Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Anak Yang Kuat



Andra terbelalak ketika melihat meja makannya penuh nasi yang berserakan, dia segera menuntun Laras untuk kembali ke kamar dan membereskannya.


Entah mengapa Ibunya bisa bertingkah seperti ini? Dia tau betapa sakit perasaanya, dia hanya tidak menyangka akan menjadi seburuk ini.


Setelah Andra membereskan semua nasi yang berserakan, dia segera menengok ibunya yang berada di kamar


Di dalam kamar, pandangan Laras masih kosong. Sebenarnya dia tidak tega untuk meninggalkan dia sendiri.


Andra memutuskan untuk menyimpan semua benda tajam dan mengamankan semua aliran listrik. Dia khawatir kalau nantinya Laras akan bertindak gegabah.


Setelah semua beres, Andra masuk kembali ke kamar dan memeluk erat Laras. Tidak lupa dia mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala dan kening Laras.


Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah sakit dimana Zaskia dan Alif dirawat. Nada sedang sibuk menyuapi Putri kecilnya.


Mereka duduk di taman rumah sakit, disana dia melihat beberapa bunga warna-warni yang menghiasi taman rumah sakit. Di tengahnya juga terdapat beberapa tumpuk air mancur.


Melihat pemandangan indah ini, Zaskia sangat senang dan tanpa terasa sarapannya telah berpindah di perut mungilnya.


Nada menggendong Zaskia untuk kembali ke kamarnya, dan kemudian memberikan beberapa.sendok obat sesuai anjuran dokter.


Saat ini Zaskia sudah mulai aktif, wajahnya sudah tidak pucat lagi seperti sebelumnya. Karena pengaruh obat, Zaskia merasa mengantuk. Tak membutuhkan waktu lama dirinya tertidur pulas.


Melihat putrinya yang sudah terlelap Nada segera bergegas melangkah keluar ruangan. Dia ingin menengok putranya.


Beberapa hari ini dia sudah tak melihat putranya dan tidak mendengar kabarnya, dengan langkah terburu-buru Nada melewati beberapa orang berlalu lalang.


Hingga tanpa dia sadari dia menabrak seorang dokter,


"Maaf Dok," ucap Nada mendongakkan wajahnya.


"Nada?" jawab Dokter tersebut dengan memamerkan senyuman ramahnya.


"Dokter Satria," sapa Nada dengan membalas senyuman tak kalah ramah.


"Mau kemana? buru-buru amat," tanya dokter Satria ramah.


"Mau menengok Alif," jawab Nada singkat.


Mendengar ucapan Nada membuat Satria membatu sesaat. Dia lupa kalau tidak memberi kenyataan pahit untuk Nada.


Wajah Satria yang semula ramah dan teduh, menjadi suram. Tampak raut wajah khawatir yang terpancar jelas.


"Bisa temani aku sarapan sebentar?" tanya Satria sopan.


Melihat raut wajah Satria yang berubah drastis membuat Nada curiga, sepertinya putranya saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Semoga saja ini hanya angannya dan tidak menjadi kenyataan, hidupnya akan runtuh seketika bila terjadi sesuatu hal buruk pada Alif.


"Baik Dok, mari." ucap Nada mengangguk lirih.


Satria melangkah menuju kantin rumah sakit, dia memesan 2 porsi nasi pecel beserta teh hangat. Perutnya sudah keroncongan karena beberapa oprasi semalam.


Tak ada obrolan. Keduanya sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing, Nada yang berusaha tegar dengan semua kabar yang akan di sampaikan Satria.


Sedangkan Satria, dia berusaha merangkai sebuah kalimat agar kabarnya tidak terlalu menyiksa Nada saat dia mendengarnya.


Mulut Satria terbuka mengatup mencoba memberi kabar yang harus di ketahui Nada tentang anaknya.


"Tadi malam Alif kritis," ucap Satria lirih.


Nada mencengkram ujung bajunya, mencoba untuk baik-baik saja dan tidak meneteskan air mata. Walau saat ini matanya mulai memanas.


Seketika jantung Nada bagai rollercoaster yang melesat tinggi dan terjun kebawah dengan kecepatan tinggi.


