunannya, tatapan matanya tetap kosong


"Nad, Nada ... Lo nggak kenapa?" tanya Faisal menggoyangkan tubuh lemas Nada.


"Pergi! Aku ingin sendiri." usir Nada singkat.


Tanpa berdebat, Faisal segera melangkah pergi. Tidak lupa dia meraih tangan Andra dan menyeretnya untuk mengikuti langkah Faisal.


Mereka melangkah menuju area parkir, Faisal mendorong keras Andra ke tanah.


"Lo apain Nada hah?!" tanya Faisal mencengkram kuat kerah baju Andra.


"Emang Lo siapanya Nada?" tanya Andra yang juga tersulut emosi.


"Gue adalah orang gila yang dengan bodohnya percaya sama Lo untuk bahagiain Nada. Dan ternyata semua sebaliknya!" ucap Faisal dengan suara lantang.


Andra tertawa lantang seketika mendengar ucapan Faisal,


"Lo suka sama Nada, bilang aja kalau Lo itu pengecut dan lebih memilih jalan aman. Setelah semua hancur Lo datang sok jadi pahlawan." ucap Andra segera berdiri.


"Kalau Lo emang sayang sama Nada, harusnya Lo bisa meyakinkan dia. Bukan mengalah dengan keadaan dan mengkambing hitamkan orang lain." sambung Andra kembali.


Mendengar ucapan Andra, Faisal terdiam sesaat. Amarah yang tadinya melonjak sampai ubun-ubun, kini hilang entah kemana.