Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Kemarahan Alif



"Meriang, mungkin kecapekan," jawab Andra.


"Maaf ya, semalem aku ngerepotin kamu," ucap Kinan.


Mendengar itu, emosi Alif meledak sudah. Meskipun Alif masih usia 6 tahun, tapi dia sudah mengerti semua emosi orang dewasa.


Bundanya yang bersedih setiap malam, Ayahnya yang selalu acuh kepada bundanya. Serta Neneknya yang selalu menghasutnya untuk membenci Nada.


Apa Alif sudah tau kalau dia bukan anak Nada? Jawabannya iya. Alif sudah tau dari lama kalau Nada bukanlah ibu kandungnya, jangan tanya dia dapat informasi dari mana. Siapa lagi kalau bukan dari sang nenek yang baik hati.


Laras membuka fakta demikian agar Alif tidak menyayangi Nada, sehingga tidak ada alasan lagi untuk Andra meninggalkan Nada.


Akan tetapi, semakin di pisah, malah hubungan mereka kian erat saja dari hari ke hari. Awalnya Alif sempat down berat, karena fakta ini.


Kasih sayang tulus Nada yang membuatnya kuat dan selalu berfikir positif, mulai saat itu Alif menjadi ceria kembali sampai detik ini.


"Iya tidak apa-apa, Nada mengerti kok." ucap Andra.


Seketika Alif menumpahkan ice cream yang dia bawa ke wajah Kinan, melihat hal itu Andra reflek menampar Alif.


Dia tak menyangka Alif akan berbuat tidak sopan seperti ini, Andra segera membersihkan wajah Kinan yang kotor akibat Ice cream.


"Kamu kenapa sih?"


"Ayah sudah sabar ya dari tadi, tapi semakin Ayah sadar. Kamu semakin nakal." ucap Andra menunjuk wajah Alif.


"Sudah Ndra nggak pa-pa," ucap Kinan.


Alif hanya melototi Kinan dan Andra bergantian, dadanya kembang kempis menahan emosi. Serta mata yang mulai berkaca.


Andra berjongkok dan mengguncang tubuh mungil Alif, mendesaknya untuk mengatakan apa yang membuatnya seperti ini.


"Ayah jahat!'' ucap Alif berbisik.


"Ayah nggak sayang sama Bunda.''


"Ayah sama Bunda bohongin Alif, Bunda bilang Ayah keluar malam karena beli obat untuk Bunda," ucap Alif menahan Isak.


"Apa!" ucap Andra membatu.


"AKU BENCI AYAH SAMA TANTE KINAN, KALIAN JAHAT SAMA BUNDA!'' pekik Alif kemudian berlari menyusuri terotoar.


Alif berlarian menjauhi Kinan dan Andra yang masih membatu. Andra tidak menyangka Alif akan berpikiran demikian.


Melihat Alif yang berlari semakin jauh membuat Andra segera bangkit dan berlari mengejarnya. Sedangkan Kinan masih duduk termenung di kursi mendengar semua ucapan Alif.


Hingga ...


Brakkk ...


ALIF!!


****


Kepala Nada masih sangat berat, matanya sudah lebih baik. Tidak membengkak seperti tadi pagi, untung di kulkas ada es batu. Sehingga dia bisa mengompres matanya.


Dia tidak bisa membiarkan dirinya terus berbaring di kasur, jadi Nada berinisiatif untuk membeli obat di warung terdekat.


Kalau dia terus-terusan sakit, siapa yang akan membereskan rumah dan memasak. Mertuanya hanya mampu ngomel tanpa perlu mengerjakan pekerjaan rumah.


Dia berusaha bangkit dan melawan rasa pusing dan nyeri di kepala, perlahan Nada melangkah keluar rumah dan berjalan menyusuri jalanan yang penuh krikil tajam.


Jalanan depan rumah Nada memang tidak beraspal, karena lingkungan yang masih di lingkup pedesaan. dengan penuh perjuangan sampailah dia di sebuah warung.


Ada beberapa ibu-ibu yang juga sedang berbelanja, semua orang menatap sengit kedatangan Nada. Bahkan ada yang berbisik, walau lirih. Tapi telinga Nada masih mampu mendengarnya.


Nada tak menghiraukan ucapan mereka yang baginya tidak penting, Nada segera membeli obat dan kembali pulang.


Tidak jauh dia melangkah, ada seorang ibu-ibu yang menyapanya.


"Sudah bangun Nad?" sapa ibu tersebut.


BERSAMBUNG.....