Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Alif Kecelakaan



Nada hanya menganggukkan kepalanya lirih dan melanjutkan perjalannya. Dia sudah terbiasa di perlakukan demikian. Nada sudah terbiasa dengan ucapan


"Baru bangun yaa?''


"Enak yaa.''


"Main hp mulu.''


Dan masih banyak lagi. Bagi Nada keluarganya adalah nomor satu. Selama Andra masih tidak berkata demikian, Nada akan tetap berdiri kokoh disini.


Akan tetapi, keadaan berkata lain. Andra tidak pernah mengucapkan ucapan yang menyayat hati. Tapi malah langsung bertindak yang membuat hatinya hancur lebur.


Nada menyusuri jalanan yang penuh krikil, langkahnya sedikit terseret karena rasa pusing semakin menyerang kepalanya.


Sampai ada seorang yang memanggil Nada dari belakang, karena suara tersebut seperti suara lelaki. Nada tak mempedulikannya, dia terus melanjutkan jalannya.


"Nad, ayo ikut gue!'' ucap Faisal.


"Loh, Sal, gue kira siapa," ucap Nada.


"Ayo cepet naik!" titah Faisal dengan wajah khawatir.


Sebelumnya Andra sangat cemburu dengannya, itu yang membuat Nada tak kunjung naik ke motor Faisal.


"Mau kemana?" tanya Nada.


"Alif tadi sakit di sekolah, jadi dia sekarang di rumah sakit nyari kamu," ucap Faisal berdusta.


Jangan tanya kenapa Faisal bohong, melihat kondisi Nada seperti ini. Pasti dia akan syok bila tau apa yang terjadi sebenarnya.


Tanpa buang waktu lagi Nada segera naik ke motor Faisal dan menuju rumahnya.


"Ke Rumah gue dulu," ucap Nada.


"Kenapa pulang dulu, mau ngambil Zaskia. Gue khawatir." ucap Faisal.


"Biar sama Bu Laras dulu aja, di rumah sakit nggak boleh bawa anak kecil kan?'' lanjut Faisal lagi.


"Yaudah, gue berangkat sendiri. Tolong jagain Alif bentar," ucap Nada tak mau di bantah.


Astaghfirullah, andai saja Nada tau apa yang sebenarnya terjadi. Pasti dia tidak akan melakukan hal ini.


Faisal menuruti permintaan Nada dan segera memutar motornya menuju rumahnya. Nada segera turun dari motor dan masuk kerumah.


Tampak langkah Nada yang sempoyongan, Faisal sudah gemas dan tak mampu menunggu Nada. Dia segera membantu Nada dan masuk ke rumahnya.


Di dalam sudah ada Zaskia yang sedang bermain sendiri, dia menarik-narik kabel kipas angin yang ada di ruang tamu. Dan apa yang neneknya lakukan? Dia sibuk dengan ponselnya


Semua berbanding terbalik dengan info yang dia sebar di luar, pantas saja Nada khawatir meninggalkan Zaskia sendiri di rumah.


Nada segera mengambil perlengkapan Zaskia, dan menggendongnya. Laras masih acuh dengan kedatangan Nada, mungkin dia tidak tau kalau ada Faisal di depan pintu.


Nada segera keluar sambil menggendong Zaskia dan membawa tas berisi beberapa baju ganti, melihat Nada yang sempoyongan membuat Faisal merebut Zaskia dari gendongan Nada.


"Sini biar aku aja yang gendong," ucap Faisal meraih Zaskia dan memakai gendongan depan.


"Sama Om ya, anak cantik." ucap Faisal tersenyum manis ke Zaskia.


Mereka segera melaju menuju rumah sakit, di sepanjang perjalanan jantung Faisal tak berhenti berdegup kencang.


Tangan Nada yang berpegangan erat di jaketnya membuat keringat dinginnya bercucuran, dia tak menyangka bisa merasakan sejenak menjadi Andra.


Sungguh di sayangkan, Andra tidak bisa mengerti seorang wanita sebaik Nada. Ingin rasanya Faisal merebut Nada dari Andra bila melihat perlakuan keluarga Andra ke Nada.


Akan tetapi, seorang wanita seperti Nada pasti tidak akan menerimanya dengan mudah.


"Nad, lo sakit ya?" Tanya Faisal memecah keheningan.


