
Nada duduk di kamarnya, aroma mie goreng pedas di tambah geprekan kencur menambah aroma wangi segar pada mie instan buatannya.
Dia mulai menggeser layar ponselnya, banyak sekali notifikasi panggilan masuk beserta ratusan chat. Dan masih lada nomor yang sama.
Nada tidak mempedulikan hal yang merusak Moodnya, yang dia butuh hanya quality time untuknya. Karena beberapa jam kemudian, moodnya harus membaik untuk kedua anaknya.
Dia mulai menyeruput mie pedasnya, tak terasa air matanya kembali turun. Bahkan lebih deras dari pada semalam.
Dia teringat akan makan malam yang di penuhi canda tawa bersama Andra, ya ... setiap malam Andra kan selalu mengganggu tidur Nada.
Dirinya selalu lapar di jam malam, dan Nada dengan senang hati membuatkannya sebuah makanan. Yang paling sering adalah Nasi goreng rumahan dengan bumbu seadanya.
Mengingat indahnya momen itu, dan saat ini sangat berbanding terbalik. Membuat dada Nada kian sesak. Dia tak mampu membendung semua air matanya.
"Mas, kenapa kamu jahat banget sih?" ucap Nada lirih.
"Meskipun ibumu bertindak seenaknya, tapi aku nggak pernah sekalipun menyimpan dendam untuknya."
"Tak pernah aku koar-koar kesana-kemari untuk menjelaskan semuanya ke tetangga."
"Aku tidak pernah menuntutnya dengan segala hal di luar batas kemampuanmu Mas.''
"Kenapa kamu tega banget sama aku?''
Nada bermonolog, air matanya tidak mampu dia tahan lagi. Pecahan hatinya yang kesekian kali dia tata, kali ini remuk sudah. Tak ada sisa hati yang bisa di perbaiki lagi.
Nada memutuskan untuk tetap memakan mienya, dia tak mau keesokan harinya sakit. Dia harus berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Belum selesai dengan makannya, ponsel Nada bergetar. Sejujurnya dia masih enggan untuk menjawabnya, tapi ponsel itu terus bergetar tanpa henti.
Nada melempar pandangannya ke ponselnya, anehnya tak ada nama Andra yang tertera. Melainkan satu nama yang bahkan tidak pernah menghubunginya.
Moodnya saat ini masih sangat kacau, Nada lebih memilih bungkam dan berusaha menikmati mie pedasnya.
Tak selang berapa lama, tepat di pukul 3 pagi. Pintu kamar Nada terbuka, Andra masuk dengan wajah sedih, tak ada obrolan bahkan menyapa Nada yang saat itu berada tepat di hadapannya.
Suasana nyaman di dalam kamar berubah menjadi engap saat kedatangan Andra, Nada memutuskan untuk keluar kamar, untuk menghindari pertengkaran lagi.
"Mau kemana?" tanya Andra tanpa eskpresi.
"Masak," jawab Nada singkat
"Di jam segini?" tanya Andra lagi.
"Lalu aku harus ngapain dong? Melayani mu yang tentunya sudah di layani oleh wanita di luar sana?" ucap Nada masih membelakangi Andra.
Air mata yang sudah susah payah Nada tahan kini terjun kembali, mata yang tadinya bengkak dan sulit di buka menjadi sangat perih.
"Aku juga minta tolong, hargai aku. Aku juga punya perasaan, apakah aku salah kalau marah dan cemburu.''
"Sekali saja, coba Mas memposisikan jadi aku. Penuh tekankan setiap hari, dan parahnya harus sabar saat suaminya tidur dengan wanita lain. Bayangkan kalau aku yang tidur dengan pria lain, bayangkan kalau tubuhku di jamah pria lain. Di nikmati pria lain ...." ucap Nada, kemudian menghela nafas panjang.
"Astagfirullah, Nada!'' ucap Andra melengking.
Nada memutar tubuhnya dan melangakah mendekati Andra yang masih berdiri. Mata Nada yang bulat berubah menjadi sipit. Bibirnya tak berhenti bergetar.
"Apa ... sekarang aku harus berpikir bagaimana? Coba Jelaskan, hal apa yang kurang aku mengerti di rumah ini," ucap Nada di dalam isaknya.
Andra melangkah mendekati Nada, tangannya melebar hendak memeluk Nada. Akan tetapi segera di tepis oleh-nya.
"Aku tidak suka ada bau wanita lain di tubuhku," ucap Nada memalingkan tubuhnya.
"Istirahatlah, bukankah kau sangat lelah. Sudah melewati malam yang panjang," ucap Nada melangkah keluar kamar.
Tubuh Nada serasa lemas, mie pedas yang biasanya mampu memulihkan moodnya, nyatanya malah nihil. Dia memutuskan untuk mandi, siapa tau dengan ini. Wajahnya yang berantakan akan kembali segar.
Nada melangakahkan memasuki kamar mandi, satu persatu kain yang membalut tubuh lemahnya dia buka. Dia duduk di kran yang dia alirkan.
Perlahan Nada memejamkan matanya, mencoba menyembuhkan luka hatinya sendiri. Satu persatu bayangannya saat pertama bertemu Andra terputar, bagai memori indah yang terulang kembali.
Akan tetapi, semakin lama Nada memejamkan mata gambaran yang awalnya indah. Mendadak jadi menyakitkan.
Perlahan dia membuka matanya, aliran air masih membasahi tubuhnya. Dia memutuskan untuk segera mandi dan bergegas menyiapkan sarapan Alif dan Zaskia.
Nada membalut tubuh lemahnya dengan handuk yang memang sudah tergantung di kamar mandi, perlahan dia melangkah menuju kamarnya.
Masih ada Andra yang duduk di kasur, dia duduk termenung dengan tatapan kosong menatap kedua anaknya.
Nada tak mempedulikannya, dia menatap jam dinding. Rasa terkejut menyelimuti hatinya saat dilihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi.
Ternyata dirinya cukup lama di kamar mandi, dia melangkah menuju lemari dan mengambil baju dan memakainya. Dia duduk bersila di hadapan kaca sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Andra melempar pandangannya ke Nada, begitu banyak hal yang ingin di sampaikan. Tapi Andra masih ragu untuk mengatakannya.
"Bunda sudah mandi?" tanya Alif yang baru membuka mata.
"Perut bunda sudah sembuh?" tanya Alif kembali.
BERSAMBUNG....