Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Bibit Pelakor



Nada terdiam sesaat, dirinya tak bisa menjawab dengan pasti. Tapi, dia akui bahwa, tadi dia merasakan debaran entah apa itu. Sangat sulit di ungkapkan oleh sebuah kata.


"Saran Gue jangan deh, tadi dia kan udah punya cewek. Masa' iya cantik-cantik jadi pelakor?" ucap Laras.


"Astaghfirullah, kalau ngomong di filter dikit Napa?" ucap Nada memanyunkan bibir.


"Nah tuh kan, udah ada bibit pelakor," ucap Laras bangun dari tidurnya.


"Sorry ye, gue nggak ada cita-cita jadi pelakor," Jawab Nada sinis.


"Bener banget, gue setuju. Yaudah sama si Faisal aja tuh. kasian dia udah ngebet pengen nikah sama Lo," kekeh Laras.


"tauk ah, gelap." ucap Nada kembali fokus ke tulisannya.


Belum sempat Nada menyelesaikan tugasnya, sudah ada keributan di luar. Sepertinya akan ada pasien yang akan masuk, dia segera menyiapkan kasur.


Laras langsung melompat turun dari kasur dan segera merapikannya, tak selang berapa detik kemudian. Pintu UGD terbuka lebar, ada 2 orang pasien yang di bawa masuk ke dalam ruang UGD, satu pria dan satu wanita.


Nada mengarahkan petugas ambulance untuk menaruh pasien di tempat tidur yang sudah di siapkan, dan segera menutup kelambu putih yang tergantung.


Nada menoleh ke pasien yang akan di rawatnya. Seketika Nada terbelalak melihat seorang yang terbaring lemas di hadapannya, tiba-tiba dunianya berhenti sesaat. Dia tak menyangka akan di pertemukan kembali dengan cara seperti ini.


"Heh, malah bengong. pasien gawat ini," ucap Laras segera mengecek detak jantung pasien.


Nada yang sadar dari lamunannya segera mengambil beberapa kapas, untuk membersihkan cairan merah yang membasahi sebagian wajah pasien.


Terlihat jelas kalau pasien mengalami kecelakaan, sepertinya cukup parah melihat bagian kepala pasien yang mengeluarkan cairan merah yang mengalir.


Di bagian tubuh yang lain juga tergores luka yang cukup dalam, Mereka cukup beruntung karena kondisi fisik masih utuh. Melihat sepertinya kecelakaannya cukup parah.


Laras segera memasang oksigen di kedua pasien, sementara Nada membersihkan luka yang ada di kepala pasien.


Mereka sama-sama kurang mengetahui cara penanganan pasien seperti ini, terutama Nada. Bahkan dia tak pernah merawat pasien, selama ini dia hanya membantu dokter saja.


Nada melangkah mendekati pasien wanita, dia adalah wanita cantik dengan rambut hitam panjang yang terurai. Ada luka benturan di keningnya yang mengalir darah segar.


"Mbak ... mbak bisa denger saya?" tanya Nada sambil membersihkan lukanya.


"Sa-Saya dimana?" ucap wanita tersebut.


Melihat pasien yang sadar membuat Nada tersenyum lega, dia berpindah ke pasien satunya. Yang tergeletak di tempat tidur sebelah.


"Mas ... Mas bisa mendengar saya?" tanya Nada, menatap khawatir.


"Mbak perawat?" ucap pasien lelaki tersebut, matanya melebar ketika melihat Nada yang ada di hadapannya.


"Iya Mas, tahan ya ... sebentar lagi dokter datang," ucap Nada.


Tak lama kemudian, datanglah seorang dokter dan beberapa perawat lain, Nada mundur teratur karena memang ini bukanlah pekerjaannya.


Meskipun ada sedikit rasa khawatir pada salah satu pasien, tapi Nada mencoba netral dan tidak menunjukkannya di depan umum.


Dia hanya dapat membantu membersihkan wajah dan beberapa bagian tubuh pasien yang di penuhi cairan merah kental.


Dokter sedang memeriksa pasien Pria, sementara itu Nada membersihkan luka-luka di pasien wanita. Pasien tersebut masih memejamkan mata,


'Cantik banget,' ucap Nada mengagumi pasien tersebut.


BERSAMBUNG.....