Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Cari Siapa Mbak?



Happy reading...


Jam menunjukkan pukul 4 pagi, Nada mengucek matanya. Perlahan dia melebarkan mata dan menatap seorang yang tertidur di sampingnya.


Seorang yang menjadi tempat sandarannya selama ini, selalu menemaninya saat dirinya terpuruk. Selalu mendukungnya di saat dia terjatuh.


Nada membelai lembut pipi seorang tersebut.


"Terimakasih mas," ucap Nada lirih.


"Sama-sama," jawab Andra.


"Sudah bangun?" ucap Nada terkejut, karena biasanya Andra akan bangun saat matahari sudah sangat tinggi.


"Tumben," ucap Nada bangun dari tidurnya.


Andra menarik tangan Nada, hingga Nada jatuh ke dada Andra. Mereka saling bertatapan, Andra memutar posisinya. Kini Nada berbaring dengan Andar di hadapannya.


"Aku yang barunya berterimakasih kepadamu," ucap Andra parau.


"Kamu udah berusaha mas, aku tak pernah meminta lebih. Cukup jaga hatimu untukku," ucap Nada lirih.


"Maaf," ucap Andra berbisik di telinga Nada.


Hembusan nafas Andra membuat Nada terjingkat geli, Andra semakin menyondongkan wajahnya ke tengkuk Nada. Rasa geli berubah menjadi rasa nyaman yang menuntut lebih.


Lengan Nada melingkar indah di bahu lebar Andra, seketika kecupan Andra mendarat lembut di tengkuk Nada dan semakin naik ke telinga.


Terdengar lenguhan indah dari bibir tipis Nada,


"Aku mau menagih janjiku tadi malam, maaf ya kalau nanti kamu harus lebih capek dari kemarin," ucap Andra berbisik.


Hembusan nafas hangat Andra, menghangatkan suasana pagi dingin ini. Nada semakin mempererat pelukannya.


Andra memposisikan tubuhnya di atas Nada, dan mulai menutupi tubuh mereka dengan selimut. Kecupan Andra bermain ganas di bibir Nada hingga semakin menurun.


Tubuh Nada menggeliat saat sentuhan Andra bermain indah di bagian sensitifnya, lenguhan panjang terdengar begitu merdu di Indra pendengaran Andra.


Nada sudah merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian tubuhnya. Kepala Andra keluar dari selimut. Nada menatap lekat lelaki yang amat dia cintai itu.


"Janji, tetaplah seperti ini,'' ucap Nada menatap sayu mata Andra.


Nada merangkul leher Andra dan menariknya mendekat, dan mendaratkan kecupan mesra di bibirnya.


Melihat Nada mulai pasrah, dirinya segera memasang pose tempurnya, hingga pusakanya perlahan tenggelam di lubang surga.


Lenguhan panjang semakin memacu nyali Andra untuk menekan lebih dalam pusakanya.


Terdengar ketukan pintu dari luar, Andra segera menutup mulut Nada dan menggelengkan kepalanya. Dia tau di jam seperti ini Laras selalu menyuruh Nada untuk bangun dan melakukan segala kegiatan.


"Fokus padaku, urusan ibu biar aku yang mengatasi," ucap Andra sebal.


"Ta-tapi," ucap Nada terpotong, karena menerima hentakan yang lebih keras dari pada sebelumya.


"Kau sudah cukup sabar sayang, sekarang biarkan dia yang bersabar," ucap Andra di tengah aktifitasnya.


Terdengar gerutuan Laras di luar, dan kemudian menghilang. Mungkin saat ini Laras sudah kembali tertidur. Hal ini yang membuat Andra geram dengan sang ibu.


Dia sudah seperti alarm bagi Nada, saat Nada terbangun. Dia malah kembali tidur, dan kadang karena gedoaran pintunya yang cukup keras membuat Zaskia terbangun.


Hal itu membuat Nada semakin repot, dia memasak dan beres-beres rumah. Sedangkan Zaskia yang lebih dari aktif selalu mengacak-acak dapur Nada.


Untungnya Nada cekatan, jadi dia bisa mengatur sedemikian rupa sehingga semua tersiap dengan telat waktu.