"Iya nih Sal, meriang dari semalem," jawab Nada sambil menahan buliran air mata yang hendak terjun bebas.


"Sakit demam mungkin," jawab Faisal asal.


"Emang panasnya berapa? Sampai di bawa ke rumah sakit?'' tanya Nada bingung.


Faisal lupa kalau wanita yang dia bonceng juga pernah bekerja di dunia medis. Tak mudah untuk membohonginya.


Meskipun Nada merasa aneh, tapi Nada tetap berusaha tenang. Dia selalu berpikiran positif dan menenangkan perasaannya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah sakit, terlihat motor Andra di sana. Entah mengapa perasaan Nada tidak nyaman sesampainya di rumah sakit.


"Alif di mana?" tanya Nada.


"Kita istirahat dulu ya," ucap Faisal menggandeng Nada menuju pintu belakang.


Wajah khawatir Faisal membuat Nada semakin cemas, dia menepis tangan Faisal mencoba melangkah menuju ruang UGD


Biasanya pasien yang akan menunggu penanganan pasti akan di arahkan ke ruang UGD terlebih dahulu. Faisal menghadang langkah Nada.


"Apa yang lo sembunyikan?" tanya Nada dengan mata berkaca.


"Gu-gue nggak membunyikan apapun Nad, tapi kondisi lo masih lemah, kita obatin lo dulu," ucap Faisal.


"Nggak! Gue mau lihat Alif dulu. Dimana dia?" tanya Nada dengan tatapan tajam.


"Yaudah ayo gue antar," ucap Faisal pasrah.


Zaskia masih di gendong oleh Faisal, dia mendekap balita cantik yang tertidur pulas tersebut. Faisal memperlambat langkahnya, sambil mengulur waktu.


Nada yang tidak bisa menunggu terlalu lama, membuat Nada mempercepat langkahnya dan melewati Faisal begitu saja.


Langkahnya terhenti saat tangannya di raih oleh Faisal,


"Janji, lo harus kuat," ucap Faisal lirih.


Nada menepis tangan Faisal dan sedikit berlari kecil menuju ruang UGD, hatinya semakin gelisah saat mendengar Faisal mengungkapkan kata itu.


"Nak, sebenarnya kamu kenapa? Tunggu bunda Alif," ucap Nada lirih.


Langkahnya terhenti saat melihat Andra sedang duduk di samping Kinan, emosi? Iyalah Nada emosi. Dia sedang sakit di rumah malah suaminya bersama wanita lain.


Tapi Nada bisa mengontrol emosinya, dia melangkah mendekati Andra dan Kinan yang sedang duduk di ruang tunggu. Hatinya lebih cemas mengkhawatirkan Alif dari pada kedua orang gila ini.


"Alif kenapa?" tanya Nada.


Andra terkejut ketika melihat kedatangan Nada yang tiba-tiba, Nada tampak khawatir. Matanya mulai berkaca.


"Alif ..." ucap Andra, yang masih ngilu untuk mengatakan kejadian sebenarnya.


"ALIF KENAPA?" teriak Nada lantang.


Andra tetap diam, terlebih Kinan. Dia hanya mampu menundukkan kepala dan tak mampu menatap wajah Nada.


"Alif kecelakaan, dia tertabrak mobil." ucap Andra lirih.


"APA!!" tubuh Nada seketika melemah, dia terkuyung tak mampu menahan berat badannya.


Andra berusaha menolong Nada, akan tetapi segera di tepisnya. Di duduk di kursi tunggu, mencoba menguatkan hatinya.


Kinan yang melihat Nada hampir pingsan, berinisiatif untuk memberikan air mineral. Kinan melangkah dan mendekati Nada untuk menyodorkan sebotol air mineral.


Tapi maaf, Nada bukan wanita sekuat itu menahan emosi. Nada yang sudah memendam emosinya dari jauh hari, semakin meledak melihat Kinan yang berdiri di hadapannya.


Seperti botol soda yang dikocok kemudian di buka tutupnya, seperti itulah emosi Nada sekarang. Dia mendongakkan kepala dan menatap paras cantik yang tersenyum ramah ke arahnya.


Nada beranjak dari kursinya, dia berdiri tepat di hadapan Kinan.


Bersambung....