"Syukurlah," ucap Nada menghela nafas panjang.


Satria tersenyum perih menatap Nada, padahal dia adalah seorang gadis yang sangat baik. Kenapa coba'anya begitu berliku-liku? Andai saja dia dapat menolong, pasti Satria tidak akan membuang waktu lagi.


Sayangnya dia hanya dapat membantu seperti ini, berusaha menolong anaknya dengan sekuat tenaga. Dan selalu standby saat dia membutuhkannya.


"Tapi Nad, akan sangat sulit bagi Alif untuk kedepannya. Kita tidak pernah tau kondisi jantungnya yang naik turun," ucap Satria menatap lekat Nada.


Nada mengenal nafas panjang, dia berusaha menenangkan hatinya yang lagi kacau.


"Ya, saya tau Dok. Saat ini saya sedang menunggu keajaiban, saya yakin itu ada." ucap Nada menghapus air matanya yang mulai turun setetes di pipinya.


"Saya dan teman-teman sudah berusaha. Memang benar katamu, kita hanya bisa menunggu keajaiban do'a," ucap Satria.


"Oke kita sarapan dulu. Tenagamu harus diisi untuk menjaga kedua buah hatimu kan? Jadi kau harus makan yang banyak," ucap Dokter Satria memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


Nada hanya mengangguk lirih kemudian melahap seporsi nasi pecel yang sudah Satria pesankan, tak ada obrolan lagi. hanya dentingan sendok yang berbunyi.


Tanpa mereka sadari seorang mengawasi mereka dari jauh, seorang itu hanya berdiri terpaku melihat Nada dan Satria makan bersama.


Tak lama kemudian orang tersebut berbalik dan melangkah menjauh.


"Kau yakin mau lihat kondisi Alif?" tanya Satria kembali.


"Bolehkan dok? hanya sebentar saja." pinta Nada dengan pandangan memohon.


"Tentu, saya antar." ucap Satria.


Setelah sarapan selesai, Nada dan Satria .elamgkah ke ruangan HCU di mana tempat Alif di rawat. Seperti sebelumya, akan ada perawat yang menghadang mereka


Kawasan ini cukup steril, jadi tidak boleh ada sembarangan orang masuk. Tapi semuanya lebih mudah karna ada Satria saat ini.


Dia melangkah masuk di ikuti oleh Nada yang melangkah di belakangnya. Semua perawat hanya menatap Nada dan melewatinya begitu saja.


Langkah demi langkah akhirnya mereka sampai di sebuah kasur yang di tutupi kelambu berwarna hijau. hanya terdengar mesin pendeteksi jantung dari dalam.


Awalnya Nada enggan, namun dirinya terlalu rindu dengan putranya sehingga dia memilih untuk seger membuka kelambu tersebut.


Tampak seorang anak sedang terlelap, matanya masih tertutup rapat dengan dada yang kembang kempis begitu pelan.


Banyak alat medis yang terpasang di tubuh anak tersebut, raga yang mulai kurus kering membuat Nada tak kuasa menahan kesedihannya.


Matanya memanas, kakinya mendadak lunglai tak dapat memompa berat badannya yang lumayan ringan.


"Semua akan baik-baik saja, saya percaya Alif akan kuat sampai akhir." ucap Satria memeluk pundak Nada.


"Ya dok, saya juga yakin kalau Dia pasti bisa melewati semua ini. Dia adalah anak yang kuat," jawab Nada dengan menahan isakan.


Nada melangakah mendekati Alif yang tertidur pulas dan membungkukkan tubuhnya, dia melihat dengan seksama wajah yang kian hari. semakin pucat.


"Bunda akan menunggu kamu Kak, kamu nggak akan pernah ninggalin bunda. iya kan?" ucap Nada bermonolog.


"Bunda sayang banget sama kamu, janji kita akan main-main setelah kamu sembuh. Bunda akan memberi sepatu yang sangat keren untukmu," Nada kembali bermonolog.


Nada mengecup jemari dan kening Alif, kemudian berbalik. Tanpa dia sadari jemari telunjuk Alif bergoyang.