Nada dan Andra telah selesai dengan aktifitasnya, Nada merapikan bajunya dan mulai beranjak. Sayangnya, tangan Nada kembali di tarik.


"Sekali lagi yuk!'' rengek Andra.


"Oke," ucap Andra bersemangat.


"Dasar nakal banget, udah sana aku mau masak," ucap Nada mencubit perut Andra dan segera bangkit.


Jam menunjukkan Pukul 4.30 Nada segera bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, dia segera menunaikan ibadah Shalat subuh.


Untungnya Zaskia tidak terbangun, padahal olahraganya tadi cukup heboh. Nada segera masuk ke dapur dan membuka kulkas.


Sebenarnya, masih banyak lauk yang tersisa di kulkas. Akan tetapi, Nada tidak berani menyentuhnya. Dia tak mau mematik api di rumah ini


Sehingga Nada lebih memilih mengambil sepotong tempe dan satu ikat bayam. Nada mulai menyalakan kompor dan memasang panci yang berisi air.


Sementara menunggu air mendidih, Nada mencuci beras dan menaruhnya di rice cooker. Setelah beras beres, nada mulai menyiangi Sayur bayam dan beberapa bumbu lainnya.


Setelah semua selesai, di saat bersamaan, air mendidih. Nada memasukkan bumbu. Sambil menunggu bumbu matang, Nada memasang Wajah yang berisi minyak di kompor sebelah.


Beginilah keseharian Nada, di samping itu Nada selalu menyempatkan untuk beres-beres dapur. Jadi saat selesai masak, dapur tetap bersih.


Sambil menunggu semua masakan matang, Nada memasukkan beberapa potong pakaian kotor ke mesin cuci.


Belum selesai aktifitas dapurnya, terdengar tangisan Zaskia. Nada segera berlarian menuju kamar. Tampak Zaskia yang sudah merangkak sampai didekat pintu.


Kasur Nada ada di bawah, tak ada ranjang di kamar Nada. Sehingga sangat aman untuk Zaskia. Nada segera meraih Zaskia dan menggendongnya.


Di sela kesibukannya, dia di kejutkan oleh suara Laras yang sudah berdiri di belakangnya.


"Oh, pantes nggak jawab." ucap Laras menatap Nada dari atas sampai bawah, dan menatap lekat rambut basah Nada yang terurai.


"Kenapa Bu?" tanya Andra.


"Tumben udah bangun?" tanya Laras terkejut, dan mencoba memalingkan topik pembicaraan.


"Nanti anterin ibu ke warungnya Kinanti," ucap Laras, sambil melempar pandangan ke Nada.


"Ngapain sih ibu selalu kesana?" tanya Andra sebal.


"Disana ibu kan bisa makan enak, nggak kaya disini," ucap Laras sambil membuang pandangannya.


"Cukup Ibu! Ibu nggak boleh seperti itu, memang Kinan yang ngurusin ibu saat ini sakit, terus Kinan yang beresin kamar ibu, lalu Kinan ..." ucap Andra terputus.


"Pokoknya ibu ingin kesana, kalau nggak mau ibu bisa pergi sendiri. gitu aja ribet." ucap Laras sambil melangkah memasuki kamar.


Karena Zaskia sedikit rewel, Nada tak menghiraukan ucapan Laras. Nada membawa zaskia kembali ke kamar dan menidukannya.


Sementara Andra mulai bersiap-siap untuk berangkat bekerja, Beberapa saat kemudian saat Zaskia sudah tertidur kembali.


Nada menyiapkan makanan di meja makan, pagi ini tak ada drama yang membuat kepala pening. Semua makan dengan tertib, begitupun Alif.


Alif memakan sarapannya sendiri dan tak pernah rewel. Laras pun juga, biasanya selalu protes, tapi pagi ini dia makan dengan tenang.


Nada menatap Andra yang sedari tadi masih fokus dengan sarapannya, mungkinkah ini ulah Andra? tapi sebelumya. Meskipun Andra marah, Laras juga tak pernah menggubrisnya.


Hingga ...


"Assalamualaikum," terdengar suara wanita dari luar.


Seketika Nada melangkah untuk membuka pintu, Nada terbelalak ketika melihat paras cantik yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Cari siapa mbak?"


"Mas Andranya, ada?"


Bersambung....