Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Lo Beneran Suka sama dia?



Nada sedang duduk di mejanya, dia sedang mencatat data pasien yang masuk dan beberapa obat yang akan di berikan.


Hari ini pasien persalinan cukup banyak dan yang tentunya melelahkan, bahkan Nada harus lembur karena rumah sakit ini kekurangan suster.


"Istirahat dulu guys, serius amat," ucap Faisal.


Faisal menaruh segelas kopi panas di meja Nada dan duduk di hadapannya, tangannya menopang wajah tampannya.


Nada tersenyum kecil dan ikut menopang wajahnya dengan tangan satunya.


"Thanks honey bunny sweety," ucap Nada menahan tawa.


Faisal melengos, wajahnya seketika berubah menjadi masam. Entah mengapa dia sangat sebal bila Nada mengucapkan itu padanya.


"Kebiasaan, baper kan gue." ucap Faisal.


"Idih, Mas Ical ngambek ya," ucap Nada semakin memajukan wajahnya dan mencubit pipi Faisal.


Faisal juga perawat disini, dia sering membantu Nada dalam bertugas. Mereka sudah berteman sejak lama, jadi kedekatan mereka tidak di anggap serius dengan teman-temannya.


Tiba-tiba datang seorang perawat, dia merebahkan tubuhnya di bed untuk pasien. Terdengar helaan nafas panjang darinya, sepertinya dia cukup lelah.


Nada saat ini ada di ruang periksa, jadi di sampingnya ada 2 bed yang memang khusus untuk pasien yang akan di periksa sebelum di bawa ke ruang bersalin.


"Duh, capek banget gue. Berasa jadi Elsa," keluh Laras.


"Dah ganti Lo sama sal," ucap Laras lagi melempar pandanganya ke Faisal.


"Lah, Lo ganggu orang lagi usaha aja," ucap Faisal melempar sarung tangan putih yang terbuat dari karet ke Laras.


"Ye ... usaha dari dulu sampek sekarang tetep stuck, udah sama gue aja," kekeh Laras.


"Haduh, efek pandemi mungkin ya. Jadi banyak yang beranak Pinak," keluh Laras lagi.


Nada hanya tersenyum kecil mendengar ocehan Laras, wajar kalau Laras mengeluh. Dirinya sudah bertugas dari pagi sampai siang hari, entah hari ini hari apa, sampai pasien melahirkan datang dan pergi.


Di ruang oprasi ada 7 orang yang sudah mengantri untuk persalinan, sedang di rumah bersalin ada 3 orang. Belum lagi di ruang rawat, karena ruang persalinan masih full, 5 orang lainnya di bawa ke ruang rawat untuk menunggu pembukaan.


Jangan tanya bagaimana sibuknya para perawat, mereka berlarian kesana-kemari mengambil beberapa obat. Sampai pihak akutansi pun ikut membantu para perawat untuk sekedar membawakan beberapa obat.


Sedang Nada bertugas mencatat semua pasien masuk, tindakan, dan beberapa obat yang telah di berikan. Matanya sampai lelah menatap deretan angka dan huruf di hadapannya.


"Apalagi di ruang bersalin, Masyaallah. Sudah kaya orang konser," ucap Laras sambil menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih.


"Hust, Lo tuh! Kan belom ngerasain, coba aja ..." ucap Nada melempar senyum.


"Enak aja, besok gue kalau lahiran diem aja kok. Nggak bakalan gue teriak-teriak, bikinnya aja diem-dieman. Paling juga ..." ucapan Laras terhenti saat sebuah pulpen mendarat tepat di wajahnya


"Udah ya, jangan ngeres. Lama-lama gue sawanan gegara berteman sama lo." ucap Nada membuang wajahnya.


Di antara perawat yang lain, memang Laras yang paling berpengalaman di bidang seperti ini. Dia sudah menikah kurang lebih 3 tahun, berkat suaminya yang mengizinkannya masih berkerja dan dirinya belum juga di karuniai seorang momongan, membuatnya bebas lembur. Seperti saat ini.


Banyak teman-teman Nada yang belum menikah, rata-rata kalau mereka sudah menikah akan risen. Alasannya, mayoritas tidak dapat izin dari suaminya.


Sebab itu Nada selalu berdo'a agar kelak, dia bisa memiliki seorang suami yang bisa menerima keadaan dan cita-citanya.


Nada sudah bersusah payah untuk belajar di bidang ini, bahkan harus berjuang keras untuk ada di titik ini. Walaupun hanya perawat biasa.


"Lo beneran suka sama tuh mas warung?" tanya Laras spontan.


BERSAMBUNG....